Rubrik

opini > kolom > Kesadaran


Udar Rasa

Kesadaran

Seminggu lalu, di tengah gelap-gulitanya situasi internasional, tiba-tiba tampil di peta dunia beberapa kedipan sinar harapan. Dari mana dipancarkannya? Dari delapan perwakilan Indonesia di Amerika dan Eropa. Ya, pada 28 November 2015, mereka serentak merayakan jatuhnya Hari Raya Saraswati, hari raya Hindu Bali yang menyambut ”turunnya” pengetahuan untuk mencerahkan manusia. Pancasila ternyata berfungsi: hari raya Hindu pun dirayakan secara besar-besaran di perwakilan luar negeri, lengkap dengan pidato dan kegiatan budaya. Suatu tanda pencerahan luar biasa.

Namun, hal-ihwal Saraswati dan ”pencerahan” tidak terhenti pada segi etnis-religius Bali saja. Perayaan Saraswati melambangkan Pengetahuan bukan hanya sebagai ilmu, melainkan lebih jauh lagi sebagai ”kesadaran”, sikap ”eling” yang hendaknya menghuni pikiran manusia. Sikap itu ”diajarkan” melalui salah satu mitos kunci dari tradisi Jawa-Bali—mitos pengadaban yang sebanding dengan mitos Oedipus di dalam tradisi Yunani.

Simak inti mitos tersebut: Ditinggal oleh ayahnya, Giriswara, Watugunung diasuh oleh ibu kandungnya, Sinta, dan Landep, ibu tirinya. Dia bersikap ”raksasa”. Maka ibunya memukul kepalanya. Watugunung meninggalkan Sinta dan Landep dan akhirnya bertapa. Tapanya sedemikian hebat sehingga kahyangan oleng-kemoleng. Terganggu, Batara Siwa turun dan bertanya kepada Watugunung: ”Apakah kau ingin suatu anugerah?” Titahnya, ”Maka kau akan mengalahkan ke-27 raja yang berkuasa atas negeri-negeri di Mayapada, tetapi kau akhirnya akan dikalahkan makhluk berkepala penyu….”

Watugunung memang menjadi penguasa ke-27 negeri. Akan tetapi, keserakahan terus menghinggapinya. Ketika diberi tahu bahwa ”di seberang gunung hidup dua ratu cantik”. Watugunung memeranginya, demi menikahi kedua ratunya…. Loh, apa hasil kemenangannya? Ketika di peraduan, apa yang dilihat oleh ratu pertama, yang tiada lain adalah Sinta, sebuah parut luka yang aneh: astaga, insyaflah dia telah bersetubuh dengan anaknya! Menyadari aib takdirnya, Sinta dan Landep mencari jalan keluar. Ditantanglah Watugunung: ”O Watugunung, kami hanyalah wanita biasa. Yang pantas kamu nikahi bukanlah kami, melainkan sang dewi Nawang Ratih, istri dari Batara Wisnu?”

Dewa Wisnu murka. Menyusullah perang dahsyat. Wisnu menampakkan diri sebagai makhluk berkepala penyu. Lalu Watugunung terbunuh. Namun, berkali-kali menyongsong ajal, sang raksasa dihidupkan kembali berkat intervensi Siwa yang akhirnya bersabda: ”Hai Wisnu, janganlah kau membunuh Watugunung. Jadikanlah dia penguasa kalender dan berikan namanya pada minggu penutup kalender, dan nama ibu serta ibu tirinya pada kedua minggu awal kalender, disusul raja-raja taklukannya. Lebih penting lagi, jadikanlah hari terakhir kalender ini sebagai hari Pengetahuan, Hari Saraswati…”.

Hari Saraswati melambangkan pencerahan, yaitu timbulnya kesadaran adab multi-bentuk pada diri manusia, yaitu kesadaran tentang pantangan seksual, terutama inses; kesadaran tentang perlunya pembagian waktu, melalui kalender; serta kesadaran tentang pentingnya aturan sosial dan agama. Ajaran ini menarik dibandingkan dengan sekilas dengan ajaran mitos Oedipus dari tradisi Yunani. Keduanya sama-sama mengutuk inses. Namun, berbeda dengan Oedipus yang membutakan diri setelah tahu telah meniduri ibunya, Wutugunung sebaliknya tercerahkan. Lalu bila Oedipus berontak terhadap takdir dan para dewata—jalur pengadaban antroposentris kebudayaan Barat, sebaliknya Watugunung membuka jalur pengadaban dalam dan melalui agama (Dewi Saraswati)—jalur pengadaban kosmo dan agama sentris dari kebudayaan Timur.

Maka, jangan keliru, yang utama pada Saraswati bukanlah segi Hindu-nya, bukanlah pula pengetahuan sebagai jumlah ajaran yang harus diketahui, melainkan lebih jauh pengetahuan sebagai ”kesadaran” nan eling, sebagai upaya mengatasi keraksasaan dan mengangkat hasrat spiritual yang hadir terbenam di dalam jati diri kita setiap manusia. Kesadaran tersebut hadir pada Pancasila dan telah hadir pula pada keputusan Deparlu untuk merayakan Saraswati di Eropa dan Amerika sana. Maka, bravo Indonesia.

Namun, ketahuilah pula Saudaraku bahwa di mana pun kita berada, apakah di sini dalam diri ataupun di Paris, Suriah atau Poso sana, tetap berkeliaran aneka raksasa.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Desember 2015, di halaman 13 dengan judul "Kesadaran".

    Baca Juga

    • Mengelola Tunjangan Hari Raya

      Hari raya Idul Fitri semakin dekat. Biasanya perusahaan memberikan tunjangan hari raya (THR) sekitar dua pekan sebelum hari raya. THR berarti juga pendapatan tambahan bagi para karyawan. Sayangnya,

    • Hari Raya dan Perdamaian

      Kami datang untuk merayakan hari raya. Kami ingin bertanya kepada kalian, mengapa di negeri kami tidak ada hari raya? Itulah lirik emosional berjudul “U’thuna al- Thufulah“ (Berikan Masa Anak-anak K

    • Mengatur Tunjangan Hari Raya

      Pekan pertama Ramadhan sudah dijalani. Pada pekan kedua dan ketiga, biasanya tunjangan hari raya sudah diberikan. Berdasarkan aturan Kementerian Ketenagakerjaan, karyawan yang bekerja satu bulan suda

    • Bersahaja Saat Hari Raya

      Buat remaja, berbaju baru saat hari raya Idul Fitri atau Lebaran memang bukan keharusan, melainkan tetap saja sepertinya ada yang kurang jika tak memakai baju baru. Untuk keperluan bersilaturahim,

    • Hari Raya Idul Adha Berbeda

      JAKARTA, KOMPAS Kementerian Agama menetapkan hari raya Idul Adha 10 Zulhijah 1436 Hijriah jatuh pada Kamis, 24 September 2015. Beberapa kelompok Islam, seperti Muhammadiyah, lebih dahulu menetapkan ha

    • Sederhana di Hari Raya

      Selamat jalan busana “penyapu lantai“. Baju panjang yang terkesan wah itu pada Lebaran tahun ini mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, anak-anak muda kini memilih pakaian berpotongan lebih sederhana d

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas