Rubrik

hiburan > udar > Jembatan Agama


Udar Rasa

Jembatan Agama

Perbedaan sosial apa pun bisa ditempuh dengan dua cara yang bertolak belakang satu sama lainnya: kita bisa menekankan perbedaan tersebut, atau sebaliknya menyangkalnya. "Kau beda," kata anggota kelompok pertama, "kau lain warna rambutnya, lain Tuhannya, lain bangsanya, maka aku tak mau ada urusan dengan kau...."

Ingin membaca artikel selengkapnya?

Inilah alasan Anda sebaiknya berlangganan

KUNJUNGI KOMPAS KIOSK >

Dunia Baru Informasi Digital

+ Unlimited Website Access + Mobile & Tablet Apps + Exclusive Breaking News


Silakan login untuk mengakses artikel lengkapnya. Daftar dan dapatkan akses selama 7 hari untuk pengguna baru!

Baca Juga

  • Menghargai Perbedaan, Bukan Memaksakan Persamaan

    Ada asumsi salah kaprah di kalangan aktivis dialog lintas agama dan para penolaknya. Bagi yang pertama, perbincangan konstruktif hanya mungkin dilakukan di atas dasar kesamaan- kesamaan. Karena itu, m

  • Berbagai Perbedaan Dilematis

    Dalam perjalanan ke kantor, dari radio mobil saya mendengar wawancara seorang pejabat (K, 38 tahun) yang bicara dengan santun, jelas, dan sistematis. Yang bersangkutan memang dikenal sebagai pejabat y

  • Merangkul Sejauh Rengkuhan

    Meskipun tak sesederhana yang dibayangkan, relasi antarnegara tak ubahnya hidup bertetangga. Setiap warga harus mampu bersikap bijak, mampu membatasi diri untuk tidak campur tangan dalam urusan tetang

  • Fransiskus Kunjungi Daerah Asal Fidel Castro

    Havana, Senin Paus Fransiskus melanjutkan kunjungan di Kuba dengan mendatangi Holguin di Kuba timur, Senin (21/9). Holguin merupakan basis penganut Katolik serta daerah asal pemimpin revolusi Kub

  • Perbedaan Bukan untuk Dipertentangkan

    DEPOK, KOMPAS — Keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama di Indonesia merupakan keragaman yang variatif (memperkaya), bukan kontradiktif (bertentangan). Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan te

  • Kelompok Dukungan

    Pekerja kesehatan mental seperti psikolog dan psikiater mungkin sering dilihat masyarakat sebagai “jauh“, sulit diakses, mahal, tak terjangkau. Atau sebaliknya, orang menghindar untuk datang karena ta

KOMENTAR

Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
Login untuk submit komentar.

Kembali ke Atas