Rubrik

olahraga > Tujuh Pesepeda Indonesia Ikut Audax di Perancis


Tujuh Pesepeda Indonesia Ikut Audax di Perancis

JAKARTA, KOMPAS — Untuk pertama kalinya Indonesia bisa mengikutsertakan peserta dalam kegiatan sepeda jarak jauh (audax) yang dilakukan setiap empat tahun sekali di Perancis, yakni Paris-Brest-Paris (PBP).

Lima dari tujuh pesepeda yang akan ke Perancis untuk ikut bersepeda jarak jauh (Audax) Paris-Best-Paris (PBP)  16-20 Agustus. Dari kiri-kanan: Jemmy Sorensen, Andrika Kurnia Putra, Bob Bharuna,   Sutjipto Sunarjo (Eyang Tjipto), dan Achmad Mudjadid. Duduk di tengah, Murdargo,  sebagai  pemegang lisensi dan Direktur Audax Randonneurs Indonesia (ARI).
KOMPAS/TJAHJA GUNAWANLima dari tujuh pesepeda yang akan ke Perancis untuk ikut bersepeda jarak jauh (Audax) Paris-Best-Paris (PBP) 16-20 Agustus. Dari kiri-kanan: Jemmy Sorensen, Andrika Kurnia Putra, Bob Bharuna, Sutjipto Sunarjo (Eyang Tjipto), dan Achmad Mudjadid. Duduk di tengah, Murdargo, sebagai pemegang lisensi dan Direktur Audax Randonneurs Indonesia (ARI).

Kegiatan bersepeda yang akan diikuti 6.000 peserta dari 55 negara tersebut, akan menempuh jarak sejauh 1.200 kilometer dan akan ditempuh selama 90 jam. Acara diadakan pada 16-20 Agustus oleh Audax Club Parisien (ACP).

Pemegang lisensi ACP di Indonesia adalah Audax Randonneurs Indonesia (ARI) di mana Murdargo menjadi Direktur ARI. Ketujuh peserta yang akan mengikuti audax di Perancis itu adalah Edward Djauhari, Bob Bharuna, Achmad Mudjadid, Sutjipto Sunarjo, Andrika Kurnia Putra, Handojo Wiratmo Tjokro, dan Jemmy Sorensen.

"Peserta akan bersepeda nonstop siang-malam. Jadwal istirahat diatur sendiri oleh setiap peserta. Peserta tertua dari Indonesia adalah Sutjipto Sunaryo atau biasa dipanggil Eyang Tjipto yang berumur 73 tahun," kata Murdargo dalam jumpa pers di Gedung KONI Jakarta, Senin (10/8) sore.

Sebelum berangkat ke Perancis, para pesepeda di Indonesia telah mengikuti rangkaian kegiatan audax yang diselenggarakan ARI di Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Sumatera Barat.

Agar bisa mendapatkan brevet, setiap peserta harus bisa mengikuti rangakaian kegiatan audax dengan jarak tempuh dan waktu yang telah ditentukan panitia.

Menurut Murdargo, kegiatan sepeda audax ini bukan olahraga prestasi karena itu semua kalangan bisa mengikutinya asal mereka mempunyai ketahanan fisik dan mental yang prima.

Penyelenggaraan audax di Perancis bersifat unsupported atau tidak ada bantuan dan dukungan apa pun dari ACP selaku panitia.

"Oleh karena itu, setiap peserta dituntut untuk bisa mandiri. Bukan hanya gowesnya saja, tetapi peserta juga harus mempunyai kemampuan mekanik sepeda. Mereka harus bisa mengganti ban yang bocor atau rantai sepeda yang putus," ujar Murdargo.

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas