Rubrik

sosok > Berbagi di Tempat Kerja

Sosok Halaman 16 Kompas

Berbagi di Tempat Kerja

KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Tempat produksi Mahkota Snack milik Endang Sri Mul Subekti (50) menjadi ruang berbagi dan rumah kedua untuk anak-anak karyawannya. Ruang itu sekaligus menjadi pondok bagi siapa saja yang datang mencari tambahan rezeki.

Sabtu (18/2) pagi, ruang produksi aneka penganan lokal seluas 900 meter persegi di Desa Gesing, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu ramai oleh sejumlah karyawan yang sibuk mengemas makanan olahan pisang hingga menggoreng kulit lumpia. Lutvi (6), anak salah seorang karyawan Endang, duduk di kursi kecil. Dia memotong-motong kulit pisang, sisa buah pisang yang diolah menjadi pisang aroma. Sembari menyapa karyawan, Endang mengingatkan Lutvi agar berhati-hati memakai pisau.

"Lutvi tetap diawasi orangtuanya. Ia tidak pernah mengganggu atau mengacaukan aktivitas produksi di pabrik," ujar Endang.

Lutvi bukan satu-satunya anak yang dibawa orangtuanya ketika bekerja di ruang produksi Mahkota Snack. Ada beberapa anak lain usia TK hingga SD yang sering dibawa ke tempat usaha sekaligus rumah pribadi Endang itu.

Endang tidak keberatan. Ia membiarkan saja anak-anak bermain di teras, halaman, atau sekitar ruang produksi. Tak jarang, yang jadi "mainan" bagi anak-anak itu adalah pisang atau gulungan adonan yang sebenarnya dipakai untuk proses produksi. Lutvi yang jemu memotong-motong kulit pisang, misalnya, tiba-tiba beranjak, lantas duduk di dekat ibunya dan ikut menggulung adonan kulit yang membalut pisang. Endang tidak mempermasalahkan hal tersebut.

"Bermain-main, ikut pura-pura bekerja seperti ibunya adalah bagian dari cara mereka melepaskan diri dari kebosanan. Itu wajar buat anak-anak," lanjutnya.

Endang membuka usaha olahan makanan Mahkota Snack pada 2005. Dia memproduksi beragam produk makanan ringan, seperti pisang aroma, keripik pisang, dan keripik kulit pisang. Sejak 2007, pisang aroma buatan Endang diekspor hingga Selandia Baru.

Sejak lima tahun lalu, Endang juga mengolah dan memproduksi kopi bubuk dengan merek Exelsa. Ide itu muncul melihat potensi pertanian kopi yang besar di desanya. Di Desa Gesing, luas lahan perkebunan kopi sekitar 118 hektar dengan produktivitas 52 kuintal per hektar. Selama ini, sebagian besar produksi kopi dijual oleh petani tanpa diolah terlebih dahulu.

Membantu warga

Adapun ide membuat pisang aroma, kata Endang, muncul setelah dirinya bersama kelompok Dasa Wisma-kelompok ibu dari 10 keluarga yang bertetangga dengan Endang-mendapat pelatihan membuat jajanan aneka pisang dari Pemerintah Kabupaten Temanggung.

Memulai usaha dengan modal Rp 1 juta dari dana pribadi, usahanya terus menggeliat. Berikutnya ada bantuan pinjaman kredit usaha termasuk dari Bank Jateng sebesar Rp 50 juta.

Sejak awal merintis bisnis kudapan lokal, Endang berharap usahanya bisa ikut meringankan beban warga di sekitarnya. Apalagi, di Gesing, desa kecil yang berjarak sekitar 8 kilometer arah utara pusat kota Temanggung, termasuk daerah tertinggal. Dari 1.529 keluarga di desa itu, 829 keluarga masih masuk kategori miskin.

Semangat berbagi itu ditunjukkan Endang melalui aturan kerja yang tidak membebani mereka. Dia membebaskan karyawan bekerja sembari membawa anak. Itu dilakukan karena Endang ingin membantu karyawannya yang mayoritas perempuan agar dapat menjaga anak sembari tetap bekerja.

"Dengan membawa anaknya kemari, para karyawan yang juga para ibu juga bisa lebih tenang dan lebih semangat bekerja," kata Endang.

Mayoritas karyawan Endang berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka umumnya kerap dihadapkan pada dilema: tetap bekerja untuk mendapatkan uang atau mengurus anak di rumah. Endang berpikir, membolehkan mereka membawa anak ke tempat kerja menjadi solusi terbaik.

"Daripada membiarkan anak di rumah atau dititipkan ke tetangga. Itu lebih berisiko. Anak bisa keluyuran dan mengerjakan sembarang kegiatan tanpa pengawasan," ujarnya.

Bekerja dengan membawa anak sebenarnya menjadi konsep yang ia jalankan sendiri. Sejak memulai usaha, Endang pun sering membawa kedua anaknya-saat itu masih SD dan SMP-untuk melihat dan sesekali mengikuti aktivitas produksi dari usaha yang dikelolanya.

Menurut Endang, itu adalah bagian dari metode mendidik yang penting diterapkan kepada anak. Cukup dengan melihat pekerjaan orangtuanya, secara otomatis akan tumbuh kesadaran dalam diri anak bahwa mencari uang tidak gampang dan perlu kerja keras. Selain itu, tiap anak juga akan lebih menghormati dan menghargai orangtuanya, berikut dengan semua hasil kerja kerasnya.

Endang memprioritaskan merekrut warga di desanya sendiri yang kebanyakan masih butuh tambahan penghasilan. Suami mereka sebagian besar bekerja sebagai buruh bangunan dan sopir. Itu jadi saluran baginya untuk membantu sesamanya.

Terbuka bagi semua

Rumah produksi milik Endang acap kali didatangi anak-anak dan remaja, siswa SD, hingga SMA hanya sekadar mencari uang tambahan. Anak-anak dan remaja ini biasanya ramai berdatangan saat bulan puasa atau libur sekolah. Tanpa paksaan, anak-anak yang umumnya dari keluarga kurang mampu itu membantu apa saja demi mendapatkan imbalan.

"Ada yang mengaku ingin punya uang untuk beli pulsa, beli bedak, aksesori, atau mainan. Menjelang Lebaran, banyak anak juga ingin bekerja karena ingin memiliki uang untuk membeli baju baru sendiri," ujarnya.

Harapan sederhana dari mereka itulah yang membuat hati Endang terketuk dan menerima mereka bekerja paruh waktu. Kepada mereka, dia tidak menerapkan target tertentu. Walau begitu, hasil kerja anak-anak dan remaja itu sangat memuaskannya.

"Beda dengan karyawan dewasa yang cenderung bekerja cepat demi menghasilkan banyak hasil, anak-anak biasanya bekerja lebih lambat, tetapi hati-hati. Di bagian penggulungan pisang, misalnya, hasil mereka lebih rapi, bagus, dan benar-benar sesuai standar," tuturnya.

Kini, Endang memiliki sekitar 15 karyawan tetap dan 39 karyawan lepas. Kepada mereka, khususnya remaja karyawan lepas, dia selalu menyuntikkan motivasi agar mereka mampu mengembangkan semangat wirausaha dan lepas dari belenggu kemiskinan.

"Mudah-mudahan, setiap anak yang kemari, termasuk anak-anak karyawan, kelak bisa terinspirasi, termotivasi untuk bekerja keras dan melakukan wirausaha secara mandiri," ucap Endang penuh harap.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Maret 2017, di halaman 16 dengan judul "Berbagi di Tempat Kerja".

    Baca Juga

    • Sehat Bersama Pisang

      Oleh: Agnes Endratni Haryadi Ilustrasi: Lily Zhai Horeee, Papa bawa pisang goreng keju!“ Teriak adik mengagetkanku dari tidur siang. Rudy, adikku, meloncat-loncat girang sambil memegang dus be

    • Polisi Bekuk Pelaku di Kawasan Puncak

      DEPOK, KOMPAS Kepolisian Resor Kota Depok menangkap seorang tersangka kasus penculikan dan pencabulan terhadap F, bocah perempuan berumur 10 tahun. Pelaku, berinisial MA (26), diketahui telah dua

    • Mencegah Penularan Difteri

      Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak usia sekolah, saya amat khawatir dengan berita penyakit difteri di sejumlah kota di Indonesia. Saya mempunyai dua anak, yang pertama berusia 12 tahun, kelas I S

    • ”Concert Hall” ala Bonita

      Rumah bagi pasangan Bonita (39) dan Petrus Briyanto Adi (Adoy) (42), motor kelompok Bonita & The Hus Band, menemukan makna kala di dalamnya ada tiga komponen: teman, keluarga, dan musik. Bersama Pram

    • Penyemangat Anak dengan Kanker

      Dalam keadaan sulit pun setiap manusia memiliki hak untuk hidup. Umur memang Tuhan yang menentukan. Namun, kesungguhan berusaha adalah tugas manusia.Inilah prinsip yang dipegang teguh Ratna Eliza keti

    • Ledakan Pabrik Tewaskan 5 Orang, 57 Luka-luka

      BEKASI, KOMPAS Ledakan keras yang diikuti kobaran api menghanguskan ruang produksi minyak wangi PT Mandom Indonesia Tbk di kawasan industri MM 2100, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jumat (

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas