Rubrik

sosok > Berjuang di ”Jalan Organik”

Sosok Halaman 16 Kompas

Berjuang di ”Jalan Organik”

Nyoto dan Pranti
Nyoto dan PrantiKOMPAS/REGINA RUKMORINI

Lahir dan besar di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, pasangan suami-istri Nyoto (36) dan Pranti (34) menolak ikut cara bertani sayur dengan pupuk dan obat kimia seperti warga lain. Ia memilih bertani secara organik demi menghasilkan produk pertanian yang sehat. Belakangan, pertanian organiknya menjadi daya tarik pariwisata lereng Merbabu.

”Dengan udara pegunungan yang bersih serta produk pertanian yang siap untuk dimakan karena bebas obat-obatan dan pupuk kimia, kami berharap lahan kami ini bisa menjadi obyek wisata sehat di lereng Gunung Merbabu,” ujar Pranti, pertengahan Maret lalu.

Bersama Nyoto, mereka merintis Manda Stroberi, lahan pertanian organik sekaligus tempat wisata petik buah di Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang berdekatan dengan obyek wisata Ketep Pass.

Di lahan seluas 1.600 meter persegi, mereka menanam ribuan tanaman stroberi, buah melodi, terong belanda, serta beragam sayuran lokal seperti buncis, terong hijau dan ungu, bunga kol, dan daun bawang. Lahan pertanian itu bisa dipanen silih berganti serta dibuka menjadi wisata petik buah dan sayur untuk pelancong sejak 2006. ”Karena bebas bahan kimia, seusai dipetik dan dicuci, wisatawan bisa langsung menyantap buah atau sayur yang baru dipanen,” ujar Nyoto.

Pada 2010, wisata petik sayur dan buah itu sempat ditutup karena semua tanaman mati akibat terkena abu erupsi Gunung Merapi. Setelah melakukan beragam upaya pemulihan lahan dan tanaman, mulai 2016 wisata tersebut kembali dibuka.

Saat ini mereka bersiap mengembangkan model wisata baru. Mereka akan menyediakan layanan memasak semua hasil panen tersebut. Dengan menyediakan layanan makanan dan minuman, diharapkan wisatawan semakin lama berkunjung.

”Wisatawan nanti tinggal memetik dan selanjutnya tinggal meminta sayuran atau buah yang dipetik itu ingin dimasak atau diolah bagaimana, menjadi masakan atau minuman sesuai keinginan mereka,” tutur Nyoto.

Perjuangan berat

Usaha pertanian organik dan wisata petik itu berawal dari keinginan Nyoto dan Pranti bertani stroberi. Sebelumnya, tanaman stroberi jarang dikembangkan di desanya. Setelah belajar kepada beberapa petani di desa lain yang pernah menanam stroberi, keduanya memutuskan beralih komoditas tanam.

Stroberi dipilih karena harganya relatif lebih tinggi daripada sayuran. Buah tersebut juga cukup digemari wisatawan di kompleks wisata Ketep Pass. Mereka pun sudah berkomitmen menanam secara organik.

Komitmen bertani organik itu muncul karena menyadari bahwa stroberi adalah buah yang langsung dikonsumsi dan tidak terlindung kulit luar. ”Sebagai petani sayur, kami juga terbiasa membaca label di obat kimia tentang betapa bahayanya obat tersebut jika terhirup atau terkena kulit. Kami berpikir, bagaimana jika zat-zat kimia itu tertelan,” ucap Nyoto.

Mereka lalu membongkar semua sisa tanaman seperti cabai dan aneka sayur lain. Untuk menetralkan tanah yang sebelumnya dipupuk dengan obat-obatan kimia, mereka taburkan garam dan kapur ke lahan. Setelah itu baru ditanami stroberi.

Bersamaan dengan pembukaan lahan stroberi, mereka membuka wisata petik stroberi untuk wisatawan. Tak disangka, usaha itu sukses. Setiap hari, Nyoto dan Pranti bisa memetik panen sekitar 25 kilogram stroberi per hari. Wisatawan pun berdatangan dari sejumlah kota, seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, kota-kota di luar Jawa, hingga turis asing dari Australia.

Semua berjalan lancar hingga bencana itu tak terhindarkan. Tahun 2010, erupsi besar Gunung Merapi terjadi dan menghancurkan kebun organik mereka. Kegiatan bertani dan pariwisata pun terhenti.

Namun, keduanya tak patah arang. Setahun berselang, mereka kembali bertani. Demi terkumpulnya modal lebih cepat, mereka menanam cabai dan tembakau terlebih dulu. Dari hasil panen dua jenis tanaman ini, mereka menabung untuk kembali bertanam stroberi secara organik pada 2015. Mereka juga mendapat bantuan kredit dengan bunga rendah dari Bank Jateng senilai Rp 15 juta.

Kondisi cuaca yang ekstrem dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun 2016 cukup menyulitkan mereka. Hasil panen tidak terlalu menggembirakan. Banyak tanaman rusak dan buah busuk karena jamur sehingga mereka beberapa kali gagal panen. Pada akhir 2016, mereka hanya bisa memetik 5-7 kilogram stroberi per hari, jauh di bawah produksi selama 2006-2010 yang mencapai 25 kilogram.

Semua hambatan itu tak menggoda mereka mengambil jalan pintas beralih ke pertanian non-organik. ”Cara bertani yang kami jalankan jelas mengundang pertanyaan karena selama hampir setahun, tetangga lain sudah panen cabai tiga hingga empat kali, sedangkan kami sama sekali belum,” ujar Pranti.

Mandiri

Bagi Nyoto, bertani organik membutuhkan kesabaran. Oleh karena tidak menggunakan obat-obatan kimia, perawatan dan pemberantasan hama penyakit benar-benar dilakukan tradisional. Sebagai contoh, untuk mengantisipasi menjalarnya busuk batang dan daun, mereka setiap hari cermat melihat dan segera memotong batang serta daun yang busuk.

”Kalau petani lain sibuk menyemprotkan obat, kami cukup mematikan ulat dengan cara digithes (dilumat dengan tangan) saja,” ujar Pranti sembari tertawa.

Untuk pupuk, mereka menggunakan pupuk organik dan pupuk kandang. Cara bertani yang membutuhkan ketekunan dan kecermatan ini tidak mudah diterima banyak orang. Beberapa kali membayar pekerja untuk membantunya, Pranti merasa apa yang mereka lakukan kerap tidak sesuai dengan keinginannya. Pada akhirnya mereka berdualah yang lebih banyak terjun dan melakukan perawatan langsung.

Nyoto dan Pranti bertekad terus mengembangkan usaha wisatanya agar nanti dapat melibatkan semakin banyak orang. ”Obyek wisata biasanya akan menghidupkan ekonomi banyak orang, baik yang terlibat di dalamnya, maupun warga lain di sekitarnya,” Pranti.

Mereka ingin bertani, sekaligus menjadi pelaku wisata, melalui jalan pertanian organik.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Berjuang di ”Jalan Organik”".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas