Rubrik

iptek > Sekolah Pemrograman, Mengakrabi Kode sejak Dini...


Sekolah Pemrograman, Mengakrabi Kode sejak Dini (Bagian 2 dari 3)

Menghadap ke komputer jinjingnya, Jordan yang berusia 12 tahun mengamati balok-balok berwarna-warni yang harus disusun secara tepat. Balok itu berisi kalimat perintah agar dia bisa membangun ulang permainan Flappy Birds yang sempat meledak tahun lalu.

Pengguna komputer  anak-anak sudah bisa mengambil manfaat dari belajar coding atau menulis kode pemrograman berkat perangkat atau layanan yang memudahkan mereka belajar sendiri atau didampingi seorang mentor, Sabtu (21/3). Salah satunya dilakukan Clevio Coder Camp yang menyasar anak-anak untuk menjadi wirausahawan cilik melalui medium permainan.
Kompas/Didit Putra Erlangga RahardjoPengguna komputer anak-anak sudah bisa mengambil manfaat dari belajar coding atau menulis kode pemrograman berkat perangkat atau layanan yang memudahkan mereka belajar sendiri atau didampingi seorang mentor, Sabtu (21/3). Salah satunya dilakukan Clevio Coder Camp yang menyasar anak-anak untuk menjadi wirausahawan cilik melalui medium permainan.

Menggunakan tetikus, Jordan menyusun baris demi baris kode agar permainan tersebut bisa dijalankan seperti apa yang terjadi bila karakter burung membentur rintangan atau melewatinya.

Tingkatan demi tingkatan kesulitan harus dihadapi Jordan untuk bisa menghasilkan Flappy Birds yang hanya dimainkan dengan satu tombol ini. Mulai dari gerakan sederhana, menambahkan suara ketika tombol tetikus ditekan, apa yang terjadi saat burung berhasil melampaui rintangan, dan diakhiri dengan membuat permainan yang utuh pada tingkat ke-10.

Dia memang tidak menulis kode, tetapi susunan balok yang dibuat menggambarkan hal tersebut, yakni perumpamaan. Dia sedang belajar mengenai logika dan cara berpikir yang terstruktur meski dari medium yang penuh warna dan kekanak-kanakan.

Hastuti juga tidak memiliki keraguan sewaktu mengikutsertakan anaknya, Farhan Irsan Rafliansyah (13), beserta dua keponakannya, Safina Irfirjriah (10) dan Nasifa Anjani (12), untuk belajar coding atau menulis bahasa pemrograman di tempat kursus Coding Indonesia yang terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Meski mengikuti kursus lainnya yang menuntut aktivitas fisik, ujarnya, anaknya juga memperlihatkan minat dan keseriusan dalam membuat permainan sendiri.

Hastuti sedang duduk menunggu anak dan dua keponakannya belajar di kelas. Di dalam, mereka sedang belajar dasar-dasar dari bahasa HTML5 untuk membuat website.

Website itu dipergunakan untuk memajang permainan elektronik yang sudah mereka buat beberapa sesi sebelumnya,” ujar Wahyudi, pendiri sekaligus pengajar utama dari Coding Indonesia, Minggu (22/3).

content

Ruang kelas itu berisi enam anak yang tekun menghadap layar komputer jinjing masing-masing, sesekali mereka mengalihkan pandangan ke arah papan tulis, sementara Wahyudi tengah menerangkan mengenai dasar pembuatan website menggunakan bahasa HTML5 serta prinsip untuk mendesain menggunakan cascading style sheet (CSS).

Raut muka mereka serius mengetikkan kode dan, saat merasa bingung, segera bertanya kepada Wahyudi. Namun, sesekali mereka bercanda dengan teman di sebelahnya sambil berbicara sendiri sehingga sang mentor harus meminta peserta pelatihan berkonsentrasi.

Manfaat dasar

Bisakah anak-anak belajar coding? Itulah pertanyaan yang mengemuka di akhir tulisan pertama. Menurut Aranggi Soemardjan, CEO Clevio Coder Camp, mereka seharusnya diperkenalkan sedini mungkin begitu bisa membaca dan menulis, terlebih saat sudah terbiasa menggunakan gawai, seperti sabak elektronik, ponsel pintar, atau komputer.

Clevio rutin menggelar kelas coding di daerah Cibubur, Bogor, dengan beberapa tahapan, yakni membuat permainan elektronik, lalu aplikasi, dilanjutkan membuat website untuk memajang karya mereka dan akhirnya membuat situs toko daring. Dia memilih kursus membuat game sebagai kedok untuk memperkenalkan coding kepada anak.

”Anak secara natural masih impulsif karena bagian lobus frontal yang mengendalikan emosi dan kepribadian belum terbentuk sempurna untuk mendorong pengambilan keputusan mereka. Yang dilakukan adalah membuat mereka terus penasaran dengan logika, konsekuensi, ataupun urutan,” tutur Aranggi.

Dia menepis anggapan bahwa belajar coding adalah sesuatu yang berat karena proses belajar dan mengajar tetap bisa dilakukan dalam suasana riang dan santai. Namun, lanjut Aranggi, selama proses, mereka justru belajar untuk berkompetisi karena bisa melihat karya rekannya dan secara natural bagi anak-anak untuk tidak mau kalah.

Belajar pemrograman  bisa dimulai dari hal-hal yang menyenangkan, misalnya membuat game atau permainan.
Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo
Belajar pemrograman bisa dimulai dari hal-hal yang menyenangkan, misalnya membuat game atau permainan.
Peserta pelatihan  pemrograman sejak berusia 10 tahun sudah bisa diikutsertakan dalam menulis kode pemrograman meski bentuknya sederhana, seperti ditunjukkan di kelas Coding (Indonesia), Minggu (22/3). Pemrograman melatih kemampuan berpikir untuk lebih logis dan terstruktur, kemampuan tersebut bakal berguna untuk berbagai lini kehidupan anak pada masa mendatang.
Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo
Peserta pelatihan pemrograman sejak berusia 10 tahun sudah bisa diikutsertakan dalam menulis kode pemrograman meski bentuknya sederhana, seperti ditunjukkan di kelas Coding (Indonesia), Minggu (22/3). Pemrograman melatih kemampuan berpikir untuk lebih logis dan terstruktur, kemampuan tersebut bakal berguna untuk berbagai lini kehidupan anak pada masa mendatang.

Begitu pula dengan kesabaran untuk tidak menyerah agar menghasilkan permainan atau aplikasi keinginan mereka.

Aranggi menyebut beberapa contoh aplikasi yang dibuat peserta pelatihan yang berfungsi sederhana, tetapi memiliki nilai personal, seperti aplikasi untuk berhenti merokok yang ditujukan bagi sang ayah atau aplikasi pencatat lokasi kendaraan karena ibu si murid kerap lupa dengan letak kendaraan saat pergi berbelanja. Yang dilakukan oleh mentor di Clevio adalah mendampingi mereka.

”Memecahkan masalah adalah hak setiap anak,” kata Aranggi.

Dua peserta pelatihan Clevio menjadi juara nasional dalam kompetisi Eco-Challenge dan mewakili babak internasional di Korea Selatan pada 10-13 April mendatang.

Sarana belajar melimpah

Siapa pun sebetulnya bisa belajar coding sendiri karena begitu banyak sarana yang tersedia secara melimpah dan gratis. Modalnya hanya komputer, koneksi internet, dan kemauan mencurahkan sebagian waktu mereka untuk belajar.

Situs yang paling bisa didatangi adalah code.org yang mengajarkan dasar-dasar pemrograman dengan tampilan yang menarik bagi anak, seperti dilakukan Jordan di awal tulisan. Dimulai dari memahami logika pemrograman paling sederhana dan beranjak menjadi lebih kompleks seiring kenaikan tingkat. Begitu pula dengan perangkat yang dipakai untuk membuat aplikasi.

”Situs seperti code.org juga dipergunakan pada tingkat mahasiswa di perguruan tinggi luar negeri karena yang ingin dipelajari adalah logika dan cara berpikir mereka,” kata Wahyudi.

Wisnu Sanjaya, CEO sekaligus pengajar Cody’s App Academy, sebuah tempat pendidikan pemrograman di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, menuturkan bahwa ada begitu banyak sarana bagi siapa pun yang ingin belajar pemrograman. Dia bahkan membuat aplikasi belajar pemrograman yang bisa dipasang di ponsel pintar dengan sistem operasi Android dan Windows.

”Semua bisa belajar meski mereka yang belajar dengan bimbingan mentor akan mendapatkan kemajuan lebih pesat,” kata Wisnu.

Menurut Wisnu, pendidikan pemrograman tidak melulu bertujuan untuk menghasilkan ahli pemrograman karena melalui proses belajar juga menjadi medium untuk mengetahui bakat dan memoles potensi anak.

Survei yang dilakukan Microsoft pada Februari 2015 terhadap 1.850 siswa sekolah di delapan negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, memperlihatkan kesenjangan akan minat belajar pemrograman dengan kesempatan yang dimiliki.

Hanya 51 persen responden yang mengaku punya kesempatan belajar pemrograman di sekolah dan 39 persen mendapatkan dukungan dari keluarga.

Sementara itu, bagi yang memutuskan untuk berkarier di industri digital, bukan kemudahan yang menanti mereka. Bahasan soal itu akan menjadi topik tulisan ketiga sekaligus penutup dari rangkaian tulisan mengenai pemrograman.

Setelah membuat permainan   dan menulis aplikasi, peserta didorong mampu membuat website untuk menampilkan karya-karya mereka. Tahapan itu akan mendorong anak-anak berpikir memproduksi kemudian memasarkan produknya.
Kompas/Didit Putra Erlangga RahardjoSetelah membuat permainan dan menulis aplikasi, peserta didorong mampu membuat website untuk menampilkan karya-karya mereka. Tahapan itu akan mendorong anak-anak berpikir memproduksi kemudian memasarkan produknya.

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas