Rubrik

sosok > Jiwa yang Menari

Sosok Halaman 16 Kompas

Jiwa yang Menari

Kompas/Priyombodo

Seniman tari Retno Maruti genap berusia 70 tahun pada 8 Maret lalu. Padneçwara, komunitas tari yang dibentuknya, tahun ini menapak usia 41 tahun. Ia merayakan lakon hidup sebagai penari lewat pameran fotografi di Bentara Budaya Jakarta, 8-14 Maret lalu. Ia juga menggelar pentas tari ”Arta Suka” di Taman Ismail Marzuki pada 16-17 Maret.

Retno Maruti adalah si jelita Dewi Sinta. Ia adalah Kijang Kencana yang lincah. Itulah sebagian peran yang ditarikan Putri Solo itu. Sepotong laku hidupnya di jagat tari direntang dalam pameran fotografi Lakon Jawa dalam Koreografi Retno Maruti di Bentara Budaya Jakarta.

Sekitar 120 foto dari 13 fotografer itu memang kurang cukup untuk menggambarkan kiprah Retno selama lebih dari 50 tahun di jagat tari. Apa dan siapa Retno Maruti? Pandangan beberapa tokoh berikut ini mungkin akan menambah jelas potret sang penari.

Retno Maruti menjadi semacam representasi atas identitas kultural. Ia membawa wajah sebuah Indonesia dalam tari klasik Jawa-nya.

Rektor Institut Kesenian Jakarta Seno Gumira Ajidarma sampai merasa mempunyai ”utang budaya” kepada Maruti. Sebab, setelah menyaksikan pentas Retno ”Roro Mendut” pada 1977, Seno merasa menemukan rumah budaya, pijakan budaya. ”Ternyata saya punya rumah budaya,” ujar Seno yang membuka pameran fotografi Retno Maruti di BBJ.

Dalam bincang tari di BBJ, Jumat (10/3), tersampaikan bahwa Retno Maruti menjadi contoh totalitas dalam berkesenian. ”Apa yang disentuh Retno Maruti akan menjadi kesenian,” kata sastrawan Danarto.

Penari Nungki Kusumastuti menyebut apa yang dilakukan Retno Maruti itu bukan sekadar njoget, melainkan hambeksa. Retno Maruti tidak sekadar menggerakkan tubuh (njoget). ”Ada kesatuan integral antara teknik tari, filosofi tradisi Jawa, dan kehidupan,” ucap Nungki yang merupakan anggota keluarga besar Padneçwara.

Mudji Sutrisno SJ membahasakan hambeksa-nya Retno Maruti itu sebagai ruang dalam, ruang batin yang mampu menubuh. ”Jiwa yang menari melalui tubuh. Jiwa yang hambeksa untuk merayakan dan memuliakan kehidupan,” kata Mudji.

Belajar kehidupan

Padneçwara yang dibentuk Retno Maruti 41 tahun silam digagas lebih sebagai komunitas penghayat tari ketimbang sebagai sanggar atau studio. ”Karena kami bukan sekadar belajar berkesenian, melainkan juga belajar kehidupan. Kami saling belajar, saling berbagi, saling memberi. Itulah yang memperkuat persahabatan hingga bisa langgeng,” tutur Retno Maruti tentang Padneçwara.

Anggota Padneçwara sudah seperti sebuah keluarga besar. Ada anggota yang bergabung sejak mereka masih gadis hingga kemudian beranak cucu. ”Sampai ada yang tanya, kok penarinya ora ono sing enom, tidak ada yang muda, ha-ha-ha.... Saya bilang bahwa kami juga menggalang penari muda. Tetapi, penari-penari dewasa itu menari karena kebutuhan jiwa,” tutur Retno Maruti.

Anggota Padneçwara datang dari berbagai latar belakang. Ada yang penari profesional, tetapi banyak yang sehari-hari berprofesi di luar ranah kesenian, seperti dosen, sekretaris direktur, dan ibu rumah tangga. ”Mereka menari untuk melengkapi kehidupan. Mereka merasa mendapatkan keseimbangan dengan menari. Bukan sekadar bisa menari lalu selesai,” kata Retno Maruti.

Pentas tari, termasuk Arta Suka yang akan digelar 16-17 Maret ini, bukan semata menjadi tujuan untuk pentas itu sendiri, melainkan bagian dari kebutuhan jiwa. Dengan berpentas, Retno Maruti dan kawan-kawan ingin berbagi nilai-nilai dan kearifan hidup kepada khalayak luas.

Petapa

Memasuki usia 70 tahun yang jatuh pada 8 Maret lalu, Retno Maruti mensyukurinya sebagai anugerah luar biasa. ”Tak terasa saya sudah menghabiskan 70 kalender, ha-ha-ha....”

Bersyukur karena lakon hidupnya sebagai seniman tari diberi kemudahan. Ia merasa dilingkungi orang-orang yang sepaham dalam memaknai seni dan kehidupan.

Ia menggambarkan lingkungannya itu juga ikut menari. Ia lahir dari keluarga seniman di Baluwarti, kompleks Keraton Surakarta. Ayahnya, Susilo Atmojo, adalah peyungging dan penatah wayang kulit, serta dalang. Sang ibu, Siti Marsiyam, terampil membatik dan mendandani anak-anaknya di pentas tari.

Ia berguru tari kepada para maestro pada zamannya, termasuk pada Kusumo Kesowo, Sukorini (istri maestro jender Marto Pangrawit), penari keraton Laksminto Rukmi. Juga pada seniman tari Yogyakarta, Bagong Kussudiardja, dan Basuki Kusworogo. Retno Maruti belajar menembang pada Bei Mardusari dan Sutarman.

Ilmu tari Retno Maruti terasah lewat pentas. Ia ikut menari dalam pentas Sendratari Ramayana pada rentang tahun 1961-1968. Pada 1964, ia tampil di World Fair, New York, Amerika Serikat, selama delapan bulan. Ia juga tampil di Expo 70 di Osaka, Jepang.

”Saya memang hidup di lingkungan orang-orang yang ahli. Tetapi, kalau saya tidak mau peduli, tidak punya komitmen pada tari, ya, saya tidak akan jadi seperti ini. Dorongan dan kebutuhan pribadi untuk menari itu sangat menentukan,” tutur Retno Maruti.

Ia juga sangat terbantu oleh lingkungan yang disebutnya sebagai orang yang mau sayuk rukun, rela bersama dalam melakoni hidup sebagai penari. Termasuk seniman tari Sentot Sudhiarto yang juga suaminya, dan Rury Nostalgia, putri mereka yang juga seniman tari. Juga Padneçwara berikut penonton setia mereka. Banyak pula pendukung yang siap mendukung upaya Retno Maruti. ”Banyak uluran tangan dan mereka tidak ikut campur tangan dalam karya saya. Gawea sak karepmu, berkaryalah sesukamu, ha-ha-ha....”

Ia teringat ucapan adiknya, seniman serba bisa Hadjar Satoto. ”Bersyukur Mbak Mbuk, kowe iseh diwenang milih, diberi keleluasaan memilih,” ujar Retno Maruti menirukan ucapan adiknya yang memanggilnya dengan panggilan akrab Mbak Mbuk.

Ia bersyukur karena diberi kesempatan memilih lakon hidup dan menolak jalan hidup yang bukan menjadi pilihannya.

Pada suatu masa, seperti kawan-kawan sebaya pada zamannya, Retno Maruti bercita-cita menjadi sekretaris. Ia pun kuliah di Akademi Administrasi Niaga di Solo. Namun, panggilan hidup sebagai penari ternyata lebih kuat. Ia merasa diberi tambahan bekal untuk melakoninya ”Memilih jalan budaya, jalan berkesenian, itu sesuatu yang luar biasa,” kata Retno Maruti.

Dengan totalitas di jalan tari itu— dalam bahasa Mudji Sutrisno—Retno Maruti telah menjadi petapa dan pendoa dalam karya-karya tarinya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Maret 2017, di halaman 16 dengan judul "Jiwa yang Menari".

    Baca Juga

    • Keindahan adalah Retno Maruti

      Keindahan adalah Retno Maruti,” kata Seno Gumira Ajidarma pada pembukaan pameran foto Lakon Jawa dalam Koreografi Retno Maruti di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (8/3) malam.Se

    • Supraba yang Bernyali

      Kelompok tari Padneçwara mementaskan Ciptoning, salah satu koreografi paling berwarna yang pernah digubah maestro tari Retno Maruti. Satu-satunya koreografi Retno Maruti yang memanggungkan perpaduan b

    • Kerja Sama Pengamanan TIK

      Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) sepakat bekerja sama dalam mendukung peningkatan kualitas penyelenggaraan persandian dalam pengamanan teknologi in

    • Ketulusan Sinta di Panggung Padneçwara

      Maestro tari Retno Maruti memaknakan perjalanan 40 tahun menghidupi kelompok tarinya, Padneçwara, dengan karya tari yang digubahnya bersama Sulistyo Tirtokusumo, berjudul ”Kidung Dandaka”. Di panggung

    • Doa bagi Negeri Lewat Tarian

      Sanggar tari Padnecwara binaan koreografer Retno Maruti mempersembahkan empat tarian Jawa klasik berjudul ?Lelangen Beksan atau tetarian yang bervariasi. Empat tarian berdurasi rata-rata 10 menit per

    • ”Requiem” bagi Sang Kesatria

      Kematian bagi seorang kesatria tak pernah sia-sia. Ia pergi untuk memuliakan cinta dan merayakan martabat manusia. Itulah kematian seorang Karna atau Arka Suta dalam pentas langendriyan ”Arka Suta” ya

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas