Rubrik

dikbud > kebudayaan > Estetika Terkendala Tradisi


Estetika Terkendala Tradisi

Tulisan Sejarah Seni Indonesia Masih Parsial

JAKARTA, KOMPAS — Kajian mengenai estetika Indonesia masih belum dilakukan. Hal ini karena belum ada penulisan kanon sejarah seni Indonesia secara lengkap dan runut berdasarkan sejarah bangsa Indonesia. Kurangnya kesadaran untuk mendokumentasikan arsip, karya, dan tradisi lisan merupakan hambatan utama.

Ingin membaca artikel selengkapnya?

Inilah alasan Anda sebaiknya berlangganan

KUNJUNGI KOMPAS KIOSK >

Dunia Baru Informasi Digital

+ Unlimited Website Access + Mobile & Tablet Apps + Exclusive Breaking News


Silakan login untuk mengakses artikel lengkapnya. Daftar dan dapatkan akses selama 7 hari untuk pengguna baru!

Baca Juga

  • Menjahit Sejarah Seni Rupa Indonesia

    Indonesia memiliki sejarah seni rupa dengan para seniman dan karya yang menarik. Namun, kekayaan budaya itu belum tercatat dengan baik, bahkan “compang camping“. Aminudin TH Siregar, dosen Seni Rupa I

  • Dipingit Kolektor, Disekap Negara

    Jaringan lukisan palsu, kata tim penulis buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia (2014), mirip narkoba; terpegang hilirnya, sulit ditemukan hulunya. Namun, tidak seperti narkoba yang diperangi mati-matia

  • Langkan

    Pameran Rempah Mengubah DuniaDirektorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menggelar Pameran Rempah Mengubah Dunia di Bin

  • Pemalsuan Lukisan Bentuk Sejarah Palsu

    YOGYAKARTA, Kompas Pemalsuan lukisan karya para seniman maestro Indonesia berisiko membentuk sejarah seni rupa yang palsu. Diperlukan pengembangan riset dan pengujian secara forensik untuk menguji kea

  • Tiga Pendekar Lukis Tionghoa

    u Judul: Melipat Air: Jurus Budaya Pendekar Tionghoa: Lee Man Fong, Siauw Tik Kwie, Lim Wasimu Penulis: Agus Dermawan Tu Penerbit: Kepustakaan Populer Gramediau Cetakan: I, 2016u Tebal: viii + 310 hal

  • Sejumlah Sekolah Belum Siap Daring

    SOLO, KOMPAS Sejumlah sekolah menengah atas atau yang sederajat dinilai belum siap dengan sistem daring dalam proses pendaftaran seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Hal ini, antara lain,

KOMENTAR

Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
Login untuk submit komentar.

Kembali ke Atas