Rubrik

sosok > Daya Juang Menebus Kegagalan

Sosok Halaman 16 Kompas

Daya Juang Menebus Kegagalan

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Saat Lily Suryani (53) menyentuh garis finis lomba lari Lintas Sumbawa 2017 sejauh 320 kilometer, banyak orang terperangah. Bukan hanya karena usianya yang tak lagi muda, melainkan juga lantaran Lily pernah dua kali gagal dalam lomba serupa sebelumnya. Daya juang yang besar mendorong perempuan itu menaklukkan keganasan alam Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Lily mencapai finis Lintas Sumbawa 2017 di Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (8/4) pukul 14.39 Wita. Ini artinya, ia menyelesaikannya dalam waktu 71 jam 39 menit atau 21 menit sebelum cut off time (COT) atau batas waktu lomba, yakni 72 jam. Capaian itu menempatkan dia sebagai juara kedua kategori individu putri. Ia juga menjadi satu dari tiga pelari yang bisa menamatkan lomba lari terjauh di Asia Tenggara itu.

Waktu tempuh Lily terpaut 8 jam 3 menit dari juara pertama kategori individu putri, Eni Rosita (38), yang finis dalam waktu 63 jam 42 menit. Dibandingkan dengan waktu tempuh Matheos Berhitu (44), yang menjadi juara pertama kategori individu putra setelah menyelesaikan lomba dalam waktu 70 jam 18 menit, Lily terpaut 1 jam 11 menit.

”Banyak yang menilai saya tidak akan mampu menyelesaikan lomba ini. Tiap kali saya tanya, apakah saya bisa finis atau tidak, orang lain selalu menjawab tidak,” ungkap Lily yang lahir di Medan, 23 Maret 1964.

Sejak lomba lari Lintas Sumbawa digelar tahun 2015, Lily selalu berpartisipasi. Namun, pada tahun pertama dan kedua, ia mendapatkan hasil kurang baik. Pada 2015, ia berhenti di Kilometer (Km) 270 karena mengalami disorientasi atau kehilangan ingatan sesaat. ”Saat itu, saya hanya ingat punya tiga anak, selebihnya tidak ada lagi. Saya tidak ingat kalau sedang lomba lari dan tidak ingat kalau sedang di Sumbawa,” kenangnya.

Pada Lintas Sumbawa 2016, Lily kembali berpartisipasi. Ia memang mampu mencapai garis finis saat itu, tetapi catatan waktunya melebihi COT yang ditetapkan panitia. Saat itu, ia baru bisa sampai di finis sekitar 7 jam sesudah COT 72 jam. Pada 2016, selain kelelahan luar biasa, ia juga mengalami halusinasi.

”Tahun lalu, Sumbawa panas luar biasa. Akibatnya, saya dan teman dilanda dehidrasi dan mulai bicara ngelantur. Misalnya, kami merasa sudah sampai Km 260, padahal sebenarnya baru Km 230,” tuturnya.

Persiapan

Lomba lari Lintas Sumbawa 2017 dimulai di Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, Rabu (5/4). Ini merupakan bagian dari Festival Pesona Tambora yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi NTB, pemerintah kabupaten/kota di NTB, dan harian Kompas. Tahun ini, Lintas Sumbawa diikuti 27 orang, terdiri dari 15 peserta kategori individu dan 12 peserta kategori relay atau beranting.

Sebanyak 15 peserta kategori individu harus menempuh jarak sejauh 320 km yang setara dengan jarak Yogyakarta-Surabaya. Mereka melalui jalan lintas Sumbawa yang melewati tiga wilayah kabupaten dan harus bertarung dengan hujan deras dan panas menyengat khas Sumbawa. Selepas Km 200, para peserta juga mesti bersiap dengan jalur tanjakan dan turunan yang menguras tenaga.

Ketika akhirnya memutuskan mengikuti Lintas Sumbawa 2017, Lily bertekad menebus kegagalan pada dua lomba sebelumnya. Oleh karena itu, sejak awal, pelari yang kini tinggal di Bali itu menyiapkan diri sebaik-baiknya.

”Saya gagal dua tahun sebelumnya karena persiapan dan latihan tidak cukup. Waktu itu, saya tidak fit sehingga ketika terkena panas yang begitu menyengat, sudah tidak sanggup lagi lari,” katanya.

Sebelum memulai Lintas Sumbawa 2017, Lily berlatih secara rutin dengan beragam bentuk, misalnya lari naik-turun bukit tiga kali seminggu atau long run (lari jarak jauh) 50 km tiap pagi. Dia juga latihan berlari di kala hujan dan panas, sekaligus lari di medan berlumpur. Semua itu dilakukan agar dirinya tak kaget ketika menghadapi cuaca dan medan serupa di Lintas Sumbawa.

Selain latihan, asupan dan kontrol makanan juga sangat ia perhatikan sejak dua bulan sebelum mengikuti Lintas Sumbawa 2017. Hampir 90 persen makanan yang ia konsumsi berupa sayuran dan buah serta makanan yang mengandung protein dan antioksidan tinggi, termasuk minum kunyit dan jahe. Ia juga berusaha untuk beristirahat secara cukup.

Saat mengikuti Lintas Sumbawa 2017, Lily juga terus menjaga asupan makanannya. Untuk menjaga stamina asupan wajibnya adalah buah, madu, hingga biji chia (chia seed). Chia adalah biji-bijian dari Mexico yang sejak zaman suku Aztec dulu, dikenal sebagai makanan kaya nutrisi. Semua itu menjadi kunci kesuksesan Lily berlari sejauh 320 km.

”Selain latihan dan kontrol makanan, kesiapan mental juga sangat penting. Saya menghadapi semua tantangan selama Lintas Sumbawa 2017 ini tanpa rasa takut. Bagi saya, kalau segala sesuatu dihadapi dengan rasa takut, hasilnya tidak akan baik,” ujar perempuan yang mendapat dukungan penuh dari anak-anaknya itu.

Pada awal lomba Lintas Sumbawa 2017, Lily mengatakan berlari tidak terlalu kencang, yakni dengan pace 8 (menyelesaikan lari 1 km dalam waktu 8 menit). Ia juga memilih beristirahat selama sekitar 15 menit di setiap pos pemeriksaan yang disediakan panitia. Mulai dari Km 280 atau 50 km sebelum finis, Lili mulai meningkatkan kecepatan, kadang hingga pace 7.

Meski mengalami rasa sakit pada otot dan blister (luka melepuh) di kakinya, Lily terus berupaya berlari. ”Walaupun kaki saya sudah rusak, saya terus berlari karena saya yakin bisa finis. Apalagi, rasanya malu kalau sampai gagal lagi,” ujar ibu tiga anak itu.

Keberhasilan Lily tahun ini menjadikannya sebagai pelari berusia di atas 50 tahun pertama yang bisa mencapai finis Lintas Sumbawa sebelum COT, sejak lomba tersebut digelar tahun 2015.

Kaya pengalaman

Di dunia lari jarak jauh, Lily bukanlah nama baru. Ia memulai berlari sejak usia 27 tahun. Namun, saat itu, dia lebih banyak mengikuti lari jarak pendek, misalnya 5 km dan 10 km. Sejak tahun 2013, ia mulai mengikuti lari full marathon yang berjarak 42 km dan ultramaraton dengan jarak lebih dari 42 km.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta itu tak hanya berlari di Indonesia, tetapi juga negara-negara lain, misalnya Malaysia, Singapura, China, Hongkong, dan Perancis.

Sebelum menjadi juara kedua Lintas Sumbawa 2017, Lily pernah meraih sejumlah prestasi, seperti juara keempat Bali Marathon tahun 2014 sejauh 42 km untuk kategori master (pelari di atas 40 tahun), juara ketiga Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 102 km (2015), juara kedua Jakarta Ultra 100 km (2015), dan juara pertama Jakarta Ultra 100 km (2016).

Yang menarik, Lintas Sumbawa 320 km bukan lari dengan jarak terjauh yang pernah ditempuh Lily. Pada 2015, ia juga pernah menguji kemampuannya bersama teman-temannya dengan berkeliling Pulau Dewata Bali selama delapan hari dan menempuh jarak 535 km. Semua itu bisa dilakoni karena ia berlatih keras, menjaga asupan makanan, percaya diri, dan menolak untuk menyerah.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Daya Juang Menebus Kegagalan".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas