Rubrik

opini > kolom > Keluarga Tanpa Rokok, Pekerjaan Rumah Ibu


Jajak Pendapat

Keluarga Tanpa Rokok, Pekerjaan Rumah Ibu

Perihal kebiasaan merokok, para ibu sudah memahami akibat buruk apa saja yang akan menimpa pelakunya. Ancaman berbagai penyakit seperti yang tergambar di kemasan rokok, misalnya, selalu terbayang di benak mereka. Akan tetapi, tidak mudah bagi ibu mengarahkan setiap anggota keluarga untuk menghindari kebiasaan buruk tersebut.

Aktivis  yang tergabung dalam Smoke Free Agents saat menyampaikan aspirasi mereka menyuarakan bahaya asap rokok di area kawasan bebas kendaraan bermotor di Jakarta, Minggu (5/6/2016). Kegiatan dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tersebut juga mendesak pemerintah untuk lebih menunjukkan kebenaran bahaya asap rokok dengan meningkatkan peringatan bergambar pada bungkus rokok.
Kompas/HERU SRI KUMOROAktivis yang tergabung dalam Smoke Free Agents saat menyampaikan aspirasi mereka menyuarakan bahaya asap rokok di area kawasan bebas kendaraan bermotor di Jakarta, Minggu (5/6/2016). Kegiatan dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tersebut juga mendesak pemerintah untuk lebih menunjukkan kebenaran bahaya asap rokok dengan meningkatkan peringatan bergambar pada bungkus rokok.

Menciptakan rumah bebas asap rokok bukan perkara mudah. Apalagi jika salah satu atau beberapa anggota keluarga merupakan perokok, menambah pelik upaya itu. Biasanya, kaum ibu menjadi pihak yang paling dilematis menghadapi situasi tersebut.

Pengumpulan opini yang diselenggarakan Kompas merekam fakta satu dari empat responden mengakui ada anggota keluarga mereka yang punya kebiasaan merokok. Publik yang mengaku tidak ada anggota keluarganya yang merokok cukup tinggi (40,3 persen). Akan tetapi, kelompok yang tidak tahu pasti apakah anggota keluarganya merokok atau tidak juga cukup banyak. Setidaknya satu dari tiga responden tak yakin keluarganya bebas dari perokok (33,7 persen).

Sejarah panjang keberadaan rokok yang berkelindan dengan budaya menjadi hal yang berterima di masyarakat secara umum. Isu rokok dan kesehatan tak secara langsung menggugah kesadaran orang untuk berhenti menjadi perokok. Namun demikian, sebagian publik (44 persen) tak menoleransi jika ada asap rokok membubung di dalam rumah mereka. Meski begitu, sebagian publik lain memperbolehkan siapapun merokok di dalam rumah. Sementara publik yang tak bersikap tegas terhadap hal tersebut juga cukup besar (38,1 persen).

Publik yang bersikap terhadap rokok adalah para ibu. Sementara ini, yang bisa dilakukan ibu adalah membebaskan rumah dari kepulan asap rokok. Atau dengan kata lain mengurangi kesempatan anggota keluarga untuk merokok di rumah. Pengakuan ini dinyatakan oleh sebagian besar ibu rumah tangga (70,2%) dalam jajak pendapat ini.

Meski ada sebagian kecil ibu yang memberi kelonggaran aturan, mayoritas dari mereka melarang siapa pun merokok di dalam rumah, termasuk suami dan anak-anak. Sikap para ibu sangat jelas dan tegas terhadap rokok, khususnya di rumah mereka masing-masing. Akan tetapi , ketika di luar rumah, ibu sulit mengawasi atau mengendalikan anggota keluarga mereka untuk tidak merokok.

Dalam memerangi kebiasaan merokok, kendala terbesar yang dihadapi para ibu justru datang dari pasangan mereka. Dalam jajak pendapat ini diketahui bahwa satu dari tiga rumah tangga memiliki anggota keluarga perokok, di mana mayoritas pelakunya (60%) adalah ayah yang notabene adalah kepala rumah tangga.

Kebiasaan ayah yang gemar merokok tentu saja akan ditiru oleh anggota keluarga lainnya. Anak-anak pun akan sulit dicegah melakukan kebiasaan yang sama karena melihat perilaku orang tuanya. Tercatat ada sekitar 23 keluarga persen dalam pengumpulan opini ini yang memiliki anak laki-laki perokok. Sementara anak perempuan perokok proporsinya jauh di bawah anak laki-laki.

content

Hingga kini rokok masih menjadi persoalan di Indonesia. Jumlah perokok tak kunjung menurun, tetapi sebaliknya justru cenderung bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun. Mengacu pada data Riset Kesehatan Dasar 2013, terjadi peningkatan jumlah perokok dan pengunyah tembakau selama tahun 2007-2013. Dalam kurun waktu itu tercatat peningkatan sebesar 2,1 persen jumlah perokok aktif di Indonesia dari semula 34,2 persen menjadi 36,3 persen. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan kelompok penduduk berusia 15 tahun ke atas.

Pada kelompok usia tersebut juga diketahui bahwa laki-laki mendominasi jumlah perokok di Indonesia. Pada tahun 2013 tak kurang dari 64,9 persen laki-laki memiliki kebiasaan merokok secara aktif, sementara jumlah perempuan perokok hanya 2,1 persen. Yang cukup memprihatinkan, terdata sebanyak 1,4 persen anak usia 10-14 tahun sudah aktif merokok.

Selain perokok yang terus bertambah, jumlah batang rokok yang dihisap pun rata-rata di Indonesia telah mencapai 12,3 batang per hari atau setara dengan sebungkus rokok. Perilaku ini berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya di Indonesia.

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah provinsi dengan konsumsi rokok terendah yaitu menghabiskan 10 batang sehari. Sebaliknya, perokok di Provinsi Bangka Belitung adalah yang tertinggi, menghabiskan 18 batang perhari atau hampir dua kali lipat dari perokok di DIY. Urutan kedua ditempati Provinsi Riau di mana para perokoknya menghabiskan tak kurang dari 16-17 batang rokok sehari.

Ditinjau dari latar belakang pekerjaan, mereka yang bekerja sebagai petani dan nelayan (44,5 persen) yang notabene berpenghasilan rendah adalah golongan pekerja yang paling banyak mengkonsumsi rokok. Semakin tinggi tingkat ekonomi, semakin kecil proporsi penduduk yang memiliki kebiasaan merokok.

Prihatin

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1 persen (1995) menjadi 20,5 persen (2014). Data RS Persahabatan (2013) menyebutkan, tingkat adiksi pada anak SMA yang merokok cukup tinggi yaitu 16,8 persen. Artinya, satu dari setiap lima remaja yang merokok, telah mengalami kencaduan.

Aktivis  yang tergabung dalam Smoke Free Agents saat menyampaikan aspirasi mereka menyuarakan bahaya asap rokok di area kawasan bebas kendaraan bermotor di Jakarta, Minggu (5/6/2016). Kegiatan dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tersebut juga mendesak pemerintah untuk lebih menunjukkan kebenaran bahaya asap rokok dengan meningkatkan peringatan bergambar pada bungkus rokok.
Kompas/HERU SRI KUMOROAktivis yang tergabung dalam Smoke Free Agents saat menyampaikan aspirasi mereka menyuarakan bahaya asap rokok di area kawasan bebas kendaraan bermotor di Jakarta, Minggu (5/6/2016). Kegiatan dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tersebut juga mendesak pemerintah untuk lebih menunjukkan kebenaran bahaya asap rokok dengan meningkatkan peringatan bergambar pada bungkus rokok.

Keluarga, terutama Ibu, memiliki peran besar dalam membentuk perilaku anak terkait rokok. Ayah pun punya andil dengan memberi teladan contoh perilaku tidak merokok pada anak. Perhatian lebih besar dari keluarga juga harus ditujukan pada kasus kecanduan rokok.

Konsumsi rokok tidak hanya diminati oleh kaum laki-laki. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, prevalensi atau jumlah kasus perempuan perokok meningkat dalam kurun waktu 1995-2013 dari semula 4,2 persen menjadi 6,7 persen. Pada tahun 2013 ada tujuh perempuan perokok di antara 100 orang perempuan, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 1995.

Selain memiliki efek buruk, perempuan perokok dipandang negatif oleh para ibu. Merokok sebagai bentuk kebebasan dan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki tampaknya belum berterima sehingga tidak "diamini" oleh mayoritas publik.

Tak kurang dari 93 persen ibu rumah tangga menyatakan bahwa citra perempuan perokok sangat jauh dari positif alias buruk. Bahkan, semua ibu dari tingkat pendidikan, baik rendah, menengah, hingga tinggi bersikap antipati terhadap kebiasaan merokok di kalangan perempuan.

Mitos tentang rokok sebagai sumber inspirasi dan untuk meningkatkan kepercayaan diri pun ditolak mentah-mentah. Secara tak langsung, para ibu sesungguhnya bersikap protektif terhadap keluarga terkait dengan kebiasaan merokok. Mereka paham, bahaya kesehatan seperti penyakit asma, paru kronis, jantung, dan kanker yang mungkin ditimbulkan oleh rokok mengintai keselamatan anggota keluarga jika kepulan asap rokok berkeliaran di dalam rumah.

(Litbang Kompas)

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas