Rubrik

sosok > Memuliakan Ayam Pelung

Sosok Halaman 16 Kompas

Memuliakan Ayam Pelung

Kompas/Dedi Muhtadi

Ayam pelung selama ini dikenal sebagai jenis unggas bersuara merdu dengan kokok panjang. Namun, tidak banyak yang peduli bahwa ayam asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, ini merupakan sedikit dari plasma nutfah Indonesia asli yang mampu bertahan di tengah gempuran ayam ras impor hasil rekayasa genetika.

Sekitar 80 persen populasi sumber daya genetika Nusantara hampir dan sudah punah. Kebijakan peternakan nasional yang berpihak pada industrialisasi ayam ras impor telah memarjinalkan kekayaan lokal itu.

Menurut catatan Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), terdapat 28 jenis ayam lokal asli Indonesia dan empat di antaranya berasal dari Jawa Barat.

Keempatnya adalah ayam sentul dari Kabupaten Ciamis, ayam pelung dari Cianjur, ayam ciparage dari Kabupaten Karawang, dan ayam jantur dari Kabupaten Subang. Ayam ciparage sudah punah dan ayam jantur tak diketahui lagi populasi terakhirnya.

Populasi unggas asli yang mampu bertahan adalah ayam pelung dan ayam sentul karena pembudidayanya masih banyak. "Ayam sentul untuk pedaging, sedangkan budidaya ayam pelung lebih mengarah ke hobi atau ayam fancy," ujar Ketua Himpuli Ade M Zulkarnain.

Salah satu pembudidaya ayam pelung adalah Agus Abdurahman (50), warga Kampung Songgom, Desa Cipetir, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Ketua Kelompok Tani Makmur Cipetir ini sudah lebih dari 30 tahun menggeluti ayam pelung. Dia paham betul karakteristik ayam jenis ini, mulai dari menetaskan, membesarkan, hingga menjadi ayam kontes.

"Kalau sudah memenangi kontes atau klangenan, harganya bisa Rp 10 juta-Rp 20 juta. Untuk seekor ayam, harga jutaan hingga puluhan juta sebetulnya tidak normal, tetapi itulah kenyataan selama ini," ujar Agus, Rabu (5/4), di Cibeber. Bandingkan dengan ayam jago biasa yang bagus sekalipun, harganya tidak sampai Rp 100.000 per ekor.

Selain berkokok panjang dan merdu, ayam pelung bertubuh tinggi besar. Dengan bobot betina 4-5 kilogram dan jantan 2-3 kilogram, penampilannya indah dan gagah.

Lomba atau kontes seni suara ayam pelung banyak digelar di sejumlah daerah di Jawa Barat, Jakarta, dan Banten. Setiap minggu ada kontes ayam pelung mulai dari Depok hingga Kuningan di ujung timur Jawa Barat.

"Sekarang penyelenggaraan kontes dibatasi menjadi dua, yakni kontes regional dan terbuka se-Jawa Barat. Kontes di luar itu adalah latihan bernilai dan terbuka," ujar Agus.

Tradisi

Agus dilahirkan dari keluarga petani Cianjur yang memiliki tradisi pertanian padi sawah, perikanan, dan beternak sambilan, terutama ayam kampung. Karena itu, Agus sudah terbiasa memelihara ayam sejak kecil. Namun, setelah mengenyam pendidikan tinggi di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), ia malah mendalami perikanan di kampungnya.

Sebagai Ketua Kelompok Tani Makmur (KTM) di Cibeber, ia mendapat beasiswa untuk pendidikan perikanan. Agus pun dikenal sebagai ahli sekaligus praktisi perikanan yang sering diundang mengajar perikanan di sejumlah tempat. Ia juga pernah diundang ke Jepang untuk mengajar dan mempraktikkan keahliannya di bidang perikanan.

Setelah membagi pengetahuannya di luar negeri itulah muncul di benak Agus bahwa banyak potensi lokal Indonesia yang bisa dikembangkan. Akhirnya ia pulang kampung dan memilih menekuni ayam pelung yang selama ini menjadi peternakan sambilan petani di Cianjur.

Ia mempelajari sendiri karakteristik dan pengembangan ayam pelung itu agar tidak keluar dari sifat dan bentuk aslinya. "Perkawinan sedarah (inbreeding) sangat baik untuk kemampuan suara kokoknya yang merdu dan panjang. Hanya kelemahannya, ada penurunan berat badan dan daya tahan terhadap penyakit," ujarnya.

Kini di KTM Cibeber yang didirikannya tahun 1989, ada 5.000 ekor ayam pelung yang dikelola 220 petani peternak. Jumlah peternak di Kabupaten Cianjur sekitar 1.200 orang yang terhimpun dalam Himpunan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (Hipapi) Kabupaten Cianjur. Kepemilikannya rata-rata 15 ekor setiap peternak. Agus memiliki sekitar 800 ekor ayam pelung dan itu merupakan populasi ayam pelung paling tinggi di antara peternak.

Selama 10 tahun memimpin Hipapi Cianjur, Agus mengelompokkan pembudidaya ayam pelung menjadi penggemar dan peternak yang banyak memiliki ayam. Penggemar adalah orang yang senang tampil atau kontes yang kepemilikan ayamnya 3-4 ekor.

Dalam setiap kontes, para penggemar ini biasanya berperilaku seperti peternak. Peternak murni biasanya tidak mau kontes, tetapi terus saja menjual ayam pelung yang dibudidayakannya.

Seekor ayam pelung bisa bertelur 12-14 satu periode selama dua bulan, termasuk masa mengeram. Ayam pelung yang menetas tidak semuanya bagus karena diternakkan melalui seleksi.

Setahun rata-rata lima siklus bertelur dan ayam betina ini bisa berusia 4-6 tahun tergantung bobotnya. Jika didagingkan, ayam pelung tidak boleh dari tiga bulan karena bentuknya seperti ayam biasa. Jika usianya lebih dari tiga bulan, tidak menarik untuk konsumsi. "Ruas-ruas ayam pelung terlalu besar karena ada ayam yang beratnya 6,5 kilogram," ujar Agus.

Prospektif

Setelah populasinya menurun akibat flu burung, budidaya ayam pelung sangat prospektif. Pada tahun 2016-2017 ini ayam pelung sedang puncak-puncaknya karena berkembang melalui organisasi.

Harga ayam pelung pun menjadi tidak normal jika dibandingkan dengan ayam ras atau jenis ayam lainnya. Harga anak ayam usia sehari (day old chicken/DOC) sudah Rp 50.000, atau Rp 200.000 satu pasang. Jauh lebih mahal daripada ayam biasa yang hanya Rp 6.000-Rp 10.000 per ekor.

Ayam jajangkar atau ayam yang mulai besar harganya Rp 1 juta dan ayam yang pernah menjuarai kontes harganya bisa Rp 10 juta-Rp 20 juta per ekor.

Seiring dengan kegiatan usaha di KTM Cibeber, Agus menjadikan 220 peternaknya menjadi plasma. Ia menyebarkan ternak ayam pelungnya ke plasma, sedangkan peternakan Agus sendiri menjadi inti. Secara ekonomi budidaya ayam pelung menghasilkan pendapatan bagi peternaknya.

Sejak 2015, KTM Cibeber menjadi sentra ayam pelung dan sumber bibit nasional oleh Kementerian Pertanian. Malah sekarang, Cibeber sedang dalam proses untuk dijadikan perwilayahan ayam pelung.

Sistem wilayah ini sebagai langkah menuju industri ternak unggas yang meliputi tiga kelas, yakni ayam pelung penyanyi, pedaging, dan petelur.

Inti dari sistem perwilayahan ini adalah konservasi yang menekankan pada satu produk untuk satu daerah. Agus dan anggota KTM Cibeber yang setia melestarikan ayam pelung nyaris berjuang sendirian.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Memuliakan Ayam Pelung".

    Baca Juga

    • Kontes Ayam Pelung Mencegah Kepunahan

      Seandainya tidak ada kearifan lokal berupa lomba seni suara ayam pelung, ayam ini bakal punah seperti jenis ayam lokal lain yang diempas gempuran ayam impor. Peternak bersemangat membudidayakan ayam

    • Pemeriksaan Bus Diperketat di Jawa Barat

      BANDUNG, KOMPAS Pemeriksaan kelaikan bus reguler dan pariwisata di Jawa Barat akan diperketat setelah kecelakaan maut di Jalan Raya Puncak di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bus j

    • Ayam Sentul, dari Tatar Galuh untuk Indonesia

      Dilihat dari sumber daya genetika atau plasma nutfah unggas, Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat domestikasi ayam dunia, bersama Tiongkok dan di sekitar Lembah Sungai Hindus di Pakistan. Intin

    • Pupuk Palsu Beredar di Jabar

      BANDUNG, KOMPAS Kepolisian Daerah Jawa Barat mengungkap peredaran dan pembuatan pupuk palsu di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat. Polisi menyita 23 ton pupuk yang siap diedarkan dari pabri

    • Belum Ada yang Bertanggung Jawab

      CIANJUR, KOMPAS Bus pariwisata Kitrans yang memicu kecelakaan maut dan menewaskan 12 orang di Jalan Raya Puncak, Ciloto, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tidak laik jalan. Hingga Senin (1/5), belum ad

    • Ciung Wanara dan Ayam Sentul Tatar Galuh

      Di hutan lindung situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terdapat satu ruang terbuka berbentuk bundar dikelilingi pohon-pohon tinggi berusia ratusan tahun. Masyarakat Tatar Ga

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas