Rubrik

sosok > Menggunting Mafia Bisnis Cabai

Sosok Halaman 16 Kompas

Menggunting Mafia Bisnis Cabai

Kompas/Winarto Herusansono

Tahun 2010 petani cabai di Magelang, Jawa Tengah, terpukul akibat harga jual cabai terjun bebas hingga Rp 2.000 per kilogram. Ratusan petani bangkrut dan terjerat utang. Belajar dari peristiwa itu, Tunov Mondro Atmodjo turun ke ladang untuk mengurai akar masalah.

Pemuda berusia 34 tahun itu mengedukasi para petani cabai dengan lahan kurang dari 3.000 meter persegi di Dusun Tanggulangin, Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ia tak menyentuh petani besar yang lahannya di atas 1 hektar.

”Cabai itu bukan komoditas yang bisa disimpan lama. Pengembangan tanaman cabai di lahan yang luasnya kurang dari 3.000 meter persegi lebih efektif. Panennya akan maksimal dan harga terjaga sesuai ongkos budidaya,” tutur Tunov.

Oleh karena itu, alih-alih mengejar peningkatan produksi cabai, ia memilih membangun kesadaran petani pada seluk-beluk bisnis cabai. ”Saya mengubah pola pikir petani mengenai budidaya cabai, mulai dari pemeliharaan hingga penanganan pasca panen,” kata Tunov, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Giri Makmur, Kabupaten Magelang, ini.

Cabai bisa dipanen mulai umur 90 hari sampai 6 bulan. Setiap minggu pada musim panen, cabai bisa dipetik 2-3 kali. Satu pohon menghasilkan sekitar 115 cabai dan 1 kilogram (kg) setidaknya 350 cabai.

Kalau harga jual terendah Rp 15.000 per kg, petani memperoleh hasil bersih Rp 5 juta. Idealnya, harga jual cabai di tingkat petani minimal Rp 20.000 per kg supaya petani untung 20 persen. Kenyataannya, harga cabai sering jatuh karena adanya mafia.

Mereka bisa menekan harga di tingkat petani serendah mungkin, kemudian menjual harga cabai di pasar setinggi mungkin. Akibatnya, harga cabai tak terkendali dan menjadi pemicu inflasi.

Perang

Bisnis cabai memang menggiurkan. Setiap hari Jakarta saja membutuhkan pasokan 120 ton cabai. Pemasok cabai menyetor jam berapa pun pasti diterima pasar. Sayang, jalur distribusi cabai dari petani ke pedagang pasar dikuasai mafia. Akibatnya, perbedaan harga jual di tingkat petani dan harga jual di pasar bisa sampai 120 persen.

Tunov ingin petani setidaknya bisa menguasai 30 persen pasar cabai di Jakarta. Menurut dia, kunci dalam bisnis cabai sederhana. Siapa yang menguasai cabai pasti menguasai pasar. Karena itu, Tunov membuat jalur pemasaran tunggal sejak 2015. Ia melarang petani menjual cabai sendiri-sendiri.

Cabai yang dipanen dikumpulkan di rumah kelompok tani. Ia lalu memanggil pedagang untuk membeli cabai secara lelang. Penjualan cabai bisa dilakukan tanpa lewat tengkulak atau mafia cabai. Harga cabai di tingkat petani pun meningkat. Selain itu, sebagian cabai dikirim langsung ke pasar induk di Jakarta. Mereka menyebut strategi ini ”operasi pasar”.

Meski risiko ”operasi pasar” cukup besar, strategi ini ampuh menghancurkan monopoli mafia. Ia bercerita, Oktober lalu harga cabai di pasar merangkak di kisaran Rp 45.000 per kg. Dia dan kawan-kawan melancarkan ”operasi pasar” ke Jakarta. Mereka membanderol cabai segar Rp 20.000 per kg. Dalam dua jam, cabai mereka ludes terjual.

Mafia cabai yang berharap mendapat untung besar dari ”menggoreng” harga pun merugi. Ada tengkulak yang rugi hampir Rp 2 miliar akibat gelontoran cabai segar Tunov dan kawan-kawan.

Gerakan Tunov dan para petani itu mendapat perlawanan. Sejumlah tengkulak menebar teror dan ancaman kepada petani dan pedagang yang menerima pasokan cabai dari Magelang. Namun, Tunov dan kawan-kawan tetap bergeming.

Berkat usaha keras mereka, harga cabai di tingkat petani bisa menguntungkan. Gerakan mereka juga mendapat dukungan para petani cabai lainnya, bahkan yang berasal dari kecamatan lain, seperti Grogol, Kajoran, Dukun, Pakis, dan Kopeng di Kota Salatiga.

Gapoktan Giri Makmur yang dipimpin Tunov semakin berkembang. Anggotanya kini berjumlah 700 petani yang tersebar di Kecamatan Secang dan Grabag.

Gerakan mereka juga memengaruhi harga jual cabai di pasar Jakarta. Jadilah Tunov sering diajak rembuk di tingkat Kementerian Pertanian dan instansi lain untuk menemukan formula pertanian dan tata niaga cabai di tingkat nasional. Ia menjadi satu dari sembilan petani andalan cabai dari sejumlah daerah di Indonesia.

Anak petani

Pertanian lekat dengan kehidupan Tunov. Sang ayah, Martoyo Cokro Miharjo, adalah petugas penyuluh pertanian sekaligus sahabat petani, khususnya petani cabai.

”Orangtua saya memberi nama Tunov karena saya lahir pada tujuh November,” kata Tunov, petani cabai di lereng Gunung Merbabu ini seraya tertawa.

Sebelum menjadi petani cabai, Tunov sempat mengambil jalan hidup lain. Dia memilih bersekolah di Akademi Seni Rupa dan Desain Modern, School of Design Yogyakarta. Setelah itu, dia sempat bekerja dalam industri film. Tunov antara lain pernah menjadi produser film dan bekerja dengan Deddy Mizwar pada 2009.

Baru pada 2013 Tunov memutuskan kembali ke ”akar” kehidupan masa kecilnya, yakni pertanian. Tanpa merasa canggung sedikit pun, dia kemudian mengolah tanah dan menanam cabai di lahan milik bersama para petani.

Tunov kemudian menikmati kehidupannya sebagai petani. Dia kembali akrab dengan para petani, hingga diangkat sebagai pembina petani pada 2013. Belakangan, setelah ia berhasil menggunting cengkeraman mafia, budidaya cabai semakin ramai dan menyebar di Magelang dan sekitarnya.

Melihat keberhasilan itu, Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah selaku ketua tim pengendali inflasi daerah tertarik dengan pola pengembangan cabai yang dilakukan Gapoktan Giri Makmur.

Instansi itu lantas memberikan tugas kepada dia untuk menyiapkan sekitar 6.000 benih cabai. Bibit itu nantinya akan ditanam para ibu dalam program Kampung Cabai di 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

”Kalau satu desa menanam 15.000 pohon cabai sudah setara dengan menanam pohon cabai 1 hektar. Para ibu bisa menanam cabai di rumah, cukup 10-20 pohon cabai di polybag. Hasilnya bisa mencukupi kebutuhan mereka sendiri,” ujar pria lajang tersebut.

Gerakan ini digulirkan guna mendorong swasembada cabai untuk rumah tangga. Tujuannya para ibu tetap bisa membuat sambal meski harga cabai melangit.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 November 2016, di halaman 16 dengan judul "Menggunting Mafia Bisnis Cabai".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas