Rubrik

sosok > Berbagi Lewat Eceng Gondok

Sosok Halaman 16 Kompas

Berbagi Lewat Eceng Gondok

Kompas/Karina Isna Irawan

Berkat kreativitas Sri Wahyuni (43), kerajinan eceng gondok dikenal hingga mancanegara. Tidak hanya memanggungkan kerajinan lokal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sri juga berhasil menumbuhkan rasa cinta kaum muda pada produk dalam negeri.

Sri bersama suami, Haryono (42), mulai merintis bisnis kerajinan eceng gondok pada awal 2000. Usaha yang diberi nama Abi Citra Kusuma itu memproduksi aneka jenis barang, seperti tas, sandal, sepatu, tempat tisu, dan keranjang cucian. Semuanya berbahan dasar tanaman eceng gondok. Bahan itu dipilih karena persediaannya melimpah.

Usaha milik Sri berada di Desa Tegaron, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sekitar 2 kilometer dari Danau Rawa Pening. Di danau seluas 2.760 hektar itu, eceng gondok tumbuh subur. Serat-serat eceng gondok di Rawa Pening cukup padat dan kuat sehingga cocok dijadikan bahan baku kerajinan.

Saat ditemui Kompas, Minggu (26/2) pagi, Sri sedang menerima kunjungan kuliah lapangan 25 mahasiswa Politeknik Stibisnis Semarang. Kunjungan yang berlangsung sekitar tiga jam itu begitu hidup. Sri dibanjiri puluhan pertanyaan seputar bisnis yang telah digelutinya selama 17 tahun.

Kunjungan tersebut tidak sekadar dilihat sebagai peluang untuk promosi. Sri juga memanfaatkannya untuk menumbuhkan kecintaan kaum muda pada produk dalam negeri.

Rasa cinta itu ditumbuhkan Sri dengan mengajak peserta menyelami proses pembuatan produk. Mereka diajak langsung mencari eceng gondok, mendesain pola, menjahit produk, hingga memasarkannya. Menurut Sri, kecintaan terhadap produk dalam negeri tumbuh ketika mereka mengetahui kesulitan dan keunggulan produk tersebut.

Beberapa tahun terakhir, rumah produksi Sri rutin dikunjungi sejumlah mahasiswa dan anak-anak yang ingin belajar pembuatan kerajinan eceng gondok. Rumah itu tidak pernah sepi karena belasan mahasiswa dan siswa sekolah menengah kerap menginap setiap bulannya.

Karena aktivitas tersebut, Sri ditunjuk Kementerian Perindustrian untuk mengajar sekaligus memotivasi pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sejumlah wilayah, antara lain Lampung, Demak, dan Kudus. Sri secara khusus menyiapkan modul yang berisi cara membuat pola dan desain, memilih bahan baku, hingga proses produksi kerajinan dari bahan eceng gondok.

"Saya biasanya ngajar ke daerah-daerah penghasil eceng gondok. Saya juga melatih ibu rumah tangga di sekitar desa dua kali dalam sepekan," katanya.

Korban PHK

Sri berkisah, usaha kerajinan eceng gondok yang dirintisnya berawal dari kondisi ekonomi keluarganya yang turun. Krisis moneter mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di DI Yogyakarta pada 1998. Kejadian itu menimpa sang suami, Haryono, yang bekerja sebagai buruh pabrik kulit. Haryono dan keluarga memutuskan pulang ke kampung halaman Sri di Tegaron.

Menyaksikan melimpahnya bahan eceng gondok di Rawa Pening dan dikeluhkan para nelayan, Sri jadi terinspirasi untuk memanfaatkannya. Dia pun mencoba memakai eceng gondok untuk dijadikan tas gendong berbentuk tabung. Tas itu lantas digunakan Haryono untuk menjual aneka bumbu dapur, seperti kemiri, merica, dan ketumbar. Dia keliling menjual bumbu dari desa ke desa menggunakan sepeda.

"Sepanjang jalan, tas itu dipuji banyak orang. Mereka bilang unik, beberapa tetangga lalu minta dibuatkan," ucap Haryono.

Pada tahun 2000, Sri mengikuti lomba membuat cendera mata di Kabupaten Semarang. Dia membuat tas, dompet, dan sandal berbahan eceng gondok. Tak diduga, karyanya menyabet juara pertama dan dinobatkan sebagai kerajinan lokal Kabupaten Semarang. Sejak saat itu, Sri dan Haryono rutin diikutsertakan dalam berbagai pameran dan pelatihan usaha kecil menengah.

Tujuh tahun berselang, usaha kerajinan eceng gondoknya semakin berkembang. Sri mampu mengekspor produknya hingga ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan Belanda. Ekspor rutin dilakukan setiap tiga bulan mulai 2007 hingga 2012. Dia juga memanggungkan kerajinan lokal Kabupaten Semarang itu sampai ke Hongkong dalam pameran bertajuk Hongkong Mega Show 2009.

Saat itu, kerajinan eceng gondok belum diminati konsumen dalam negeri. Segmen pasar yang menyasar kelas menengah ke atas ditengarai jadi salah satu penyebab. Meski demikian, Sri tetap mengirim produknya ke kota-kota besar di dalam negeri, seperti Semarang, Bali, dan Batam. Omzet bisnisnya mencapai ratusan juta per tiga bulan.

Namun, roda kehidupan terus berputar. Ekspor kerajinan eceng gondok terhenti pada 2012 setelah negara-negara tujuan ekspor mengubah perjanjian transaksi jual-beli. Mereka meminta produksi dipercepat dari tiga bulan menjadi satu bulan saja.

"Kalau kami tidak berhasil nanti kena penalti 10 persen. Daripada bunuh diri, lebih baik kami mengakhiri (kerja sama)," katanya.

Sentuhan modal

Berkat keuletannya, Sri mendapat suntikan modal dari Bank Jateng Rp 25 juta tanpa jaminan apa pun. Modal itu diperoleh Sri setelah mengajukan proposal kegiatan dilengkapi sejumlah dokumen dan foto.

Selain jumlah yang melimpah, eceng gondok juga dipilih karena harganya relatif murah, yakni Rp 5.000 per kilogram. Dalam sehari, Sri membutuhkan eceng gondok sekitar 50 kilogram, bergantung pada jumlah dan jenis pesanan. Satu jenis kerajinan membutuhkan sekitar 1 kilogram eceng gondok. Sri juga mencoba bahan baku lain, seperti pelepah pisang dan tebu.

Pengerjaan kerajinan eceng gondok sangat bergantung pada kondisi cuaca. Saat musim hujan, proses pengeringan eceng gondok lebih lama sehingga produksi dipastikan menurun.

Pengeringan yang biasanya paling lama tiga-empat hari, saat musim hujan molor menjadi lebih dari satu minggu. Kualitas eceng gondok pun menurun karena daun tidak berwarna putih dan muncul bintik-bintik warna hitam.

Keterampilan perajin juga menentukan kualitas produk. Pegawai yang tidak memiliki jiwa seni cenderung kurang telaten dan rapi. Di Banyubiru, misalnya, cukup sulit mendapatkan pegawai karena mereka lebih memilih bekerja di pabrik. Usaha bertema kerajinan tangan tidak banyak menarik perhatian.

Meski demikian, aneka kendala itu tidak menjadi penghalang bagi Sri untuk tetap berkarya. Kendala dianggapnya sebagai tantangan yang memacunya untuk maju.

Alih-alih terbuai barang-barang ekspor bermerek, Sri sangat berharap produk-produk berbahan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia bisa semakin dicintai kaum muda.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Maret 2017, di halaman 16 dengan judul "Berbagi Lewat Eceng Gondok".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas