Rubrik

sosok > Ada Sajak Apa Lagi, Den Sastro?

Sosok Halaman 16 Kompas

Ada Sajak Apa Lagi, Den Sastro?

Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko DamonoKompas/Frans Sartono

Penyair Sapardi Djoko Damono genap berusia 77 tahun pada 20 Maret 2017. Dalam rangka itu, akan diluncurkan tujuh buku karyanya di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (22/3) besok. Tampaknya gaya menulis sastrawan itu berubah dari masa ke masa, mulai dari ”Duka-Mu Abadi”, ”Hujan Bulan Juni”, ”Marsinah”, sampai ”Den Sastro”.

Marsinah buruh pabrik arloji,

mengurus presisi:

merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;

waktu memang tak pernah kompromi,

ia sangat cermat dan pasti.

Itu petikan sajak ”Dongeng Marsinah” karya Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisi Ayat-ayat Api. Buku tersebut menjadi salah satu dari tujuh buku penyair itu yang akan diluncurkan penerbit Gramedia Pustaka Utama di Bentara Budaya Jakarta.

Kumpulan puisi lainnya adalah Duka-Mu Abadi, Ayat-ayat Api, Kolam, Ada Berita Apa Hari Ini Den, Sastro?, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Namaku Sita. Satu buku lagi berupa novel Pingkan Melipat Jarak, yang merupakan lanjutan dari trilogi novel Hujan Bulan Juni.

”Dongeng Marsinah” merupakan salah satu sajak Sapardi yang lahir di tengah situasi sosial politik di Tanah Air pada era 1990-an. Ketika itu, ia sedang menjadi Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI). Ada serentetan peristiwa, seperti tewasnya buruh pabrik Marsinah pada tahun 1993, sampai demo mahasiswa di sejumlah kota. Sajak Sapardi memang terkesan ”keras”, setidaknya jika dibandingkan dengan sajak-sajak cintanya.

”Sebenarnya tulisan itu tidak marah atau apa. Saya Cuma nyatet, menulis saja tanpa maksud apa-apa. Untungnya, saya menulis, tidak cuwawakan (banyak bicara). Ya saya jadikan puisi itulah,” tutur Sapardi dalam perbincangan dengan Kompas di Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat ia mengajar di Program Pascasarjana.

Jenis sajak Sapardi, seperti ”Dongeng Marsinah”, itu pada mulanya kurang banyak diperhatikan khalayak. ”Yang diperhatikan itu, kan, sajak-sajak cinta saya, tapi yo ra popo (tidak mengapa).”

Sapardi juga terusik oleh cara media massa menyampaikan berita. Lahirlah kemudian sajak-sajak yang termuat dalam buku Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? ”Sebenarnya saya marah kepada media, kok seperti itu. Tapi, marahnya tidak langsung.”

Dalam ”Den Sastro”, Sapardi mengutip langsung kalimat-kalimat di satu koran yang mendeskripsikan matinya seorang remaja. Ia mengutip kalimat berita di koran itu dalam puisinya. Berita itu menggunakan kata ”tewas”, ”senjata”, ”menghunjam”, ”organ tubuh penting”. Penyair itu lantas menulisnya dalam sajak:

”Tewas, senjata, menghunjam, dokter adalah manik-manik itu, yang jika dikenakan seorang perempuan, misalnya ibu Norman, akan berubah menjadi ombak laut yang tak habis-habisnya menampar pantai yang tak lagi ditumbuhi bakau itu. Ke mana lagi bersarang burung-burung itu? Seperti kaudengar tuduhan koran pagi itu.”

Gaya berubah

Sapardi mengakui, sebenarnya gayanya menulis puisi berubah dari waktu ke waktu. Gaya dalam Dukamu Abadi sudah sangat berbeda dengan Mata Pisau. Begitu selanjutnya Akuarium, Perahu Kertas, Kolam, sampai Babad Batu, masing-masing berbeda. Namun, diakuinya masih ada sisa-sisa kesamaan gaya. Ia memang tidak mau mandek pada satu gaya tertentu. Ia tak ingin terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai mannerism, meniru dan mengulang-ulang gaya sendiri.

”Saya tidak bisa kalau terus membuat sajak dengan gaya yang sama. Saya bisa saja dengan gampang nulis sajak seperti Duka-Mu Abadi itu. Tapi, orang akan jengkel, apa lagi penyairnya ha-ha-ha.... Tapi, orang masih bisa membaui ini sajak Sapardi, tapi gaya menulis saya berbeda,” tuturnya.

Ketika menggunakan gaya yang berbeda itu sebenarnya Sapardi juga menimbang-nimbang, apakah pembaca akan suka atau bisa memahami sajaknya. Sajak-sajak dalam Perahu Kertas itu ia tulis dengan gaya seperti main-main. Akan tetapi, ternyata banyak disukai. Ketika menulis ”Den Sastro”, ia juga sempat sangsi. ”Ketika dimuat di Kompas, ada yang bilang sajak saya bagus. Lho, kok, ada yang mudheng (paham), aku kaget dewe (sendiri) ha-ha-ha….”

Karena Rendra

Sapardi tertarik pada buku puisi Brasil dan puisi klasik China saat ia masih kuliah di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, kini Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Buku yang kemudian ia terjemahkan itu berpengaruh besar dalam sajak-sajaknya.

”Kalau mau menulis puisi, bacalah puisi sebanyak-banyaknya, kemudian tirulah. Saya malah bilang, jangan cuma meniru, tapi ’curilah’.”

Bagi Sapardi, puisi Brasil dan China klasik yang ia terjemahkan mudah dinikmati semua orang. Gayanya seperti puisinya dalam Duka-Mu Abadi. ”Dari situ saya belajar bahwa menulis puisi itu gampang, tidak usah repot-repot.”

Sapardi tertarik menulis puisi kala duduk di bangku SMA, terutama setelah membaca puisi Rendra, Balada Orang-orang Tercinta. ”Karena Rendra-lah, saya menulis puisi. Menurut saya, puisinya gampang banget. Tadinya saya baca Chairil (Anwar), tapi itu tak gampang saya pahami,” ujarnya mengenang masa awal membaca karya Rendra.

Sapardi mengatakan, setiap perkembangan sastra akan ditandai dengan munculnya bahasa semacam itu. Di Indonesia muncul penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Masa kreatif mereka tidak terpaut terlalu lama, tetapi setiap penyair menggunakan bahasa yang sangat berbeda. Chairil Anwar menggunakan bahasa ”baru” yang ada pada masa itu, yaitu bahasa lisan. ”Bahasa lisannya seperti ngawur saja, yang pada masa Amir Hamzah enggak mungkin dipakai.”

Hal tersebut, menurut Sapardi, disebabkan orientasi Amir Hamzah pada buku klasik, sedangkan Chairil berorientasi pada bahasa yang sedang tumbuh. Kemudian muncul Rendra yang menggunakan gaya lebih sederhana. Belakangan, pada era 1970-an, muncul Yudhistira Ardi Nugraha yang menggunakan kata ”biarin”.

Belajar dari karya Chairil dan Rendra, Sapardi berusaha menggunakan bahasa yang sedang tumbuh, bukan bahasa kamus. Dalam Kolam dan Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, Sapardi bahkan menggunakan bahasa sehari-hari. ”Itu bukan kekenesan, tapi itulah bahasa yang cocok untuk berkomunikasi dengan orang yang akan membaca.”

Puisi apa lagi yang ditulis Sapardi? ”Selanjutnya saya belum tahu mau menulis sajak seperti apa....”

Namun, Sapardi akan terus berpuisi.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Maret 2017, di halaman 16 dengan judul "Ada Sajak Apa Lagi, Den Sastro?".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas