Rubrik

sosok > Berbagi untuk Berarti

Sosok Halaman 16 Kompas

Berbagi untuk Berarti

Kompas/Zulkarnaini

Lahir dalam keadaan sempurna, kehilangan penglihatan di usia muda, dan nyaris bunuh diri karena kecewa, Sikdam Hasim Gayo (28) berhasil bangkit. Bagi Sikdam, kekurangan adalah kesempurnaan. Hidupnya kian berarti dengan berbagi.

Di hadapan 300 penyuluh pertanian di Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Senin (20/3), Sikdam bercerita tentang kehidupannya. Sikdam adalah penyandang disabilitas, tunanetra.

"Sekarang bapak ibu pejamkan mata. Apa yang terlihat? Gelap seperti berada dalam goa. Begitulah yang saya rasakan selama tujuh tahun," ujar Sikdam.

Beberapa detik sunyi. Sikdam membenarkan letak kacamatanya. "Namun, saya bersyukur, kebutaan inilah yang membuat saya lebih berarti," lanjut Sikdam.

Hari itu, Sikdam diundang oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk menjadi pembicara tunggal di hadapan para penyuluh pertanian. Pengalaman hidup pemuda berdarah Gayo itu diharapkan dapat menginspirasi penyuluh dalam mendampingi petani.

"Kelebihan bapak ibu sangat banyak. Orang baik, berpendidikan, dan bisa melihat. Gagal itu pasti, tetapi keberhasilan harus diperjuangkan," ujar Sikdam.

Sejak beberapa tahun terakhir, dia kerap diundang menjadi pembicara, baik forum di daerah, nasional, maupun internasional. Ia kini menjadi inspirator dan motivator.

Sikdam lahir pada 5 Juli 1989. Dia menghabiskan masa kecil di Aceh Tengah. Ayah dan ibunya petani kopi. Ia merupakan anak ke-9 dari 13 bersaudara. Setelah tamat SD, dia melanjutkan pendidikan SMP, SMA, dan kuliah di Jakarta serta tinggal bersama saudaranya.

"Ayah bilang, kalau saya ingin sukses, harus merantau. Waktu kecil, saya mau jadi diplomat, ingin keliling dunia. Makanya saya kuliah di Jurusan Bahasa Inggris," katanya.

Jatuh dan bangkit

Namun, tragedi di siang bolong pada akhir 2010 merenggut mimpi yang dirawatnya bertahun-tahun. Saat itu, Sikdam pulang dari mengantarkan surat lamaran kerja dengan menumpang mobil temannya. Mobil mereka kecelakaan saat mengerem mendadak menghindari "polisi tidur". Kepala Sikdam terbentur langit-langit mobil dan tiba-tiba pandangannya meredup. Ia kehilangan penglihatan. Sebagian memorinya juga hilang.

"Saat tersadar, semua gelap. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Saya stres, marah, kecewa, terguncang, dan putus asa. Tuhan tidak adil. Saya berpikir, hidup saya sudah berakhir. Tanpa penglihatan, untuk apa saya hidup," kisah Sikdam yang didengar oleh para penyuluh dengan khidmat.

Sikdam mengurung diri di kamar. Dia frustrasi, kehilangan teman dan cita-cita. Suatu waktu, terlintas di benaknya untuk mengakhiri hidup. Namun, beruntung, saat dia terpuruk, ibunya selalu hadir meneguhkan semangatnya. "Mama saya adalah motivator terbaik. Dia bilang, 'Kamu harta paling berharga dalam hidup Mama. Kamu spesial, Sikdam'."

Sikdam berpikir apa yang bisa dilakukannya untuk mengisi hari-hari agar lebih berarti. Dia ingin berbagi. Ibunya menyarankannya membuka les Bahasa Inggris gratis buat anak-anak dari keluarga tak mampu. Saran itu dituruti Sikdam dengan membuka Rumah English Social di Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada 2012 hingga kini.

Tanpa penglihatan, Sikdam sedikit pun tidak mengalami kesulitan dalam mengajar. Dia menghafal setiap materi yang diajarkan kepada anak didiknya. Sampai saat ini, Sikdam juga mengajar Bahasa Inggris di SMA Adria Pratama Mulya, Tangerang.

ZulkarnainiLahir dalam keadaan sempurna, kehilangan penglihatan di usia muda, dan nyaris bunuh diri karena kecewa, Sikdam Hasim Gayo berhasil bangkit. Bagi Sikdam kekurangan adalah kesempurnaan. Hidupnya kian berarti lewat berbagi.

Bela hak disabilitas

Seusai mengisi forum penyuluh pertanian, Sikdam yang didampingi sepupunya, Gilang, berkunjung ke Situs Arkeologi Loyang Mendale di tepi Danau Laut Tawar, Takengon. Saat tinggal di Takengon, Sikdam sering bermain di danau. "Dulu di sini sangat sejuk, sekarang rasanya panas," kata Sikdam.

Sikdam ingin mengunjungi tempat penemuan kerangka manusia prasejarah di Loyang Mendale. Namun, tempat itu tidak ramah buat penyandang disabilitas. Jalan ke situs menanjak dan banyak bongkahan tanah keras. "Indonesia memang belum ramah kepada disabilitas. Kami tidak mendapat tempat yang layak di negara ini," ujarnya.

Menurut Sikdam, negara masih abai terhadap hak penyandang disabilitas. Instansi pemerintah tidak menerima pekerja disabilitas. Sekolah umum menolak siswa disabilitas. "Mengapa kami tidak bisa bekerja di tempat yang kami suka? Bukankah kami juga warga negara Indonesia?"

Untuk membela kaum disabilitas, Sikdam menyuarakannya hingga ke luar negeri. Pada 2013, dia berbicara di Konferensi Global Pemuda Penyandang Disabilitas di Kenya. Setahun kemudian, dia memperoleh penghargaan internasional untuk pemuda dari Pangeran Edward dan berpidato di Inggris. Pada 2015, Sikdam menjadi pembicara di Parlemen Korea Selatan.

"Saya memperjuangkan hak disabilitas. Kami yang dipandang sebagai orang cacat masih punya cita-cita. Kami juga ingin hidup sukses seperti yang lain," ucapnya. Bersama komunitas pemuda disabilitas Indonesia yang didirikannya pada 2013, Sikdam terus bersuara.

Meski merasa negara belum ramah kepada penyandang disabilitas, kecintaan Sikdam pada Tanah Air tak tergoyahkan. Ia pernah ditawari kewarganegaraan Korea Selatan dan Amerika Serikat. "Teman saya bilang, 'Di Indonesia kamu tidak dihargai. Lebih baik pindah saja ke sini'. Saya jawab tidak. Indonesia adalah rumah saya," ujar Sikdam.

Ada ironi dalam perjuangan Sikdam. Dia sering menjadi pembicara di luar negeri. Namun, dia belum pernah mendapatkan kesempatan berpidato di Parlemen Indonesia dan di hadapan Presiden. Ia berharap bisa bertemu dengan Presiden untuk menyampaikan suara dan harapan penyandang disabilitas Indonesia.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Berbagi untuk Berarti".

    Baca Juga

    • 500 Pendemo Tuntut Penetapan RUU Disabilitas

      Jakarta, Kompas - Sebanyak 500 penyandang disabilitas berkumpul di depan patung Arjuna Wiwaha di Jakarta, Selasa (18/8) pagi. Mereka kemudian beriringan melakukan pawai budaya sambil berunjuk rasa me

    • RUU Penyandang Disabilitas

      Sejumlah media menyoroti RUU  Disabilitas yang tengah dibahas DPR karena masuk dalam program legislasi nasional 2015-2019.  Namun, pembahasan RUU  Disabilitas ini masih memprihatinkan. Dalam sida

    • Penuhi Hak Para Disabilitas

      Program peningkatan kualitas hidup di perkotaan seperti Jakarta akhirnya menyinggung tema pemenuhan hak asasi manusia bagi penyandang disabilitas. Patut disadari bahwa pemerintah daerah adalah ujung t

    • Menagih Janji Presiden Terkait RUU Penyandang Disabilitas

      Jakarta, Kompas Mewakili suara penyandang disabilitas, sejumlah organisasi menagih janji Presiden Joko Widodo semasa kampanye calon presiden. Di acara bertajuk ”Penyandang Disabilitas Menagih Janji P

    • Akses Penyandang Disabilitas di BUMN

      JAKARTA, KOMPAS Pemberian akses bagi penyandang disabilitas untuk bekerja di suatu perusahaan bermanfaat bagi semua pihak. Badan usaha milik negara dapat memulai dan mendorong pemberian kesempatan k

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas