Rubrik

Berani Menjadi Wirausaha


Jajak Pendapat

Berani Menjadi Wirausaha

Kesempatan kerja saat ini masih belum menjanjikan. Tingkat partisipasi angkatan kerja menurun. Jumlah penduduk yang menganggur bertambah 90.000 orang dalam kurun setengah tahun. Masyarakat tidak bisa lagi menunggu pemerintah menyediakan lapangan kerja. Masyarakat harus berani menciptakan lapangan kerja sendiri dan untuk orang lain dengan menjadi wirausaha.

Gilang Hardian mempresentasikan bisnisnya di hadapan dewan juri Wirausaha Muda Mandiri di Jakarta,  Januari lalu. Bank Mandiri mengadakan perlombaan tersebut untuk mendorong pengembangan kewirausahaan di Indonesia, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah.
Kompas/Totok WijayantoGilang Hardian mempresentasikan bisnisnya di hadapan dewan juri Wirausaha Muda Mandiri di Jakarta, Januari lalu. Bank Mandiri mengadakan perlombaan tersebut untuk mendorong pengembangan kewirausahaan di Indonesia, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah.

Ketergantungan terhadap penciptaan lapangan kerja oleh pemerintah harus dikurangi. Masyarakat harus berdaya dan mandiri membuka usaha. Hal itu bukan tanpa alasan. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, dalam setahun terakhir, tingkat partisipasi angkatan kerja turun 0,17 persen.

Jumlah penganggur memang berkurang 2 persen dalam setahun terakhir, yakni dari 7,41 juta orang menjadi 7,24 juta orang. Meski demikian, jumlah penganggur terdidik, yakni lulusan perguruan tinggi, baik D-3 maupun S-1, meningkat. Penganggur lulusan D-3 meningkat 0,19 persen. Sementara penganggur lulusan S-1 meningkat 0,26 persen. Jumlah penganggur terdidik tersebut mencapai 853.000 orang.

Dengan kondisi perekonomian yang belum menjanjikan pertumbuhan tinggi, lapangan kerja yang tersedia untuk kaum terdidik masih suram. Tidak ada cara lain kecuali bekerja mandiri tanpa kenal menyerah. Toh, sudah banyak cerita sukses dari para wirausaha dengan segala jatuh bangunnya. Bangsa ini pun bisa seperti sekarang karena keberanian para pendahulu yang menjadi wirausaha.

Wirausaha terkenal, almarhum Bob Sadino, pernah menyampaikan, setinggi apa pun pangkat yang dimiliki, seseorang tetap seorang pegawai. Namun, sekecil apa pun usaha yang seseorang punya, ia adalah bosnya.

content

Hasil jajak pendapat yang dilakukan Kompas pekan lalu memperlihatkan bahwa menjadi wirausaha sebenarnya sudah menjadi keinginan atau cita-cita sebagian orang. Delapan dari sepuluh responden menyatakan pernah mempunyai keinginan atau cita-cita menjadi wirausaha. Dua orang bahkan menyatakan cita-cita tersebut sudah tercapai.

Dilihat dari karakteristiknya, laki-laki lebih banyak (82,7 persen) yang ingin menjadi wirausaha dibandingkan dengan perempuan (73,7 persen). Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi keinginan untuk memiliki usaha. Selain itu, keinginan untuk menjadi wirausaha banyak muncul dari anak-anak muda usia produktif, yakni yang berusia 20-40 tahun.

Menurut responden, memulai usaha sebaiknya memang dari usia muda, yaitu ketika berumur 20-40 tahun. Rentang usia ini memang berada pada fase produktif hidup manusia. Salah satu moto yang sering menjadi pegangan para wirausaha muda: kalau bisa sukses di kala muda, kenapa harus menunggu tua. Mewujudkan mimpi atau keinginan itu harus sesegera mungkin. Jangan menunggu, misalnya menunggu peluang, menunggu pensiun, menunggu ada dana, atau menunggu ada yang membantu.

Kunci sukses

Banyak faktor yang menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalankan usaha. Faktor yang utama adalah kegigihan, kreativitas, dan inovasi seseorang dalam berwirausaha. Persaingan, kondisi pasar, dan perekonomian secara umum memang menuntut seorang wirausaha memiliki sifat-sifat tersebut. Jika tidak, bagaimana usaha bisa bertahan dan berkembang.

Salah satu inovasi di zaman digital seperti sekarang adalah munculnya bisnis berbasis internet (daring). Pebisnis daring ini dikenal dengan sebutan netpreneur. Banyak hal yang membedakannya dengan bisnis konvensional (luring). Para netpreneur ini memanfaatkan media sosial sebagai sarana berkomunikasi. Bisnisnya tidak terbatas pada ruang atau gedung, bahkan bisa mendunia tanpa penjual dan pembeli mesti bertatap muka. Bisnis berbasis internet ini dianggap lebih praktis dan lebih cepat, bisa menghemat waktu, biaya, dan tenaga.

Faktor modal menjadi nomor dua yang juga menentukan keberhasilan. Jumlah modal awal akan menentukan skala usaha yang akan dijalankan. Namun, modal yang besar tidak selalu menjamin usaha langsung berhasil. Dengan kreativitas dan inovasi, usaha yang dimulai dengan modal kecil pun bisa tumbuh. Untuk memperluas pasar, terbuka kesempatan mendapatkan dana dari perbankan. Banyak bank kini memberi kemudahan kredit bagi usaha kecil dan menengah.

Dunia wirausaha di Indonesia kini tumbuh subur dan cukup menjanjikan. Dilihat dari data BPS, jumlah penduduk yang bekerja sebagai wirausaha lebih banyak ketimbang yang bekerja sebagai buruh atau karyawan. Pada Agustus 2013, jumlah penduduk yang berwirausaha, baik berusaha sendiri maupun bekerja dibantu buruh tidak tetap atau tetap, mencapai 42,41 juta orang (37,6 persen). Sementara yang bekerja sebagai buruh atau karyawan berjumlah lebih kecil, yakni 41,12 juta orang (36,5 persen).

Setahun kemudian, pola ini masih tetap sama. Jumlah penduduk yang berwirausaha meningkat menjadi 38,3 persen. Adapun yang berstatus buruh atau karyawan sebanyak 37 persen.

Jika responden memiliki kesempatan, keterampilan, dan modal, mereka ingin menjadi wirausaha. Bidang usaha yang ingin mereka geluti dan kembangkan terbanyak adalah makanan dan minuman (52,5 persen). Usaha itu antara lain membuka kafe, restoran, usaha katering, atau warung kopi. Bidang usaha ini dikatakan responden paling banyak menghasilkan wirausaha sukses. Bidang usaha yang diminati selanjutnya adalah jasa (14,2 persen) dan garmen (12,6 persen).

Sekecil apa pun skala usaha dan modal yang dikembangkan dalam berwirausaha, semuanya berawal dari mimpi atau harapan. Langkah kecil yang dilakukan akan membuahkan hasil jika mimpi terus dijaga.

(LITBANG KOMPAS)

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas