Rubrik

sosok > Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah

Sosok Halaman 16 Kompas

Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah

Antonius Triyanto
Antonius TriyantoKompas/Agus Susanto

Meneruskan tugas sejarah, Antonius Triyanto dari Klaten dan Kadmiya dari Cirebon berusaha mengembangkan kerajinan gerabah agar tidak tergusur oleh perubahan zaman. Karya mereka menjadi bagian dari pameran gerabah "Antara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat" di Bentara Budaya Jakarta, 4-9 April.

Kerajinan gerabah dengan beragam fungsi, bentuk, dan desain sedang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17. Ada kendi, celengan, vas bunga, pot, gosang atau semacam jambangan, pedaringan atau tempat beras, tungku, gentong, berbagai patung ukuran mungil hingga besar, pot, kap lampu, peranti saji, sampai satu set cangkir dan teko. Gerabah itu berasal dari dua desa, yaitu Dukuh Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang lebih dikenal sebagai gerabah Bayat. Ada juga gerabah dari Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Secara turun-menurun, warga di kedua desa tersebut menjadi pembuat gerabah. Bukan semata sebagai penghidupan, membuat gerabah bagi mereka juga merupakan tugas sejarah. Mereka ikut merawat budaya warisan leluhur sejak ratusan tahun silam.

Zaman berubah, gerabah ditinggalkan konsumen. Mereka memilih peranti dari bahan non-gerabah, seperti plastik dan sejenisnya. Kaum muda pun tidak berminat bekerja sebagai pembuat gerabah.

"Tahun 1980-an, anak muda di desa saya sudah tidak tertarik bekerja sebagai perajin gerabah. Gerabah dianggap sudah tidak lagi menjanjikan. Lulus SMA, mereka cari kerja ke kota besar," tutur Antonius Triyanto (53), lulusan Jurusan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah.

Nasib serupa menimpa gerabah di Sitiwinangun. Pada era awal 1970-an, ada lebih dari 1.000 perajin gerabah. Tahun 2009, pembuat tinggal sekitar 30 orang, itu pun dari kalangan usia lanjut. "Kami berpikir bagaimana gerabah Sitiwinangun bisa bertahan dan berkembang," ujar Kadmiya (49), perajin gerabah dari Sitiwinangun.

Pagerjurang

Triyanto masih mengalami hari-hari kala kendi menjadi tempat air minum di rumah-rumah. Kala itu, warga masih menggunakan gentong sebagai tempat penampungan air untuk keperluan rumah tangga. Sejuknya air yang tersimpan di kendi dan gentong itu masih terasa sejuk dalam ingatannya.

Pada era 1980-an, sudah terasa pamor gerabah menurun. Gerabah hanya laku pada waktu-waktu tertentu, seperti Sekatenan atau Lebaran. Triyanto terdorong untuk melakukan sesuatu untuk gerabah.

Triyanto dan kawan-kawan yang notabene "orang sekolahan" memulai dengan mendirikan Sanggar Budaya Pandanaran tahun 1985. Di sanggar itu, ia dan kawan-kawan mengembangkan desain-desain baru agar gerabah diminati konsumen. Ia, misalnya, membuat kendi dengan leher panjang ataubodi pipih. "Namun, hasilnya belum sampai menyentuh para perajin. Saya gagal memotivasi mereka," kata Triyanto.

Tahun 1990, ia mengajak anak- anak para perajin bergabung dalam Pancreas, singkatan dari Pandanaran Ceramics Art Central. Nama Pandanaran diinspirasi oleh Sunan Pandanaran, tokoh yang dipercaya terkait dengan keberadaan gerabah di Bayat dan sekitarnya. "Saya ajak mereka membuat karya yang tidak lazim, tetapi tetap menggunakan teknik putaran miring," ucap Triyanto. Putaran miring adalah alat pemutar dalam pembuatan gerabah khas Bayat.

Pancreas sempat memproduksi gerabah dan mendapat mitra dari pengusaha asal Australia. Akan tetapi, karena sesuatu hal, usaha ini tidak berlanjut. Triyanto melanjutkan upaya menggairahkan pembuatan gerabah dengan secara mandiri membuka usaha bernama Pandanaran Ceramics. Lewat usaha ini, ia memberi ruang bagi anak muda desanya untuk melanjutkan pembuatan gerabah seperti dilakukan kakek nenek mereka.

"Saya ingin mereka tidak hanya menjadi karyawan di tempat saya. Harapan saya, mereka nantinya bisa berdiri sendiri," ujarnya.

Usaha berkembang, dan Pandanaran Ceramics kini bahkan melayani permintaan ekspor ke Belanda. Yohanes Gandhi Agustar, anak Triyanto yang ikut mengelola usaha, menyebutkan, pihaknya kini mengekspor dua kontainer gerabah setiap 40-an hari. Saat ini permintaan ekspor berupa vas bunga aneka bentuk. Satu kontainer panjang berisi sekitar 1.900 vas bunga dengan berbagai ukuran.

Triyanto mempekerjakan 16 karyawan. Di luar itu, ia men-"sub"-kan pengerjaan kepada perajin-perajin lain di desanya. "Saya bukan menekankan bahwa karya kami harus diikuti. Tapi, kami sekadar memotivasi mereka," katanya.

Triyanto yakin, gerabah bisa menjadi ladang penghidupan, selain juga mempertahankan tradisi dan identitas desanya sebagai pembuat gerabah.

Sitiwinangun

Menjaga warisan sejarah berupa gerabah menjadi semacam gerakan di Sitiwinangun. Kadmiya (49) menjadi ketua kelompok yang menghimpun 50-an perajin di bawah nama Bina Karya. Beberapa perajin anggota kelompok itu ikut memajang karyanya di BBJ. Mereka antara lain Suyandi (32) yang membuat patung Semar dengan beragam ukuran; Junaedi (36) yang membuat kap lampu dari gerabah dengan tuang berwujud Punakawan; ada pula Nurjaji (40), pembuat gentong, padasan, dan jambangan.

Mereka tumbuh di desa di mana gerabah menjadi bagian dari keseharian sebagian warganya sejak ratusan tahun silam. Kadmiya sudah sejak SMP membantu pengerjaan gerabah, seperti pot bunga dan padasan. "Saya cuma bagian finishing, ngalusin, dan bantu bikin kaki pot," kata Kadmiya. Seiring jam terbang, Kadmiya muda kemudian sudah terampil membuat pot sampai gentong.

Ketika gerabah Sitiwinangun mulai kurang diminati pasar, muncul pembaruan desain. Seniman Bonzan Eddy Prasetyo memberikan kontribusi pada awal 1990-an. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang meninggal pada 2011 itu memperkenalkan teknik pijit dan pilin pada pembuatan gerabah. Kadmiya dan kawan-kawan menggunakan teknik tersebut pada gerabah Sitiwinangun seperti yang dipamerkan di BBJ. Itu, antara lain, terlihat pada patung, topeng, serta ornamen pada gentong dan jambangan.

Dari gerabah dengan model konvensional, Kadmiya dan kawan-kawan ditantang untuk membuat ornamen dengan motif batik, termasuk motif khas cirebonan seperti mega mendung. Gonsang atau jambangan juga diberi semacam relief pada bagian dalam atau luarnya. Relief bisa bertema cerita rakyat, seperti Lutung Kasarung atau Malin Kundang. "Sekarang mudah mencari model-model dari internet," kata Kadmiya.

Meski gerabah Sitiwinangun sudah lebih "berani" dalam hal kreasi, Kadmiya dan perajin gerabah Sitiwinangun berusaha untuk tetap menjaga karakter khasnya.

"Ciri itu jangan sampai hilang. Sejarah jangan sampai lepas...," ujar Kadmiya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas