Rubrik

gaya hidup > kehidupan > Menangkal Ajal Arsip Film


Menangkal Ajal Arsip Film

Pengelolaan arsip film terpencar di sejumlah lembaga, dengan beragam nasib. Ada yang hancur, seperti nasib arsip film yang tersimpan di Perum Produksi Film Negara. Ada pula yang tersimpan rapi dan aman dan digitalisasi. Namun, sebagian besar tak terakses sehingga tak diketahui isinya.

Foto-foto pelaku industri film masa lalu dipamerkan sebagai seni instalasi pada Pameran Lab Laba-laba dan PFN di bekas Gedung Produksi Film PFN di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta.
foto-foto: Kompas/Riza Fathoni Foto-foto pelaku industri film masa lalu dipamerkan sebagai seni instalasi pada Pameran Lab Laba-laba dan PFN di bekas Gedung Produksi Film PFN di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta.

Firdaus (44) pamit kepada Budi Ismanto (39) untuk keluar ruangan sesaat. Napasnya mulai sesak setelah sekian jam menghirup trichloroethane (TCE) yang menguar saat dia membersihkan negatif ataupun positif film. Belum lagi aroma asam asetat dari emulsi film yang rusak.

Ruangan itu dipenuhi aroma asam asetat dan TCE. Berada di sana beberapa menit saja, hidup seperti habis menghirup alkohol. Inilah antara lain beban yang dirasakan baik oleh Firdaus maupun Budi sebagai petugas pembersih ribuan film koleksi Sinematek Indonesia Usmar Ismail. Sejak pukul sembilan pagi hingga menjelang magrib, mereka telaten membersihkan puluhan ribu meter film itu inci demi inci. Film-film yang mereka bersihkan diproduksi sejak tahun 1935 hingga tahun 2011.

Banyak di antara film itu yang emulsinya luntur dan berbahaya. Pada Kamis (16/4) sore, Firdaus dan Budi baru saja rampung membersihkan salah satu rel film negatif sepanjang 1.000 kaki yang berisi sound film Anak Perawan di Sarang Penyamun yang dirilis tahun 1962.

"Kalau sudah sesak napas ya kami mendekat ke pohon agar napas segar. Bagusnya sih pakai tabung oksigen, tapi kami gak punya he-he-he," kata Firdaus, satu-satunya pegawai pembersih film yang mengandalkan masker seharga Rp 1.500 per lembar untuk melindunginya dari uap TCE ataupun asam asetat.

Firdaus rajin minum susu kental manis minimal sehari sekali untuk menangkal ekses racun itu. Namun, Firdaus tahu, susu kental manis yang diminum seniornya, Tukino (51), gagal mencegah vlek pada paru-paru.

Nasib malang

Sisi gelap yang dialami para kerani menggenapi kisah malangnya arsip film di Indonesia. Perawatan 3.000 film koleksi Sinematek Indonesia jauh dari ideal. Idealnya, film-film itu disimpan di dalam gudang dengan suhu 9 derajat celsius sampai 10 derajat celsius dan kelembaban 40 sampai 60 persen. Namun karena perawatan gedung yang kurang bagus, kadang suhunya naik hingga 16 derajat celsius dan kelembaban 68 persen. Kondisi ini dapat memicu kerusakan 30 persen koleksi Sinematek Indonesia.

Kepala Sinematek Indonesia Adi Surya Abdi mengungkapkan, biaya untuk perawatan idealnya Rp 20 juta sebulan, tetapi saat ini hanya ada setengahnya. "Perawatan terfokus kepada pemeliharaan film yang rusak," kata Adi. Film dalam keadaan bagus, dicek enam bulan sekali, tanpa diurai ulang dengan alat pemutar. Sementara yang rusak minimal dirawat tiga bulan sekali.

Gara-gara mesin pemutar (rewinder) listrik rusak, Firdaus dibantu Budi yang sejatinya pengarsip poster film hanya mampu merawat dua judul film per hari. Semuanya dikerjakan dengan rewinder yang diengkol tangan. Keberuntungan utama film koleksi Sinematek Indonesia adalah tiap isinya yang dikenali dan terkatalog.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), lembaga resmi negara yang menangani pengarsipan berbagai jenis dokumen negara, memang memiliki fasilitas pengelolaan arsip audio-visual dan film yang lebih mumpuni. Direktur Preservasi ANRI, Kandar, menyebut ANRI mengelola 1,7 juta arsip yang terkategori sebagai "arsip media baru" dari banyak lembaga, termasuk Perum Produksi Film Negara (PFN) dan TVRI.

Semuanya tersimpan rapi, dijaga oleh para kerani arsip yang tahu bagaimana menangani arsip film dan berbagai media audio-visual lainnya. ANRI memiliki sejumlah alat reproduksi dan pemutar beragam jenis arsip media baru. Namun, keterbatasan tenaga membuat isi arsip-arsip itu tidak terdata dan tidak bisa diakses publik.

"Dalam koleksi arsip media baru terdapat 59.000 reel film, dan 27.000 kaset video, serta 649 keping rekaman optical disc. Di antara reel film itu, kebanyakan reel film Produksi Film Negara yang dibuat antara 1960 dan 1987. Sementara video berbagai format diakuisisi dari TVRI. Akan tetapi, film non-dokumenter tidak menjadi arsip kami," kata Kandar.

Dari jumlah itu, baru 4.429 film yang telah didigitalisasi sehingga bisa diakses publik yang ingin menggunakan arsip itu. Sisanya, sekitar 55.000 reel film, hanya tersimpan rapi dan diperiksa berkala, tanpa bisa diakses publik. Begitu pula nasib 26.000 kaset video, karena video yang telah terdigitalisasi baru mencapai 400 kaset.

"Kendalanya, kami tidak memiliki alat pemutar BCN sehingga tidak bisa mengalih format isi puluhan kaset-kaset BCN TVRI yang telah diserahkan ke ANRI," kata Kandar.

Sampel poster film Bulan di Atas Kuburan yang masih disimpan.
Sampel poster film Bulan di Atas Kuburan yang masih disimpan.
Seni instalasi di bekas Gedung PFN.
Seni instalasi di bekas Gedung PFN.

Repotnya, TVRI sendiri juga tak memiliki alat pemutar kaset format BCN dan U-Matic untuk menonton puluhan ribu kaset dokumentasi siaran sejak yang masih tersimpan di Kantor Pusat TVRI di Jakarta. Suratno, Kepala Seksi Dokumentasi dan Kepustakaan Siaran TVRI, menyebut format BCN dan U-Matic pernah menjadi media utama untuk menyimpan seluruh materi program siaran TVRI.

Akan tetapi, seperti salah urus lain di negara ini, alih teknologi selalu menjadi "perayaan" untuk menyambut teknologi baru. Datangnya alat baru yang lebih canggih seketika menjadi upacara pembuangan perangkat teknologi lama.

"Saat itu, kami tidak terpikir untuk merawat berbagai alat siaran teknologi yang sudah dipakai. Ketika kini kami membutuhkan untuk mengalih-format arsip-arsip kami, alat pemutarnya tak kami miliki lagi. Kami sempat mengalih format 5.000 isi kaset Umatic menjadi DVC-Pro dengan alat pemutar di Bandung. Alat itu kini rusak, dan tak ada stasiun TVRI yang memilikinya. Kini, puluhan ribu kaset jenis BCN dan U-Matic yang mendokumentasi siaran sejak 1990-an tidak bisa diakses karena kami tidak punya alat pemutarnya," kata Suratno.

Digitalisasi arsip TVRI pun tak bisa dilakukan menyeluruh, hanya menjangkau arsip audio-visual yang disimpan dalam format DVC-Pro dan MiniDV, teknologi baru yang alat pemutarnya masih dimiliki TVRI. Ardi Suharyadi, petugas digitalisasi arsip siaran TVRI, menyebut digitalisasi itu baru dimulai pada Desember 2014, dan hingga Rabu (15/4) baru menyelesaikan 360 arsip rekaman program siaran.

Praktis, seluruh layanan pengguna arsip TVRI bertumpu kepada rekaman yang tersimpan dalam DVC-Pro atau MiniDV. "Itu mengapa kami tidak berani menetapkan tarif pelayanan pengguna arsip TVRI. Kami malu, arsip kami berantakan, bahkan kami sendiri tak bisa mengaksesnya, masa mau menetapkan tarif," kata Suratno. Dari sisi pelayanan arsip audio-visual, ANRI memang jauh lebih baik dalam transparansi biaya dan kemudahan pelayanan.

Namun, yang paling mengenaskan memang arsip film PFN. Selama 15 tahun, ribuan reel film negatif (master film) dan film positif (salinan film negatif yang siap diputar di bioskop) hancur gara-gara tersimpan di gudang tanpa pendingin udara, dalam gedung yang lembab karena atap bocor.

Direktur Utama PFN Shelvy Arifin menjelaskan, saat ini ada sekitar 2.000 film di PFN. Sebanyak 800 film sudah ditangani dan dapat diselamatkan, tetapi sisanya masih dalam penanganan. PFN sendiri telah menyerahkan sebanyak 46.000 film milik PFN ke ANRI pada tahun 2000.

Dokumentasi zaman

Edwin, penggerak Komunitas Lab Laba-laba di kompleks PFN, menandaskan, jenis film yang ditemukan rusak di PFN berbeda dari arsip film yang biasanya disimpan ANRI. "Film yang ditemukan dalam Laboratorium PFN, misalnya, hampir semuanya film negatif, yaitu film yang dipakai pembuat film mengabadikan adegan. Film yang siap diputar di bioskop adalah film positif, salinan hasil editing film negatif. Sebagian besar arsip film yang dikelola ANRI adalah salinan film positif siap putar," kata Edwin.

Edwin yang juga pembuat film menyebut arsip film negatif adalah materi terbaik untuk mempelajari sejarah produksi sebuah film, yang bahkan bisa memberi tahu peneliti jenis adegan apa saja yang dibuang oleh seorang pembuat film. Itu mengapa film negatif selalu dianggap materi arsip terpenting bagi produser film-film produksi Miles Films, Mira Lesmana.

"Kami mengirimkan salinan film positif yang siap diputar kepada Sinematek Indonesia. Miles Films juga selalu mengirimkan satu salinan film positif ke Fukuoka City Public Library Film Archive. Di sana, kami bisa menyimpan film tanpa membayar, bahkan dibayar. Mereka menjadi pengaman jika terjadi sesuatu dengan arsip film negatif yang kami simpan sendiri," kata Mira.

Mira menyebut, apa pun jenisnya, bukan sekadar barang seni. "Film juga memberi gambaran situasi sebuah zaman. Film Warkop, misalnya, tidak didokumentasi Sinematek Indonesia. Padahal, film Warkop menyuguhkan kepada kita kebudayaan populer sebuah masa, mulai dari baju, musik, bahasa, semua itu terekam karena film mengabadikan rupa dan suara. Itu mengapa arsip film menjadi penting. Selama cara pandang ini tidak dipahami, arsip film Indonesia akan terus terlupakan, lalu hancur dimakan zaman," kata Mira.

(Mohammad hilmi Faiq/Aryo Wisanggeni G)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 April 2015, di halaman 24 dengan judul "Menangkal Ajal Arsip Film".

    Baca Juga

    • Ekskavasi Sejarah di Pabrik Film Negara

      Perum Produksi Film Negara kini mati suri. Dilupakan. Lembaga ini dulu “dimanfaatkan“ rezim Orde Baru untuk melegitimasi kekuasaan. Ribuan arsip film, benda sejarah yang tak ternilai harganya, hancur.

    • Kemdikbud Bantu Pemeliharaan di Sinematek

      JAKARTA, KOMPAS Direktorat Pembinaan Kesenian ?dan Perfilman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersiap membantu pengelolaan pengarsipan film yang kini disimpan di Si

    • Arsip Film Bisa Musnah

      JAKARTA, KOMPAS Sekitar 20 persen dari 1.500-an arsip film nasional koleksi Sinematek Indonesia dalam kondisi kritis. Arsip film tersebut berkadar asam tinggi, bergelombang, lengket, atau menyusut

    • Film Disimpan di Luar Negeri

      JAKARTA, KOMPAS Sejumlah sutradara dan produser memilih menyimpan master film mereka di luar negeri daripada di Sinematek Indonesia, yang kondisinya memprihatinkan. Hal ini merugikan Indonesia karena

    • Mendikbud: Kemas Keunikan Daerah dalam Film

      SLEMAN, KOMPAS Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta pemerintah daerah menyediakan anggaran khusus untuk mendorong produksi film-film yang mengeksplorasi keunikan setiap daerah.

    • Arsip Film Jadi Referensi

      JAKARTA, KOMPAS Beberapa film berformat konvensional seluloid masih belum terarsipkan dengan baik sehingga sulit untuk dicari. Restorasi dan konversi arsip film ke bentuk digital juga perlu dilakukan

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas