Rubrik

opini > kolom > Panen Air dengan Embung


Duduk Perkara

Panen Air dengan Embung

"Mulai tahun depan, setiap desa di Indonesia diwajibkan memiliki embung tadah hujan."

Hal itu dikatakan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (23/11/2016). Ia menyebutkan, embung atau sarana penampungan air hujan wajib ada untuk keperluan pengairan desa. Anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan embung di desa itu diperkirakan mencapai Rp 300 juta-Rp 500 juta. Dengan anggaran tersebut, desa dianggap mampu membangun embung yang dapat memberikan banyak manfaat bagi kemajuan desa.

Keberadaan embung untuk keperluan irigasi pertanian di wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau atau di wilayah tadah hujan sudah menjadi kebutuhan mutlak. Hal itu juga terjadi di desa-desa di beberapa wilayah di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, salah satunya Desa Wonolelo, Kecamatan Plered. Desa Wonolelo merupakan daerah pertanian tadah hujan. Oleh karena itu, ketersediaan air secara berkala sangat dibutuhkan untuk keperluan irigasi padi sawah yang merupakan mata pencarian utama sebagian besar penduduk selain tanaman tembakau.

Menurut Pujiastuti, Kepala Desa Wonolelo, selama ini petani di desanya hanya bisa panen padi satu kali dalam setahun karena hanya mengandalkan air pada musim hujan. Ketiadaan pasokan air irigasi yang mampu mengaliri lahan pertanian sepanjang tahun menjadi penyebabnya. Pada musim kemarau, terlebih kemarau panjang, desa ini sering mengalami bencana kekeringan. Saat kemarau, di lahan sawah umumnya muncul rekahan-rekahan yang cukup lebar akibat kekeringan sehingga tidak bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman, terutama padi, yang membutuhkan banyak air. Akibatnya, produksi padi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa sendiri karena hanya panen sekali dalam setahun.

Oleh karena itu, untuk mengatasi kekeringan akibat kurangnya pasokan air untuk irigasi di Desa Wonolelo, timbul gagasan untuk membuat embung atau penampungan air hujan. Menurut Muhyidin (51), salah seorang penggagas pembuatan embung di Wonolelo, ide pembuatan embung adalah untuk memanfaatkan air hujan yang jumlahnya cukup melimpah pada musim hujan.

"Idenya adalah kalau ada embung, kita bisa panen air hujan saat musim hujan untuk ditampung sementara. Air hujan, kan, tidak semuanya tertampung untuk sawah. Nanti pada saat tertentu air di embung itu bisa dimanfaatkan. Contohnya, saat menggarap sawah ini. Saat membajak sawah, mengolah tanah, kan, perlu air akibat kekeringan. Air di embung bisa dialirkan ke sawah. Nah, nanti diisi lagi untuk keperluan bethatan," kata Muhyidin menjelaskan.

Bethatan adalah periode saat musim hujan ada jeda beberapa waktu tidak ada hujan turun. "Terkadang bethatan ini waktunya tidak pas atau tidak sesuai dengan rencana kita. Akibatnya, ada saat-saat kritis jika tanaman tidak mendapat pasokan air bisa mati. Nah, kalau ada embung air ini bisa dimanfaatkan," kata Muhyidin.

Bantuan JRF

Pembuatan embung di Desa Wonolelo merupakan bagian dari pemanfaatan dana hibah program rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa di DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat kerja sama Bappenas dan Java Reconstruction Fund (JRF), lembaga multidonor yang dikoordinasi Bank Dunia. Selain program-program rekonstruksi, seperti membangun perumahan warga, pembangunan embung merupakan bagian dari program JRF dalam hal rehabilitasi, yakni strategi pengurangan risiko bencana. Dalam hal ini risiko bencana kekeringan.

"Kami memang memasukkan pembangunan embung ini dalam program JRF tahun 2009. Jadi memanfaatkan dana yang ada untuk kebutuhan masyarakat. Kami mengusulkan 33 embung, tetapi yang direalisasikan oleh JRF hanya 11 embung," papar Muhyidin.

Satu buah embung berukuran panjang 4 meter, lebar 3 meter, dan kedalaman 3 meter atau berkapasitas 36 meter kubik. Biaya pembuatan satu embung total Rp 33 juta, terdiri dari Rp 25 juta untuk bangunan embung dan Rp 8 juta untuk pembuatan pagar keliling. Sementara itu, kebutuhan lahan yang digunakan untuk pembangunan embung menggunakan lahan penduduk tempat embung itu dibangun.

"Tidak ada biaya untuk penggantian lahan, tetapi dibuat surat perjanjian dengan pemilik lahan untuk menghindari persoalan pada masa mendatang," kata Muhyidin.

Di Desa Wonolelo, sebelum dibangun embung bantuan JRF tersebut pada sekitar tahun 2003 telah dibangun beberapa embung oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Bantul untuk keperluan irigasi perkebunan tembakau rakyat. Embung-embung tersebut dibangun di sekitar lahan-lahan yang ditanami tembakau. "Keberhasilan embung yang dibangun Dinas Perkebunan inilah yang menginspirasi kami untuk mengajukan usul pembangunan embung kepada JRF untuk kebutuhan sawah," ujarnya.

Hingga saat ini embung-embung bantuan JRF masih berfungsi dan sudah terbukti membantu mengatasi kekeringan di Wonolelo. Namun, embung-embung tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan petani seluruhnya karena jumlahnya masih jauh dari kebutuhan.

"Berdasarkan hitungan kami, Wonolelo perlu 33 embung, tetapi JRF baru membangun 11 embung. Jadi, masih kurang. Baru sekitar 30 persen memenuhi kebutuhan petani. Untuk memenuhi kekurangan pasokan air tersebut, warga di sini terpaksa membuat sumur sendiri, memompa air dari sumber-sumber air yang ada. Tentu saja hal ini menjadi beban tambahan buat warga," jelas Muhyidin.

Oleh karena itu, jika program pembuatan embung di setiap desa yang dicanangkan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi benar-benar bisa terlaksana, hal ini akan menjadi kabar baik bagi warga di Desa Wonolelo ataupun desa-desa lain yang memiliki persoalan yang sama. Alhasil, kesejahteraan mereka ke depan akan menjadi lebih baik. Semoga.

(Litbang Kompas)

    Baca Juga

    • Jangan Buang Air Sembarangan

      Air senantiasa mengiringi aktivitas manusia, baik untuk keperluan pribadi maupun produksi. Seiring bertambahnya jumlah manusia di bumi, kebutuhan air juga sejalan dengannya. Pada musim kering seperti

    • Pengeluaran Bertambah Saat Kemarau

      Salah satu isu yang menghiasi layar kaca dan berita media massa beberapa waktu ini adalah soal kekeringan. Kondisi yang hadir setiap musim kemarau panjang itu tampaknya cukup meluas tahun ini. Kemarau

    • Pembangunan Embung Jadi Prioritas

      KUTAI KERTANEGARA, KOMPAS Pemerintah menunjukkan komitmen membangun desa dengan terus meningkatkan anggaran dana desa. Selain infrastruktur jalan, dana desa juga diharapkan diprioritaskan untuk memban

    • Kilas Daerah

      Banjir di Lereng Merbabu, Satu TewasMAGELANG — Banjir air bercampur lumpur terjadi di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (20/3). Akibat kejadian tersebut, seora

    • Jangan Salahkan Cuaca Berubah

      Meningkatnya intensitas curah hujan ekstrem menunjukkan hadirnya perubahan iklim yang dipicu pemanasan global. Namun, merosotnya daya dukung lingkungan dan lemahnya mitigasilah yang menyebabkan bencan

    • Ubah Paradigma Soal Air Hujan

      JAKARTA, KOMPAS Selain melanjutkan berbagai program pengerukan sungai, waduk, dan saluran air untuk menghadapi musim hujan yang akan datang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengimbau warga mengu

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas