Rubrik

sosok > Pemulung yang Menambal Jalan

Sosok Halaman 16 Kompas

Pemulung yang Menambal Jalan

Kompas/Erwin Edhi Prasetya

Sadiyo (64) gelisah melihat lubang-lubang menganga di jalan beraspal yang mengancam keselamatan jiwa siapa pun yang melintas. Tak ingin ada korban, ia turun tangan sendiri menambal lubang-lubang itu dengan semen, pasir, dan kerikil. Proyek itu ia biayai sendiri dari hasil memulung.

Di bawah terik panas matahari, Sadiyo yang sehari-hari mengais rezeki sebagai pemulung menambal jalan yang berlubang besar di ruas Gondang-Tanjungan, Sragen, Jawa Tengah. Ia sudah menyiapkan semen yang dibelinya dari hasil menjual barang bekas seperti kertas, kardus, dan plastik.

"Apa pun yang saya temukan di pinggir jalan, pasir, kerikil, batu, saya bawa untuk nambal. Yang penting saya tidak mencuri," ujar Sadiyo, warga Dukuh Grasak, Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Sragen, Jumat (3/3).

Pasir dan kerikil dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diangkut dengan becak tua miliknya yang telah berkarat di sana-sini. Becak reyot itu dipenuhi barang rongsokan hasil memulung. Di antara tumpukan rongsokan itu terselip perlengkapan tukang bangunan, seperti cetok kayu (alat untuk memplester tembok) dan ember.

Untuk membuat adonan semen dan pasir, Sadiyo memanfaatkan air yang mengalir di saluran irigasi sawah di pinggir jalan. Ia terampil membuat adonan semen dan pasir meskipun tidak punya pengalaman menjadi tukang bangunan. Dengan cekatan, ia menambal lubang jalan dan memberi tanda agar tidak dilindas kendaraan.

"Saya ikhlas melakukan ini. Tidak ada pamrih apa pun. Saya hanya ingin mengurangi kecelakaan," kata Sadiyo yang memiliki nama tua Sadiyo Cipto Wiyono. Nama tua dalam tradisi Jawa biasanya diberikan setelah seseorang dewasa dan menikah.

Terperosok

Sadiyo mulai bergerilya menambal lubang jalan sejak April 2012. Itu dilakukan setelah Sadiyo mendapat pengalaman buruk mengalami kecelakaan gara-gara jalan berlubang. Ia masih ingat betul, ketika itu 7 Maret 2012, ia berniat menjual barang bekas hasil memulung selama seminggu. Ia mengangkutnya dengan becak.

Ketika hari masih pagi, Sadiyo mengayuh becak menuju Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, untuk menjual rongsokan itu kepada pengepul. Jalan kabupaten ruas Gondang-Banaran selebar 4-5 meter yang dilaluinya itu rusak berat. Banyak lubang jalan bertebaran. Di tengah perjalanan, ia bersaing dengan para pengguna jalan lain untuk mendapatkan bagian jalan yang masih baik.

Apa daya, becak Sadiyo kalah bersaing. Rodanya terperosok ke dalam lubang. Kakek tujuh cucu itu terjatuh dan tercebur ke selokan di pinggir jalan. Becaknya rusak berat. Rodanya penyok tak karuan. Sejak saat itu, ia tidak bisa diam saat melihat jalan berlubang. Ia turun tangan sendiri menambal lubang-lubang jalan di ruas jalan Gondang-Banaran, Sragen. "Uang saya waktu itu Rp 50.000. Saya belikan semen satu zak," ujarnya.

Sadiyo mulai menambal lubang jalan di mana becaknya terperosok. Setelah itu, ia melanjutkan menambal lubang lainnya di ruas Gondang-Banaran sejauh 5 kilometer. Saking bersemangat menambal jalan, setiap mendapat uang dari hasil memulung, ia belikan semen. Bahkan, ia sempat berutang pada kas RT di kampungnya karena pendapatannya terkuras untuk membeli semen. Hingga kini pun, ia masih menyisakan utang sebesar Rp 1,5 juta.

Ia menuntaskan misi menambal jalan Gondang-Banaran pada Juni 2012. Tapi, Sadiyo tidak lantas berhenti karena lubang-lubang baru muncul dan lubang yang telah ditambalnya rusak kembali. "Kalau jualan rosok (barang bekas) dapat lebih dari Rp 100.000, saya berani beli semen. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk makan. Kalau hasil jualan di bawah Rp 100.000, ya enggak berani beli semen, untuk kebutuhan keluarga saja," katanya.

Penghasilan dari memulung tidak pasti. Sadiyo biasa menjual barang bekas setiap satu minggu sekali kepada pengepul. Kadang ia memperoleh Rp 100.000 lebih. Jika kurang beruntung, ia mengantongi kurang dari Rp 100.000. Pendapatan itu dia sisihkan untuk membeli semen seharga Rp 48.000 per zak.

Tumirah (67), istri Sadiyo, tidak protes. Ia justru bersyukur suaminya mengabdikan diri untuk orang lain. Tidak hanya jalan ruas Gondang-Banaran, Sadiyo menambah daya jelajahnya untuk menambal jalan berlubang di ruas Gondang-Tunjungan. Ruas jalan ini berjarak sekitar 4 kilometer.

Sadiyo mulai menambal ruas ini setelah seorang tetangganya terjatuh gara-gara jalan berlubang hingga harus menjalani opname di rumah sakit di Solo. "Kasihan kalau ada orang yang jatuh lagi," katanya.

Buah karya Sadiyo terlihat di banyak titik jalan. Meski konstruksi tambalan dari semen dan pasir itu mudah rusak kembali, Sadiyo tidak menyerah. Setiap menemukan jalan berlubang, ia jadikan target berikutnya. Walaupun tidak bisa langsung menambal, ia akan kembali datang untuk menambalnya jika mendapat cukup rezeki untuk membeli semen.

Suatu kali ketika sedang menambal jalan, Sadiyo pernah didatangi dan dimarahi seseorang berbaju seragam pegawai negeri lantaran menambal jalan semaunya sendiri. Namun, itu tak menyurutkan langkahnya. "Itu, kan, tambalan darurat, sementara saja, sampai pemerintah bisa memperbaiki semua jalan," katanya.

Makin renta

Sadiyo menjadi pemulung sejak tahun 2000. Sebelumnya, ia merantau ke Jakarta dan menjadi tukang becak di daerah Kramatjati pada 1984. Ketika Pemerintah DKI Jakarta melarang becak beroperasi di Jakarta, Sadiyo pulang kampung pada 1990.

Sepulang dari Jakarta, ia tetap menjadi tukang becak dan istrinya berjualan caping (topi lebar dari bambu). Seiring pertambahan sepeda motor, penumpang becak semakin sedikit. Penghasilan tukang becak pun makin minim. "Kadang sehari dapat penumpang, kadang tidak ada sama sekali," ujarnya.

Sadiyo akhirnya beralih menjadi pemulung. Awalnya, ia mendapat penumpang yang berjualan barang bekas. Penumpang itu memberi saran agar ia menjadi pemulung saja karena penghasilannya lebih baik.

"Pertama kali jualan rosok dapat Rp 12.000, saya senang sekali, jadi bersemangat. Itu lebih banyak dibanding mbecak. Sejak itu saya jadi pemulung," katanya.

Sambil tetap mengayuh becak tuanya, Sadiyo yang makin renta keluar masuk kampung mencari barang-barang tak terpakai, mulai dari kertas, kardus, plastik, besi, kaleng, hingga botol bekas minuman kemasan apa saja yang laku dijual. Barang yang diperolehnya dikumpulkan dulu di halaman rumahnya.

Rumah yang ditinggalinya itu relatif baik. Bagian dalamnya berlantai keramik putih, sedangkan bagian teras dipasangi keramik berornamen dengan ukuran 40 x 40 cm. Bagian depan rumah berjendela kaca hitam berukuran lebar-lebar. Rumah peninggalan orangtuanya itu berdinding tembok dan berukuran sekitar 8 x meter × 9 meter.

Tiga putranya yang dibekali pendidikan sekolah menengah atas telah mandiri. Mereka bekerja di Jakarta dan Cibinong, Jawa Barat. Anak sulungnya bekerja di perusahaan mi instan, adiknya di pabrik lantai keramik, dan si bungsu menjadi tenaga pemasaran buku.

Saat ini, Sadiyo tinggal bersama istrinya dan dua cucunya, yakni Pandu (12) dan Dila (7). Keduanya adalah anak dari almarhumah Fitri, putrinya. "Di sisa umur saya ini, saya abdikan (diri saya) untuk ngibadah," ujarnya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Maret 2017, di halaman 16 dengan judul "Pemulung yang Menambal Jalan".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas