Rubrik

hiburan > seni > Sena Didi Mime Menolak Mati Berdiri


TEATER

Sena Didi Mime Menolak Mati Berdiri

Sena Didi Mime mencoba merefleksikan kegelisahannya tentang kondisi mutakhir bangsa lewat lakon Mati Berdiri. Mereka menyoal generasi nunduk yang lebih jenak memelototi telepon seluler daripada bercakap-cakap. Juga menyuarakan nasib orang-orang pinggiran yang tak pernah mendapat tempat layak sehingga mati pun harus berdiri.

Ingin membaca artikel selengkapnya?

Inilah alasan Anda sebaiknya berlangganan

KUNJUNGI KOMPAS KIOSK >

Dunia Baru Informasi Digital

+ Unlimited Website Access + Mobile & Tablet Apps + Exclusive Breaking News


Silakan login untuk mengakses artikel lengkapnya. Daftar dan dapatkan akses selama 7 hari untuk pengguna baru!

Baca Juga

  • Panggung Kecelakaan Ruang Kelas

    Mewarisi tradisi salah satu ikon medan seni pantomim Indonesia, para awak muda kelompok Sena Didi Mime menyuguhkan kembali kesegaran ”Ruang Kelas” dalam pertunjukan Sayap Tamu Festival Teater Jakarta

  • Laku Berdarah-darah dalam Teater

    Sepanjang 21 November-9 Desember, Festival Teater Jakarta bergulir, menjadi panggung bagi 26 kelompok teater. Tak hanya menjadi perayaan bagi laku berlakon, festival itu juga menjadi perayaan pengetah

  • Pesta Teater yang Bukan Cuma Lomba

    Estafet kepengurusan Dewan Kesenian Jakarta membawa warna baru dalam penyelenggaraan Festival Teater Jakarta. Komite Teater meluaskan kompetisi di antara kelompok teater se-Jakarta itu menjadi ajang m

  • Festival Teater Jakarta Digelar 19 Hari

    JAKARTA, KOMPAS Festival Teater Jakarta kembali digelar pada tahun ini dengan konsep penyelenggaraan yang berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Perubahan tak hanya terjadi pada ?jumlah hari

  • Didi Pergi di Suatu Pagi

    Pagi belum sepenuhnya beranjak siang ketika seorang aktor besar Indonesia dikabarkan berpulang. Didi Petet (58) berangkat menghadap Sang Khalik pukul 05.30 di rumahnya di kawasan Bambu Apus,

  • Bahasa Seni Universal

    JAKARTA, KOMPAS — Seni pertunjukan memiliki bahasa universal yang bisa menembus sekat-sekat di tengah masyarakat, termasuk keagamaan. Semangat itu disampaikan pemain pantomim asal Slowakia, Milan Sila

KOMENTAR

Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
Login untuk submit komentar.

Kembali ke Atas