Rubrik

dikbud > kebudayaan > Gudang Ajaran dalam Prosa Jawa "Nglari Woting...


beranda sastra bbj

Gudang Ajaran dalam Prosa Jawa "Nglari Woting Ati"

JAKARTA, kompasSastra memiliki dua fungsi utama, yaitu dulce et utile, kemanisan dan kegunaan. Kedua fungsi itu tampak kuat dalam karya prosa Fitri Gunawan berjudul Nglari Woting Ati yang dikupas secara khusus oleh dosen Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Ari Prasetiyo, Selasa (18/4), di Bentara Budaya, Jakarta.

Ingin membaca artikel selengkapnya?

Inilah alasan Anda sebaiknya berlangganan

KUNJUNGI KOMPAS KIOSK >

Dunia Baru Informasi Digital

+ Unlimited Website Access + Mobile & Tablet Apps + Exclusive Breaking News


Silakan login untuk mengakses artikel lengkapnya. Daftar dan dapatkan akses selama 7 hari untuk pengguna baru!

Baca Juga

  • Kontroversi Bob Dylan

    Oktober lalu saya mampir di Frankfurt Book Fair. Pada hari terakhir pameran, secara kebetulan saya menemukan sebuah buku tentang Bob Dylan di sebuah stan penerbit Eropa. Sebagai penggemar lagu-lagunya

  • Inspirasi dari Ruang Kelas

    Merayakan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), tokoh pendidikan dan Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama, berarti menapaki jejak langkah re

  • Puisi Narapidana Anak Diluncurkan

    DENPASAR, KOMPAS Sebanyak 16 puisi dan 14 prosa karya narapidana anak Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Anak Gianyar, Kabupaten Karangasem, Bali, diluncurkan dalam acara Bali Emerging Writers Festi

  • Diaspora dari Kampung Sendiri

    Saat dunia dikondisikan makin datar oleh teknologi nirkabel, di mana manusia dari penjuru dunia saling terhubung dalam hitungan detik, nun di pojok dusun kecil, di tengah-tengah kebun salak, di

  • Ragam Pustaka

    Perlawanan “Precariat“ Lokal di Pusaran Global Praktik sistem kerja kontrak dan alih daya (outsourcing) memicu resistensi dari serikat-serikat buruh. Posisi tawar buruh makin lemah di hadapa

  • ”Horison” di Tengah Terjangan Zaman

    Lahir 50 tahun lalu, majalah Horison menandai era kebebasan kreatif negeri ini. Sastrawan-sastrawan besar bermunculan, mulai dari Rendra, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, hingga Umar Kayam. Tepat

KOMENTAR

Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
Login untuk submit komentar.

Kembali ke Atas