Rubrik

polhuk > politik > Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Kalla, Publik Masih...

Satu Tahun Jokowi-JK

Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Kalla, Publik Masih Terbelah

Presiden Joko Widodo   saat sesi wawancara  dengan harian Kompas di  Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (16/10). Laporan wawancara dengan Jokowi-JK akan dimuat di koran Kompas edisi 20 Oktober dan ditayangkan secara bertahap di  Kompas TV mulai Selasa malam.
Presiden Joko Widodo saat sesi wawancara dengan harian Kompas di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (16/10). Laporan wawancara dengan Jokowi-JK akan dimuat di koran Kompas edisi 20 Oktober dan ditayangkan secara bertahap di Kompas TV mulai Selasa malam.KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Litbang Kompas telah memublikasikan hasil surveinya di harian Kompas hari ini, Senin (19/10). Pada publikasi pertama, dari lima publikasi yang direncanakan Litbang Kompas, tampak jelas bahwa publik hingga kini masih terbelah. Pekerjaan rumah yang berat bagi pasangan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kubu yang terbelah ini hingga kini masih tecermin dalam realitas sehari-hari. Meski pemilihan presiden sudah lewat satu tahun silam, dampak polarisasi itu masih terasa hingga kini, termasuk di dunia maya pun perang tagar kedua kubu pendukung terus berkobar.

Secara umum, sebanyak 48,4 persen publik merasa puas terhadap kinerja Kabinet Kerja dan 47,6 persen mengaku tidak puas. Jumlah responden mencapai 1.200 dengan sampling error plus minus 2,8, dan periode survei Oktober 2015.

Suasana persiapan  wawancara dengan Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Jumat (16/10). Wawancara dalam rangka satu tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla ini dilakukan di taman dan teras Istana Negara. Laporan wawancara dengan Jokowi-JK akan dimuat di koran Kompas edisi 20 Oktober 2015 dan ditayangkan secara bertahap di  Kompas TV mulai Selasa malam.
KOMPAS/HERU SRI KUMOROSuasana persiapan wawancara dengan Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Jumat (16/10). Wawancara dalam rangka satu tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla ini dilakukan di taman dan teras Istana Negara. Laporan wawancara dengan Jokowi-JK akan dimuat di koran Kompas edisi 20 Oktober 2015 dan ditayangkan secara bertahap di Kompas TV mulai Selasa malam.

Jika dilihat lebih dalam lagi, survei Kompas mampu memotret realitas masyarakat lebih dalam di berbagai level kelas sosial. Kompas membedakannya dalam empat level, yaitu kelas bawah-bawah dengan pengeluaran rumah tangga di bawah Rp 1 juta, kelas bawah dengan pengeluaran rumah tangga Rp 1 juta-Rp 2 juta, kelas menengah dengan pengeluaran Rp 2 juta-Rp 4 juta, dan kelas atas dengan pengeluaran rumah tangga di atas Rp 4 juta.

Setiap kelas memiliki preferensi yang berbeda-beda. Selengkapnya soal pembahasan preferensi kelas ini bisa dilihat di http://bit.ly/1thjokowijk. Secara umum bisa digambarkan bahwa kelas atas memiliki tingkat ketidakpuasan yang lebih tinggi, mencapai 66,1 persen, sedangkan kelas bawah-bawah memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi mencapai 54,8 persen.

KOMPAS/Heru Srikumoro/Eddy Hasby/Wisnu WidiantoroJelang satu tahun Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, harian Kompas mewawancarai pasangan Presiden dan Wakil Presiden tersebut. Wawancara dilakukan di Kompleks Istana Negara, Jumat (16/10). Hasil wawancara dimuat di harian Kompas edisi Selasa (19/10) dan ditayangkan di Kompas TV secara bertahap mulai Selasa malam. KOMPAS/Heru Srikumoro/Eddy Hasby/Wisnu Widiantoro

Survei Kompas juga memotret kinerja kabinet di berbagai sektor. Tampak bahwa sektor yang paling mendapat apresiasi adalah kelautan dan perikanan, 36,1 persen mengaku kondisinya lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. Lalu, sektor mana yang mendapat apresiasi buruk? Uraian survei Kompas ini bisa disimak lebih lanjut di http://bit.ly/surveikps.

Litbang Kompas akan menampilkan hasil survei terkait evaluasi setahun pemerintahan Jokowi-Kalla lebih lanjut di koran Kompas pada edisi Selasa (20/10) dan Rabu (21/10). Hasil persepsi publik akan menyoroti kinerja kabinet di berbagai bidang.

Liputan terkait satu tahun pemerintahan Jokowi-JK juga memuat perang tagar di kalangan netizen. Dari tulisan di Kompas di http://bit.ly/ghettosiber, tampak jelas bahwa netizen masih terbelah.

Perang tagar telah menciptakan "ghetto-ghetto" atau kepompong siber yang membuat kedua kubu sama-sama hanya mengikuti berita-berita yang mereka sukai. Kondisi ini jika berlarut- larut, akan membuat netizen semakin terkungkung dalam sangkar informasi yang mereka buat sendiri.

Selasa, harian Kompas akan melanjutkan liputan satu tahun pemerintahan Jokowi-Kalla. Selain akan menurunkan hasil survei Litbang Kompas, juga akan menurunkan tulisan tematis lainnya, termasuk wawancara eksklusif dengan Presiden Joko Widodo dan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas