Rubrik

internasional > eropa > Pasang Surut Relasi Turki-Eropa


DINAMIKA KAWASAN

Pasang Surut Relasi Turki-Eropa

Saling kecam antara Turki dan Uni Eropa marak lagi setelah dua menteri Turki dilarang berkampanye di Belanda dan Jerman terkait dengan referendum konstitusi Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan para menterinya menyebut kedua negara itu "fasis" dan "neo Nazi". Tuduhan yang "sangat berat" dalam tata krama diplomasi.

Ingin membaca artikel selengkapnya?

Inilah alasan Anda sebaiknya berlangganan

KUNJUNGI KOMPAS KIOSK >

Dunia Baru Informasi Digital

+ Unlimited Website Access + Mobile & Tablet Apps + Exclusive Breaking News


Silakan login untuk mengakses artikel lengkapnya. Daftar dan dapatkan akses selama 7 hari untuk pengguna baru!

Baca Juga

  • Ancaman terhadap Demokrasi Turki

    Referendum konstitusi di Turki yang akan dilaksanakan pada 16 April mendatang akan menjadi ujian berat bagi demokrasi negeri itu. Apakah prinsip-prinsip demokrasi seperti yang dahulu kala dicanangka

  • Erdogan Skors 12.801 Polisi

    ISTANBUL, SELASA Pemerintah Turki menskors 12.801 polisi dengan 2.503 orang di antaranya adalah komandan dari kesatuan tempat mereka bekerja. Mereka disangka terkait dengan jaringan Fethullah Gulen y

  • Myanmar Setujui Referendum

    YANGON, KAMIS — Presiden Myanmar Thein Sein dikabarkan menyetujui undang-undang yang memungkinkan negeri itu melakukan referendum terhadap konstitusi tahun 2008. Jika sukses, proses referendum akan be

  • Eropa Menentang Kampanye Turki

    BERLIN, SENIN Jerman ikut melarang Turki melakukan kampanye di negara mereka. Perdana Menteri Denmark Lars Loekke Rasmussen menunda pertemuan terjadwal dengan PM Turki Binali Yildirim. Namun, Peranci

  • UUD Myanmar Dapat Direferendum

    Presiden Myanmar Thein Sein menyetujui undang-undang yang memungkinkan negeri itu melakukan referendum Konstitusi (UUD) 2008. Keputusan Thein Sein itu dianggap sebagai langkah maju karena jika dalam

  • Oposisi Turki Diancam

    ANKARA, MINGGU Sejumlah tokoh oposisi di Turki mengaku menghadapi berbagai ancaman, kekerasan, dan kesewenang-wenangan dari pemerintah negara itu. Akses kampanye mereka melalui televisi dibatasi dan

KOMENTAR

Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
Login untuk submit komentar.

Kembali ke Atas