Rubrik

ekonomi > sektor riil > Maskapai Cari Pilot Indonesia Terbaik


Maskapai Cari Pilot Indonesia Terbaik

JAKARTA, KOMPAS — Menghadapi banjirnya tenaga kerja asing di Indonesia saat diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN yang tinggal beberapa bulan lagi, maskapai penerbangan tetap akan mengutamakan pilot-pilot asal Indonesia. Dengan catatan, jumlah pilot Indonesia dan kualitasnya mencukupi.

Sejumlah siswa calon penerbang menyiapkan pesawat latih jenis Cessna saat pembukaan Sekolah Pilot Merpati di Kompleks Bandar Udara Juanda, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Sekolah penerbang ini akan mendidik calon-calon pilot, terutama untuk rute-rute perintis di daerah yang menjadi rute andalan Merpati. Tiap tahun, industri penerbangan di Indonesia membutuhkan sekitar 400 pilot baru.
KOMPAS/IWAN SETIYAWANSejumlah siswa calon penerbang menyiapkan pesawat latih jenis Cessna saat pembukaan Sekolah Pilot Merpati di Kompleks Bandar Udara Juanda, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Sekolah penerbang ini akan mendidik calon-calon pilot, terutama untuk rute-rute perintis di daerah yang menjadi rute andalan Merpati. Tiap tahun, industri penerbangan di Indonesia membutuhkan sekitar 400 pilot baru.

"Untuk meningkatkan bisnisnya di masa depan, maskapai penerbangan tentu akan terus mendatangkan pesawat. Oleh karena itu, tentu butuh pilot. Tiap tahun Citilink akan mendatangkan pesawat baru, tentu akan butuh pilot dalam jumlah banyak," kata Presiden & CEO Citilink Indonesia Albert Burhan di Jakarta, Selasa (8/9).

Rencananya, tahun depan Citilink akan mendatangkan 8 pesawat baru. Artinya tahun depan akan membutuhkan 64 orang pilot. "Tiap pesawat diawaki oleh 4 set pilot atau 8 orang pilot. Menurut kami, jumlah 4 set pilot untuk satu pesawat sangat ideal karena bisa menambah jam terbang pilot dalam waktu cepat. Kalau jumlah pilotnya lebih banyak, maka jam terbang yang mereka peroleh akan sedikit," kata Albert.

Menurut dia, Citilink akan tetap mengutamakan pilot-pilot Indonesia sepanjang jumlahnya mencukupi dan kualitasnya seperti yang dibutuhkan maskapai.

"Dulu saat pertama berdiri, Citilink banyak menggunakan pilot asing, karena kebutuhan tinggi dan kualifikasi yang dibutuhkan sesuai. Sekarang, pilot asing sudah mulai berkurang dan diganti pilot-pilot Indonesia," kata Albert.

Mengenai kualitas pilot lulusan sekolah pilot Indonesia, Albert mengatakan, tergantung sekolahnya. Ada sekolah yang memang baik kualitasnya, tetapi ada yang asal-asalan. Menurut Albert, monitoring pemerintah dalam mengontrol kualitas sekolah pilot, harus ketat.

content

"Kalau kurikulum tentu sama saja. Namun, biasanya ada sekolah-sekolah yang tidak terlalu ketat penyerapannya, sementara monitoring sekolah oleh regulator juga kurang. Akibatnya kualitas lulusan sekolah-sekolah pilot ini tidak sama," ujar Albert.

Ketua Asosiasi Sekolah Pilot Indonesia Sunaryo mengatakan, tidak semua pilot-pilot Indonesia terserap pasar di Indonesia. "Banyak maskapai yang tidak mau menerima pilot Indonesia karena tidak sesuai standar. Hal ini aneh, sekolah pilot Indonesia memakai kurikulum yang ditetapkan Pemerintah Indonesia. Lalu diuji juga oleh pemerintah. Mengapa ditolak oleh maskapai Indonesia," kata Sunaryo.

Mengenai kesiapan menghadapi MEA, Sunaryo mengatakan, tetap mencetak pilot seperti biasa. "Sekolah pilot tidak terpengaruh dengan MEA. Kalau pilot lulusan Indonesia tidak dipakai, tanyakan ke maskapai dan regulator," ujar Sunaryo.

Menurut Albert, pilot-pilot asing masuk ke Indonesia sudah terjadi sejak lama. Demikian juga sebaliknya. Banyak pilot Indonesia yang bekerja di maskapai asing. "Pilot adalah profesi yang tidak memerlukan banyak penyesuaian jika pindah ke sebuah wilayah. Pekerjaannya sama di mana pun, dan tidak banyak bergantung dengan orang. Jadi, praktik pilot bekerja di negara asing, sudah biasa," kata Albert.

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas