Rubrik

sosok > Hikayat Piano yang Indah Bernyanyi

Sosok Halaman 16 Kompas

Hikayat Piano yang Indah Bernyanyi

Kompas/Frans Sartono

Piano itu seperti "bel canto", bisa bernyanyi dengan indah. Piano juga harus cantik ditatap mata. Begitulah Paolo Fazioli mengonsep piano. "Empu" pembuat piano Fazioli dari Italia itu datang ke Jakarta, Rabu (12/4) lalu, untuk menunjukkan betapa indahnya instrumen yang disebut pianoforte itu.

Jari-jari maestro Ananda Sukarlan memainkan komposisi karya sendiri "Variations on Ibu Pertiwi" dan sepotong "Clair de Lune" dari Debussy. Keindahan mengalun dari piano Fazioli berukuran panjang 3,08 meter yang menggunakan empat pedal itu.

Ananda seperti ingin membuktikan konsep bel canto seperti dimaui Paolo Fazioli. Di seberang piano itu duduk sang empu, Paolo Fazioli (73), yang membuat piano Fazioli sejak 1981. Ia datang langsung dari Italia untuk hadir di The Grand Atelier and Cultural Center, Mangga Dua, Jakarta, Rabu lalu.

"Sejak awal memutuskan untuk membuat piano, saya memang hanya ingin membuat grand piano dan grand concert piano. Artinya, itu piano profesional untuk pergelaran musik, bukan private piano," kata Paolo Fazioli dalam wawancara dengan Kompas.

Piano buatannya adalah jenis piano high-end, kelas premium, yang bisa berharga sampai Rp 6 miliar untuk salah satu tipenya. Pianonya menghuni Istana Sultan Brunei. Fazioli dimainkan oleh pianis-pianis kelas dunia, termasuk pianis klasik Aldo Ciccolini, Vladimir Ashkenazy, Lazar Berman, Michel Beroff, juga Ananda Sukarlan.

Album pertama Ananda yang dibuat di Belanda tahun 1993 menggunakan piano Fazioli. Seniman jazz legendaris, seperti Herbie Hancock dan Brad Mehldau, juga menggunakan Fazioli. Di Jakarta, Fazioli digunakan di Soehana Hall dan Aula Simfonia Jakarta.

Fazioli dengan pilihan berkelasnya itu ingin mengembalikan "khitah" piano sebagai semacam bel canto, nyanyian indah. Ia menceritakan bagaimana instrumen yang awalnya disebut pianoforte itu digagas oleh Bartolomeo Cristofori di Francesco (1655-1731). Bartolomeo yang dianggap sebagai penemu piano tidak puas dengan alat musik harpsichord yang hanya bisa "berbunyi", tetapi belum "bernyanyi". Itu mengapa ia mengonsep pianoforte alat musik yang bisa lembut (piano) selembut-lembutnya, tetapi bisa juga keras (forte) sekeras-kerasnya.

Konsep itu belum sempat dikembangkan di Italia dan piano kemudian justru banyak dibuat di luar Italia, termasuk Jerman. "Perlu waktu 300 tahun untuk mengambil kembali the sound, cita suara, milik kami itu, ha-ha-ha...," kata Fazioli yang mendirikan perusahaan Fazioli pada 1981.

"Jadi, meski kami (Fazioli) tergolong muda, sebenarnya kami ini juga sangat tua, ha-ha-ha...."

"Bel canto"

Cita suara yang dimaksud Fazioli itu adalah cita suara seperti terkonsep dalam bel canto, nyanyian indah. Sebagai pembuat piano yang kebetulan juga seorang pianis-dan kebetulan pula orang Italia-Fazioli tahu benar piano apa yang diinginkan para pianis.

"Saya ingin piano yang lebih dekat dengan konsep sound Italia seperti bel canto. Suaranya mencirikan selera Italia: indah, jernih, hangat, penuh warna, elegan. Suara yang menggema (sustain), yang bisa menjangkau fortissimo (sangat keras), dan pianissimo (sangat pelan). Piano dengan jiwa mediteranian yang beratmosfer, hangat, akrab," kata Fazioli dalam bahasa Inggris berlafal Italia.

Di luar hal utama, yaitu keindahan cita suara, Fazioli juga mempertimbangkan unsur estetika, keindahan fisik pianonya. Salah satu tipe piano Fazioli, yaitu tipe Liminal, misalnya, dirancang dengan inspirasi bentuk kapal. Gagasan desain berasal dari seorang arsitek Perancis.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Hikayat Piano yang Indah Bernyanyi".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas