Rubrik

sosok > Talenta Unik Juara All England

Sosok Halaman 16 Kompas

Talenta Unik Juara All England

Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo
Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya SukamuljoKompas/Priyombodo

Saat menyaksikan pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di lapangan pertandingan, penonton tak hanya menyaksikan permainan yang mengandalkan kecepatan. Kemampuan mengecoh lawan dengan pukulan ”aneh” juga menjadi kelebihan ganda putra juara turnamen bulu tangkis All England 2017 itu.

”Kemampuan Kevin Sukamuljo, saya tak pernah melihat itu sebelumnya!!! #sangatbertalenta”.

”Selalu menikmati permainan ganda putra, tetapi dengan adanya Kevin Sukamuljo, ganda putra menjadi permainan di level berbeda”.

Itu adalah cuitan pebulu tangkis Inggris, suami-istri Gabrielle dan Chris Adcock, melalui Twitter setelah Kevin/Marcus menjuarai All England. Dalam laga final di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, Minggu (12/3), ganda putra nomor satu Indonesia itu mengalahkan Li Junhui/Liu Yuchen (China), 21-19, 21-14.

Kevin memiliki kelebihan yang mengundang decak kagum tak hanya penonton, tetapi juga sesama atlet. Dia cerdik mengecoh lawan dengan kecepatan tangan dan kaki sehingga bisa menguasai lapangan depan dengan baik.

Saat mengalahkan pasangan Denmark, Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding, 19-21, 21-13, 21-17, di semifinal, misalnya, Kevin mengecoh lawan dengan servis panjang.

Di komunitas bulu tangkis, trik yang sering disebut dengan ”nyolong servis” ini dilakukan dengan mengarahkan servis ke area belakang lapangan. Padahal, nomor ganda sering kali memainkan servis pendek. Ini membuat lawan yang telah mengantisipasi servis pendek terkecoh.

Salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata, membandingkan bakat Kevin dalam melancarkan pukulan yang penuh trik dengan mantan pebulu tangkis Eddy Hartono dan Sigit Budiarto. Pujian ini juga pernah dikemukakan mantan pebulu tangkis Inggris, Gillian Clark, saat menjadi komentator turnamen Super Series Premier China Terbuka, November 2016. Saat itu, Kevin/Marcus juara.

Itu menjadi kombinasi yang tepat bagi Marcus sebagai ”tukang gebuk” di belakang lapangan. Marcus tak hanya memiliki smes keras, tetapi juga drop shot yang membuat lawan mati langkah.

Keduanya juga memiliki kesamaan mengandalkan permainan cepat. Keagresifan inilah yang akhirnya menjadi senjata untuk menghadapi lawan dengan postur lebih tinggi. Di semifinal dan final All England, Kevin dan Marcus yang bertinggi badan 170 sentimeter menaklukkan lawan dengan postur 190-200 sentimeter.

Pertahanan yang kuat juga sering kali membuat pasangan ini mendapat poin, justru, saat diserang lawan, seperti dari pengembalian smes yang diarahkan ke area lapangan kosong.

”Kalau dibilang unik, saya juga kurang tahu. Itu memang gaya permainan kami berdua,” ujar Kevin, yang tiba di Jakarta pada Selasa (14/3) malam. ”Ya, itu gaya permainan kami. Kami tidak bisa meniru gaya yang lain karena setiap orang punya karakter sendiri-sendiri,” timpal Marcus.

Meski demikian, Kevin menyatakan, apa yang mereka raih pada saat ini karena dirinya dan Marcus bisa saling mendukung di lapangan. ”Koh Sinyo itu punya tenaga kuat. Dia bisa menguasai lapangan belakang dengan bagus,” puji Kevin (21) yang berusia empat tahun lebih muda daripada Marcus yang sering dipanggil dengan nama Sinyo.

Sementara Marcus memuji Kevin yang cerdik dalam mengatur serangan di dekat net. ”Dia sangat bagus bermain di depan, mendukung permainan saya di belakang, karena main di depan tak mudah,” komentar Marcus.

Pantang menyerah

Kurniahu, ayah Marcus yang merupakan mantan pebulu tangkis nasional, bercerita, putranya tak pernah berhenti mengasah kemampuan meskipun telah menjuarai turnamen Super Series/Premier yang hanya berada satu level di bawah Kejuaraan Dunia atau Olimpiade. Saat libur latihan di pelatnas bulu tangkis di Cipayung, Sabtu siang hingga Minggu, Marcus selalu mengisi waktu libur di rumahnya dengan berlatih bersama ayahnya.

Pujian atas karakter Marcus ini juga dikemukakan Christian dan mantan partner Marcus, Markis Kido. ”Semangat belajarnya tinggi,” ujar Kido.

Tak hanya kemampuan teknis, tim pelatih menilai, semangat pantang menyerah yang tinggi telah membawa mereka pada prestasi yang melebihi ganda putra lain di pelatnas utama. Di lapangan, ini terlihat dari sikap ngotot meski tertinggal dalam perolehan angka.

Bakat Kevin, yang awalnya berlatih di PB Putra 46 Argopuro, Jember, lalu bergabung dengan PB Djarum, telah mengantarkannya berprestasi sejak level yunior. Pada 2013, setahun setelah bergabung ke pelatnas, dia menjadi finalis Kejuaraan Dunia Yunior untuk nomor ganda campuran bersama Masita Mahmudin.

Sementara Marcus pernah menunjukkan semangat pantang menyerahnya ketika keluar dari pelatnas pada 2013. Setelah tiga tahun berlatih di Cipayung, dia memutuskan berhenti berlatih di sana karena berbeda pendapat tentang pengiriman pemain ke All England.

Meski sempat kecewa dan berkeinginan berhenti bermain bulu tangkis, Marcus bangkit ketika ditawari berpartner dengan Kido pada 2013. Hanya dua bulan setelah menjalani debut di turnamen internasional, mereka menjuarai Super Series Perancis Terbuka pada Oktober. Itu diraih setelah keduanya menapaki final sejak babak kualifikasi.

Saat tak lagi berpasangan dengan Kido, Marcus pun kembali ke Cipayung atas usul salah satu pelatih pelatnas, Chafidz Yusuf. Dia direncanakan berpasangan dengan Kevin yang juga tidak punya pasangan karena partnernya, Selavanus Geh, sakit.

Tawaran resmi dari Rexy Mainaky, yang menjabat Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI pada 2014, diterima. Marcus pun memulai perjalanannya menuju pasangan top dunia bersama Kevin.

Pada debutnya di arena internasional tahun 2015, mereka tampil hingga perempat final All England. Pada tahun itu, mereka meraih satu gelar juara di level Grand Prix, yaitu di Taiwan.

Setahun berikutnya, duet yang mendapat julukan ”Minions” oleh para penggemar ini mulai diperhitungkan sebagai pesaing pasangan top dunia. Kevin/Marcus menjuarai tiga Super Series/Premier, yaitu di India, Australia, dan China.

Kini, setelah mewujudkan impian menjuarai All England, mereka berjanji akan selalu menjadi yang terbaik di setiap penampilan untuk menuju puncak podium Olimpiade Tokyo 2020.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Maret 2017, di halaman 16 dengan judul "Talenta Unik Juara All England".

    Baca Juga

    • Marcus/Kevin Menjaga Konsistensi

      ODENSE, KAMIS Ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, mempertahankan konsistensi penampilan mereka dalam turnamen bulu tangkis Super Series/Super Series Premier 2016. Pe

    • Optimisme Ganda Putra

      BANGKOK, JUMAT Indonesia menempatkan dua ganda putra di semifinal turnamen bulu tangkis Grand Prix Gold Thailand Terbuka. Ini menjadi salah satu indikator optimisme regenerasi di nomor itu meski tugas

    • Harapan dan Tantangan bagi Marcus/Kevin

      FUZHOU, MINGGU Dua gelar juara dari turnamen bulu tangkis Super Series Premier Tiongkok Terbuka, terutama dari Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, membuka asa akan munculnya pengganti Hend

    • Motivasi Antarkan Kevin/Marcus Jadi Juara

      KUCHING, MINGGU Keberhasilan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di Inggris dan India berlanjut ke Malaysia. Di tengah incaran pebulu tangkis ganda putra top dunia dan harus tampil dalam ko

    • Berharap Lagi Tradisi Emas dari Bulu Tangkis

      Musim 2015 menjadi musim yang berat bagi pebulu tangkis Indonesia. Ini menjadi musim paceklik gelar juara di tengah semakin ketatnya persaingan menuju Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Penggemar bulu tan

    • Si Mungil yang Pantang Menyerah

      Merayakan ulang tahun ke-21 sebagai juara tunggal putri All England 2016 merupakan momen yang luar biasa dalam kehidupan pebulu tangkis asal Jepang, Nozomi Okuhara. Pencapaian itu diraih melalui kerja

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas