Rubrik

sosok > Maju Bersama Petani

Sosok Halaman 16 Kompas

Maju Bersama Petani

KOMPAS/RENY SRI AYU

Saat kembali ke desanya di Salassae, Bulukumba, Sulawesi Selatan, lima tahun lalu, Armin Salassa risau mendapati banyak pemuda dan petani meninggalkan desa. Mereka lebih senang merantau dan menjadi TKI ketimbang mengurusi sawah. Padahal, Salassae sejak dahulu merupakan daerah pertanian.

Kerisauannya makin menjadi saat ia mengetahui makin banyak pemuda yang tak lagi tertarik jadi petani. Bapak dua anak ini pun akhirnya memutuskan kembali menetap di kampung, meninggalkan pekerjaannya di salah satu lembaga besar di Jakarta.

Kerisauan telah menuntunnya mencari tahu apa yang membuat pertanian tak lagi menarik bahkan ditinggalkan oleh sebagian petani.

Armin sesungguhnya bukanlah petani. Ia tidak punya sawah atau kebun. Ia juga bukan sarjana pertanian. Pengalamannya semasa kuliah di Palu, Sulawesi Tengah, dan bekerja di beberapa kota, termasuk Jakarta, pun jauh dari urusan pertanian. Namun, itu bukan alasan baginya untuk tak berbuat apa-apa.

Sebagai mantan aktivis semasa kuliah, Armin menularkan cara kerja berkelompok dan terorganisasi kepada petani. Ia membantu petani memecahkan berbagai persoalan dengan cara mendorong mereka untuk melihat masalah pertanian sebagai persoalan bersama. Setelah itu, mereka diminta mencari solusi bersama.

"Yang saya dapati, petani menghadapi persoalan bersama, tapi mereka tidak duduk bersama. Banyak yang menempuh jalan sendiri-sendiri dan pergi. Lalu, saya ajak mereka berkumpul, berbicara satu sama lain," tutur Armin Salassa (48), suatu sore pada pertengahan Maret lalu.

Awalnya sangat sulit mengajak petani berkumpul dan berdiskusi. Umumnya mereka tak percaya diri bahkan untuk berbicara di hadapan sesama petani. Armin hanya mendapatkan delapan mantan perantau yang mau diajak bicara. Namun, ia tak putus asa dan terus mengajak petani duduk bersama. Pada akhirnya banyak yang bersedia.

Diskusi kelompok mengantar mereka pada kesimpulan bahwa pertanian menjadi tak menarik karena ongkos produksi yang tinggi dan hasil panen yang terus turun. Panen yang turun, antara lain, disebabkan makin tidak suburnya tanah karena unsur hara yang kian berkurang.

Pertanian alami

Armin terus mengajak petani berdiskusi, mengumpulkan mereka setiap sore, bahkan malam. Ia berkunjung dari rumah ke rumah dan mencari tahu apa yang harus dilakukan. Malam-malam, Desa Salassae kerap diwarnai debat hingga dini hari. Di lain waktu, ia mendatangi petani di sawah dan berdiskusi di tempat itu juga.

Dari diskusi dan debat panjang, para petani akhirnya mencapai kata sepakat untuk mencoba kembali pertanian alami dengan memanfaatkan bahan-bahan murah dan mudah diperoleh.

Pada akkhir 2011, Armin bersama petani Salassae memulai era "pertanian baru", yakni pertanian alami. Mereka memulai dengan belajar membuat pestisida dan pupuk alami, termasuk mempelajari kondisi alam.

Berbagai percobaan dilakukan guna mendapatkan formula tepat untuk pupuk ataupun pestisida. Armin juga meminta petani memulihkan tanah dengan memberikan campuran pupuk alami yang terdiri dari campuran kotoran sapi dan bahan lain. Mereka bahkan secara rinci mempelajari zat apa yang dibutuhkan akar, batang, daun, hingga buah.

Sembari terus menjalankan percobaan, kelompok petani pun dibentuk dengan nama Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS). Mereka sepakat urunan uang untuk modal awal. Uang yang terkumpul digunakan membeli sapi untuk diternakkan. Hasilnya untuk mendanai berbagai kegiatan kelompok. Kelompok ini pula yang membantu petani memasarkan produk pertanian alami mereka.

Kembali bertani alami tidak serta-merta berhasil dalam satu-dua kali percobaan. Kerap, formula pupuk yang tidak tepat membuat hasil panen gagal. Pernah, misalnya, cabai yang dipupuk menghasilkan daun selebar telapak tangan orang dewasa dengan buah yang sedikit. Sekali waktu, pernah pula tanaman kacang panjang menjadi terlalu besar hingga lebih besar dari jari orang dewasa.

"Tapi, karena sejak awal semua dibahas dalam kelompok dan semua siap menerima risiko, tak ada yang putus asa menghadapi kegagalan. Kami saling menguatkan dan menyemangati, lalu belajar dari kesalahan. Tidak jarang kegagalan ini menjadi lelucon di antara kami," ujar Armin.

Tekad bertani alami dan menekan biaya pertanianlah yang membuat petani terus berusaha hingga berhasil. Keberhasilan ini signifikan menekan ongkos produksi, misalnya pupuk, dari jutaan per hektar menjadi ratusan bahkan puluhan ribu per hektar.

Sebagai gambaran, pupuk alami yang terbuat dari fermentasi ikan segar serta gula merah dan campuran bahan lain paling mahal Rp 100.000 per kilogram. Satu kilogram pupuk alami bisa dipakai untuk 2-3 hektar sawah, bahkan lebih.

Berbagi ilmu

Keberhasilan ini segera terdengar ke desa-desa tetangga. Mereka mengikuti jejak petani Salassae. Soal berbagi ilmu, petani Salassae sepakat untuk wajib berbagi pengetahuan kepada petani mana pun yang ingin bercocok tanam alami. Bahkan, mereka membuat kesepakatan tidak menjual pupuk atau pestisida buatan mereka, tetapi petani harus belajar untuk bisa membuat sendiri.

Saat usaha KSPS mulai jalan dan ada bantuan dari sejumlah lembaga, Armin mengajak petani membangun balai pertemuan. Dilengkapi aula dan tiga kamar tidur sederhana untuk tempat menginap petani dari daerah lain, balai pertemuan ini menjadi tempat belajar dan berdiskusi petani dari berbagai wilayah

Jika awalnya hanya petani di sekitar Bulukumba yang mengikuti jejak petani Salassae, kini kelompok-kelompok terbentuk di sejumlah kabupaten. Mereka semua berjejaring dan saling membantu. Belajar bersama tetap mereka lakukan dan berbagi setiap ada temuan baru.

Persoalan yang dihadapi juga diselesaikan bersama, bahkan jika itu hanya berdiskusi lewat telepon atau media sosial. Di setiap desa, kelompok tani ini juga mengaktifkan gotong royong turun ke sawah terutama pada masa tanam dan panen.

Di Salassae, pemuda tergerak dan membentuk Kelompok Swabina Pemuda Desa. Mereka pun belajar pertanian, terutama bertani alami. Kaum perempuan tak tinggal diam, mereka memanfaatkan pekarangan dan tanah di sekitar sawah atau kebun untuk menanam tanaman obat, sayuran, dan bunga.

Adapun Armin tetap aktif mendampingi petani, berdiskusi, mendorong petani maju bersama, walau tetap tak punya sawah atau kebun. "Sebab, sejak awal saya hanya ingin petani maju dan sejahtera bersama dan tidak meninggalkan pertanian. Saya juga ingin petani berdaulat atas benih pupuk, hingga pasar, dan pada akhirnya ada kedaulatan pangan," katanya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Maju Bersama Petani".

    Baca Juga

    • Pertanian Alami dan Berdaulat di Salassae

      M Arman (45) menunjukkan hamparan sawahnya yang hijau dan subur di kaki bukit Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (185 kilometer selatan Makassar), akhir Maret la

    • Ekspor Perdana Krisan Malino ke Osaka

      MAKASSAR, KOMPAS Perusahaan pembudidaya bunga milik Mufidah Jusuf Kalla, PT Bunga Indah Malino melakukan ekspor perdana bunga potong krisan (Dendranthema grandiflora) jenis white spray dan yellow spra

    • Harapan Baru dari Benih Baru

      CALANG, KOMPAS Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, menyiapkan lahan kering dan sawah tadah hujan seluas 200 hektar untuk ditanami padi varietas situ patenggang. Padi jenis ini cocok untuk lahan

    • Petani Jabar Dapat 5 Juta Bibit

      BANDUNG, KOMPAS Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan 5 juta bibit kopi kepada petani untuk tahun 2017 ini. Jumlah bantuan itu naik dibandingkan bantuan bibit kopi tahun lalu yang s

    • Melepas Jerat Tengkulak Kopi

      Di hamparan kebun kopi nan luas di wilayah adat Colol di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, petani pernah terjerumus dalam lingkaran kemiskinan. Lodovikus Vaderman (39) berjuang memutus lingkaran i

    • Berhemat dengan Biogas

      Teman-teman pasti sudah sering membaca berita berkait dengan gas atau LPG yang menjadi salah satu bahan bakar. Misalnya, soal harga LPG yang naik sehingga membuat ibu kita gelisah karena uang belanja

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas