Rubrik

sosok > Sampah Penunjang Minat Baca

Sosok Halaman 16 Kompas

Sampah Penunjang Minat Baca

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO

Matahari siang itu cukup terik. Namun, udara sejuk terasa di ruang tamu RR Hendarti yang disulap menjadi perpustakaan desa. Belasan anak asyik memilih dan membaca buku serta mengoperasikan tiga unit komputer. Pada bagian depan pekarangan terparkir sepeda motor roda tiga serta aneka sampah anorganik dalam karung.

Bukan hanya ruang tamu yang dijadikan perpustakaan, motor roda tiga berwarna hijau bantuan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, itu pun sewaktu-waktu dapat disulap menjadi perpustakaan keliling. Tiga rak kayu berisi ratusan buku bisa dibongkar pasang pada sisi depan dan kanan-kiri bak motor dengan pengait besi.

"Minat baca anak-anak akhir-akhir ini mulai berkurang. Dengan berkeliling desa membawa buku sambil mengumpulkan sampah, saya ingin membangkitkan kembali minat baca anak-anak. Istilahnya dengan jemput bola," kata Hendarti yang setiap akhir pekan dan hari libur berkeliling desa mengumpulkan sampah sekaligus meminjamkan buku.

Hendarti yang sehari-hari bekerja sebagai Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, telah mengelola Perpustakaan Desa Pelita sejak 2007. Perpustakaan yang ada sejak tahun 1980-an itu semula berlokasi di balai desa. Namun, karena sepi pengunjung, buku-buku perpustakaan dipindahkan ke ruang tamu rumahnya.

"Saat itu perpustakaan di balai desa sepi karena warga dan anak-anak mungkin rikuh pakewuh (segan) datang ke balai desa," ujarnya saat ditemui pada Rabu (29/3).

Setelah dipindahkan ke rumahnya, anak-anak tidak serta-merta banyak yang datang membaca. Istri Agustinus Suryanto (44) itu mesti memancing dengan memberikan hadiah bagi anak-anak yang rajin datang ke perpustakaan. "Anak yang rajin datang sampai sepuluh kali akan mendapatkan pulpen. Datang sampai 20 kali dapat penggaris, dan seterusnya," katanya.

Pancingan itu cukup mengena. Setidaknya hingga 2015, hampir setiap hari sejak perpustakaan itu buka pukul 13.00 sampai pukul 21.00, ada 20 anak-anak yang datang dan membaca buku di sana. Namun, sekitar 2016 minat baca itu kembali surut. "Dari yang biasanya setiap hari ramai, pada 2016 hanya di akhir pekan saja anak-anak banyak yang datang untuk membaca buku. Salah satu faktor penyebabnya adalah maraknya penggunaan gadget (gawai)," kata ibu dari Arya Dafa R (18) dan Arya Talita S (12) itu.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Sampah Penunjang Minat Baca".

    Baca Juga

    • Minat Baca Buku Terkendala Perilaku Instan

      JAKARTA, KOMPAS Multimedia dinilai memengaruhi perilaku dan minat siswa untuk membaca narasi secara utuh. Siswa cenderung membaca serpihan naskah secara instan melalui situs berita dan blog ketimban

    • Popularitas Perpustakaan Semakin Pudar Dilibas Digital

      Perkembangan teknologi semakin memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi. Sumber ilmu pengetahuan yang pada masa lalu berada di ruang-ruang perpustakaan, kini berada dalam genggaman

    • Perpustakaan Desa sebagai Sumber Belajar

      YOGYAKARTA, KOMPAS Perpustakaan desa berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber belajar masyarakat. Namun, perangkat desa harus mempunyai komitmen untuk menyediakan layanan perpustakaan

    • Buku Gratis untuk Pacu Minat Baca

      JAKARTA, KOMPAS Belum semua anak Indonesia mempunyai akses untuk membaca buku bermutu. Padahal, membaca buku dapat meningkatkan wawasan, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter sejak dini. Pemberi

    • Keluarga BerperanPacu Minat Baca Anak

      JAKARTA, KOMPAS Di tengah kegandrungan akan gawai, minat baca pada anak tetap dapat diupayakan. Sejumlah kalangan membuktikannya. Kuncinya, menyediakan bahan-bahan bacaan yang mudah dijangkau dan

    • Minat Baca Disiasati

      JAKARTA, KOMPAS Sejumlah sekolah mencoba menyiasati gejala kemerosotan minat baca buku di kalangan siswa di tengah gencarnya penggunaan gadget atau gawai. Beragam kreasi ditempuh, mulai dari mengar

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas