Rubrik

sosok > Energi Generasi Damai

Sosok Halaman 16 Kompas

Energi Generasi Damai

Kompas/Saiful Rijal Yunus

Damai itu bukan kata pasif, melainkan kata aktif. Damai itu kata kerja yang harus terus didengungkan ke setiap penjuru. Damai itu adalah perwujudan keberagaman. Begitu arti damai menurut Irfan Amali, penggagas generasi damai yang telah disebarluaskan satu dekade terakhir.

Kami berbincang cukup lama di kantor penerbitan tempat Irfan menyandang jabatan CEO di Bandung, Jawa Barat, Senin (10/4) lalu. Dia mengatakan, "Saya sendiri pernah radikal. Ya, meskipun masih dalam pikiran." Bibir laki-laki berusia 40 tahun itu selalu menyunggingkan senyum meski sedang membicarakan hal-hal serius.

Ayah tiga anak ini menceritakan, ia pernah memiliki pandangan beragama yang radikal ketika usianya masih belasan tahun. Ketika itu, pikirannya dipenuhi prasangka tentang ketidakadilan dan kesemena-menaan terhadap agama yang ia anut.

"Dulu kalau saya ada yang narik, pasti gampang banget. Karena pikiran saya sudah mulai radikal. Tapi, di satu sisi, ada bagian yang selalu mempertanyakan apakah pemikiran saya benar," ujar peraih Top 500 Most Influential Muslims dari The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Amman, Jordania, selama dua tahun berturut-turut, yakni 2010 dan 2011, ini.

Satu hal yang dia syukuri adalah masa kecilnya indah. Irfan yang lahir dan tumbuh di sebuah kampung di Bandung hidup di lingkungan yang beragam. Tetangga-tetangganya ada yang beragama Buddha, Khonghucu, Kristen, semua ada. Lingkungan masa kecilnya yang beragam itu terpatri dalam ingatan dan menjadi benteng kokoh dari pengaruh luar.

Ketika kuliah strata satu, pertengahan 1998, dia mengikuti pelatihan tentang kampanye anti-kekerasan di Solo. Di sini pertama kali penulis dan pelaku film ini lebih dekat dengan arti perdamaian dan kampanye lewat berbagai medium.

Ia makin dekat dengan nilai-nilai perdamaian setelah mengikuti Youth Peace Forum se-Asia Pasifik pertengahan tahun 2000 di Kamboja. Pertemuan itu digelar di sebuah kuil di dekat Angkor Wat. Selama dua minggu di Kamboja, Irfan melihat dan merasakan sendiri bagaimana di sebuah kuil Buddha, kedamaian menjalar tanpa harus memengaruhi preferensi agama seseorang.

Kamboja adalah negara yang punya sejarah kelam. Perang dan tragedi kemanusiaan terjadi selama beberapa tahun lamanya. Namun, negara itu mampu bangkit dan terus menebarkan pesan damai. Dalam beberapa hari pertemuan anak muda se-Asia Pasifik itu, sejumlah anak muda bergantian berbicara tentang masa kelam negara dan pengalaman mereka.

Akan tetapi, yang mereka dengungkan adalah perdamaian. "Itu yang membekas dan menginspirasi saya. Mereka di usia muda berbicara tentang perdamaian meski mengalami sendiri masa-masa kelam di negaranya. Mungkin di sini titik balik saya," kata Irfan Amali yang menulis namanya Irfan Amalee.

Yang lebih menakjubkan lagi, acara itu dilangsungkan di sebuah pusat keagamaan. Sebuah kuil menjadi tempat orang membicarakan perdamaian sesuai pandangan masing-masing.

Ketika itu, Irfan berpikir, mengapa hal seperti ini tidak terjadi di Indonesia. Dengan keragaman budaya, kultur yang kuat, dan agama yang berbeda, seharusnya Indonesia bisa menjadi tempat persemaian perdamaian.

"Pesantren menjadi tempat orang belajar dan melihat Islam yang damai. Gereja, wihara, menjadi tempat orang luar belajar cinta dan kasih sesuai agama masing-masing," kata Irfan yang beberapa tahun terakhir membuat gerakan Peacesantren, gabungan dari kata peace (damai) dan pesantren.

Sejak pertemuan itu, dia seperti mendapatkan energi baru. Damai bukan hanya bisa diucapkan semata, bukan sekadar kata, melainkan harus disebarluaskan dengan berbagai cara dan langkah nyata. Cara penyampaiannya juga harus lebih merata, dengan medium yang berbeda-beda. Damai juga bukan sekadar toleransi, melainkan juga empati.

Generasi damai

Pertengahan Februari lalu, kami juga bertemu Irfan di Makassar, Sulawesi Selatan. Senyum dan jabatan hangat menjadi ciri khasnya. Saat itu berlangsung rangkaian acara Peacetival. Diambil dari kata peace dan festival, acara yang mengusung tema damai ini berlangsung meriah dari pagi hingga malam.

Peacetival diisi dengan acara mewarnai untuk anak-anak, lomba puisi, diskusi, juga penampilan band. Sejumlah komunitas diundang untuk membuka stan di area festival. Deklarasi Makassar sebagai kota damai juga dilangsungkan saat itu.

Acara itu dibuat sebagai simbol kampanye damai yang dilangsungkan terus-menerus. Sejauh ini, Peacetival telah dua kali digelar.

Peacetival hanyalah puncak acara yang digagas oleh Irfan dan rekannya, Erick Lincoln, warga Amerika Serikat. Berkenalan dan menjadi teman diskusi beberapa lama, mereka berdua akhirnya sepakat untuk menggagas gerakan damai Peace Generation sejak Juli 2007.

Peace Generation adalah gerakan yang terus diinisiasi oleh Irfan dan kawan-kawan. Setelah membuat panduan melalui 12 nilai dasar perdamaian, dia terus menggalang generasi muda untuk turut serta ambil bagian.

"Dua belas nilai dasar itu yang menjadi pedoman, di antaranya mengakui keberagaman dan mau meminta maaf. Nilai itu disusun dari diskusi panjang dan pengalaman keseharian selama ini," ucap penulis yang telah menghasilkan lebih dari 50 buku ini.

Hingga saat ini, Peace Generation telah menyebar ke beberapa kota dari Aceh hingga bagian timur Indonesia, bahkan juga menyebar ke beberapa negara tetangga. Pada dasarnya Peace Generation (generasi damai) menyasar generasi muda untuk terlibat dan aktif menjadi penyebar kabar damai. Dalam praktiknya, gerakan ini menghimpun generasi muda agar terlibat aktif sebagai agen penyebar damai.

"Sasaran besarnya adalah mengamplifikasi gerakan damai agar tersampaikan secara luas. Nah, untuk mencapai sasaran itu, generasi tentu membutuhkan wadah, ruang, dan gerakan. Kami juga tentu tidak mau hanya sebatas gerakan semata. Karena itu, ada tools yang ditransfer kepada agen damai. Mereka yang akan berbuat di daerah masing-masing dengan kegiatan-kegiatan berbasis gerakan damai," tutur Irfan.

Sejauh ini, sedikitnya ada ratusan guru yang telah dilatih dengan pendekatan damai. Jumlah itu mampu meresonansikan pesan damai kepada sekitar 3.000 siswa. Sasaran utama memang anak-anak usia sekolah, dari kelas IV SD hingga SMA. Bahkan, untuk murid TK, Irfan menyusun modulnya. Hasilnya, tingkat agresivitas siswa yang mendapat pengajaran damai jauh berkurang.

Lalu, untuk apa Irfan melakukan ini semua? "Karena saya ada memang untuk melakukan hal-hal ini. Ini merupakan agenda hidup saya. Tanggung jawab kepada dunia dan anak-anak," ujarnya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 April 2017, di halaman 16 dengan judul "Energi Generasi Damai".

    Baca Juga

    • Pasar Segar, Tempat Berkreasi dan Beraksi

      Namanya Pasar Segar, tetapi bukan sekadar pasar. Sejak setahun terakhir pasar itu menjadi tempat nongkrong anak muda Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka mengobrol, minum teh, kopi sembari merenc

    • Blitar Semakin Ramah Anak Muda

      Dua tahun terakhir, tempat nongkrong anak muda di Blitar, Jawa Timur, bergeser. Sebagian anak muda tidak lagi ngumpul di warung-warung kopi yang memanfaatkan teras pertokoan, tetapi pindah ke kafe dan

    • Sudut Intim Didiet Maulana

      Rumah bagi desainer Didiet Maulana tak sekadar tempat pulang. Di rumah yang menyatu dengan butik, ia membangun ruang privasi di lantai dua. Selain keluarga terdekat, bangunan tambahan yang bisa ditapa

    • Wajah Baru Bermunculan

      Gerakan masyarakat sipil di Indonesia kini telah beradaptasi. Tidak lagi harus dimotori tokoh dengan pengalaman puluhan tahun. Perkembangan teknologi komunikasi kini mampu melontarkan anak muda tanpa

    • Generasi Y Berkontribusi bagi Pembangunan Negara

      JAKARTA, KOMPAS Kontribusi anak muda generasi milenial atau generasi Y perlu diarahkan untuk kemajuan pembangunan nasional. Oleh karena itu, perubahan mendasar dibutuhkan, seperti regulasi dan pola

    • Stasiun Radio yang Tak Ada Matinya

      Era 1980-an hingga 2000-an, telinga kita pernah sangat akrab dengan siaran radio di Jakarta. Siaran radio menjadi teman di rumah, sekolah, kampus, kantor, juga di jalan. Dua dekade berlalu, stasiun ra

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas