Rubrik

hiburan > cerpen > Konflik Masyarakat Multikultural di Mata...


 KRITIK

Konflik Masyarakat Multikultural di Mata Sastrawan

Masyarakat multikultural dengan pluralitas identitas dan etnisitas sering direpresentasikan dalam karya sastra. Narasi ketegangan dan kedamaian diartikulasikan oleh para sastrawan sebagai hasil pengamatan terhadap konstelasi dan dinamika manusia yang dipenuhi perpecahan di satu sisi, dan kebersamaan serta kerukunan di sisi lainnya. Konflik berlatar perbedaan etnik, agama, dan aliran kepercayaan, stratifikasi sosial dan kepentingan ekonomi yang menginspirasi dan menjadi pilihan tematik beberapa sastrawan menunjukkan kritik para sastrawan terhadap ketidakmampuan menerima perbedaan.

Ingin membaca artikel selengkapnya?

Inilah alasan Anda sebaiknya berlangganan

KUNJUNGI KOMPAS KIOSK >

Dunia Baru Informasi Digital

+ Unlimited Website Access + Mobile & Tablet Apps + Exclusive Breaking News


Silakan login untuk mengakses artikel lengkapnya. Daftar dan dapatkan akses selama 7 hari untuk pengguna baru!

Baca Juga

  • Pajak Korporasi Multinasional

    April  dua tahun  lalu, saat masih menjabat menteri keuangan, Agus Martowardojo mengungkapkan keprihatinan mendalam  tentang empat ribuan perusahaan asing/multinasional (multinational corporation)  

  • Indonesia dan Akomodasi Multikultural

    Dalam dekade terakhir, Inggris, Jerman, dan negara Eropa lain mengakui doktrin multikulturalisme di Eropa telah gagal karena Eropa bersikap terlalu toleran terhadap ekstremis sayap ultra-kanan ataupun

  • Merajut Kewargaan Kita

    Menguatnya politik identitas dan sektarianisme primordial di pengujung 2016 turut mengeskalasi suhu politik negeri ini, yang kemudian berdampak pada meredupnya kohesi sosial dan soliditas kewargaan ki

  • Merenda Persatuan dan Keadilan

    Keadilan tidak bisa dipertukarkan dengan persatuan. Kita tidak bisa memperjuangkan keadilan dengan mengorbankan persatuan; sebaliknya, tak bisa memperjuangkan persatuan dengan mengorbankan keadilan.

  • Dilarang Kapok Menjadi Indonesia

    Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi lambang negara—berbeda-beda, tapi tetap satu—bukan retorika para pendiri negara, melainkan menukik lebih dalam ke akar sejarah Nusantara. Adalah Empu Tantu

  • Paradoks Lebaran

    Mudik Lebaran adalah fenomena paradoksal. Merayakan kemenangan setelah laku asketik (mesu budi) melawan nafsu angkara, bersamaan dengan penderitaan berupa drama berebut ruas jalan hingga mengakibatk

KOMENTAR

Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
Login untuk submit komentar.

Kembali ke Atas