Rubrik

sosok > Malu Buang Sampah Sembarangan

Sosok Halaman 16 Kompas

Malu Buang Sampah Sembarangan

Komang Sudiartha
Komang SudiarthaKompas/Ayu Sulistyowati

Ia setia memperhatikan sampah di mana saja dan kapan saja. Tanpa lelah, ia datangi sekolah-sekolah dan menyapa anak-anak demi berkampanye ”Malu Dong Buang Sampah Sembarangan”. Ia adalah Komang ”Bmo” Sudiarta (51), warga Tapak Gangsul, Kota Denpasar, Bali, yang menyebarkan virus kebersihan sejak enam tahun silam. Kini, puluhan orang menjadi relawannya.

Tanpa dibayar, tanpa dipaksa, tanpa diminta, Om Bmo—panggilan akrab Sudiarta—setiap hari mengajak siapa pun yang ditemuinya untuk lebih peduli pada sampah. Tak muluk-muluk, ia hanya berupaya mengajak masyarakat untuk memperlakukan sampah yang dihasilkan dengan tepat.

Bagaimana Om Bmo tersentuh untuk berkampanye semacam itu? Pada mulanya, lelaki itu sedih karena hampir setiap hari melihat orang-orang dewasa membuang sampah sembarangan. Padahal, tak jauh dari tempat orang dewasa itu berdiri ada sebuah tong sampah.

Saat bersamaan, ia kerap mendapati anak-anak sekolah dasar terbiasa buang sampah apa pun secara sembarangan di sekelilingnya. Mereka tak berusaha mencari tong sampah.

”Kunci dari masalah sampah ini adalah perilaku. Apa pun itu. Jika perilaku itu bisa dibenahi, sampah tak akan lagi berserakan, tetapi berada di tempat seharusnya dengan baik. Jika begitu, sampah otomatis bisa terpilah,” katanya.

Tapi, apa yang terjadi? ”Anak-anak usia SD pun memprihatinkan untuk urusan sampah ini. Menangis melihatnya,” kata Om Bmo dengan nada sedih dan mata sedikit berkaca-kaca saat ditemui di rumahnya di Tapak Gangsul, awal April lalu.

Ia tak menyangka, ketika mengantar anaknya ke sekolah, perilaku sebagian besar orangtua dan anaknya juga hampir serupa. Mereka buang sampah semaunya di mana saja. Tak ada upaya menyimpan sampahnya sampai bertemu tong sampah.

Pengalaman itu berlangsung tahun 2011. Menyadari kondisi memprihatinkan terkait budaya ”nyampah”, Om Bmo berupaya mendekati secara pribadi para orangtua di SD anaknya, termasuk guru dan kepala sekolah. Ia ingin mengajak semua orang bersama-sama memperbaiki perilaku. Ternyata ia malah mendapat cemooh.

Mulai dari saudara

Lelaki yang berprofesi sebagai penjahit itu tak menyerah. Ia kembali memulai dengan kampanye kepada saudara-saudaranya. Satu per satu didatanginya. Syukurlah, ia diterima dan didukung para saudaranya. Mereka mau mulai memilah sampah dan memanfaatkan limbah yang bisa diolah kembali semampunya.

Om Bmo lantas berpikir, kampanye membuang sampah barangkali bakal lebih mengena jika dilakukan dengan sesuatu yang lebih menarik perhatian. Setelah bergumul dengan gagasan itu, ia menemukan kalimat sederhana, tapi mengena: ”Malu Dong Buang Sampah Sembarangan”.

Lalu, dengan uang sendiri, lelaki itu mencetak kata-kata itu di atas kain warna-warni dalam bentuk bendera ataupun spanduk. Bahkan, jika ada pesanan kain kaus atau baju tersisa dari usaha menjahitnya, lagi-lagi, dengan uangnya sendiri mencetak sablon kata-kata itu.

Setiap kali bepergian, ia kenakan baju dan bendera dengan berbekal spanduk bertuliskan Malu Dong Buang Sampah Sembarangan. Tentu saja, gaya berkampanye itu menjadi perhatian. Apalagi, sambil mengenakan semua itu, ia berkeliling mengayuh sepeda.

Kegiatan tersebut ia jalani selama enam tahun ini. Sudah sekitar 300 sekolah, mulai dari SD sampai sekolah menengah atas, yang ia datangi satu per satu. Tak kenal menyerah, ia terus mengusung propaganda Malu Dong Buang Sampah Sembarangan.

”Berapa uang sudah dikeluarkan untuk propaganda ini, saya tak peduli. Saya menyadari, harus ada orang yang memulai untuk ini. Saya memilih untuk itu,” tegas Om Bmo.

Di studio jahitnya banyak tumpukan spanduk, stiker, kaus, pin, dan bendera di sana. Semua bertuliskan Malu Dong Buang Sampah Sembarangan. Barang-barang itu ia cetak sendiri dengan uang yang dihasilkan dari pekerjaannya. Bagi dia, barang-barang itu berharga untuk menyebarkan virus perilaku tak buang sampah sembarangan.

Tak berhenti di situ. Om Bmo juga memesan 1.500 dompet khusus untuk membuang puntung rokok. Dompet yang berharga sekitar Rp 15.000 per buah itu juga menjadi bagian untuk menyadarkan para perokok untuk tak membuang puntung sembarangan.

”Dari literatur yang saya baca, puntung rokok atau ujung rokok bekas isapan itu ternyata berbahaya. Kaget juga. Makanya, saya memesan dompet pembuangan puntung rokok ini,” tuturnya.

Proyek bersama

Tahun 2013, ia membuat proyek kecil dengan mengajak beberapa teman yang bersedia turut menyebarkan virus ”Malu Dong” di sekitar Gedung Olahraga (GOR) Ngurah Rai. Mereka bersama-sama berusaha mengubah perilaku para pengguna fasilitas itu untuk lebih peduli membuang sampah secara tepat.

Setiap hari selama tujuh bulan, ia dan relawan mendekati masyarakat yang tengah olahraga agar tak membuang sampah sembarangan. Selain itu, ia membuat 16 tempat sampah untuk ditaruh secara cuma-cuma di beberapa lokasi sekitar Gelora Ngurah Rai itu.

Gerakan itu lumayan mengubah keadaan. Kini, para pengguna sarana olahraga di situ semakin disiplin mencari tempat sampah dan membuang sampah di tempatnya.

Hanya saja, ia masih sedih. Sarana olahraga yang menjadi tanggung jawab pemerintah setempat itu ternyata tidak memiliki tempat pembuangan sampah yang memadai. Ada satu lapangan bola yang tak dilengkapi satu tempat sampah pun.

Menemukan kenyataan demikian, Om Bmo hanya bisa menghela napas. Ia pun ikhlas menyediakan tempat-tempat sampah itu yang diperlukan.

Sayangnya, begitu proyek itu kelar, para relawan turut pergi meninggalkannya. Ia kembali sendirian pada tahun 2013 itu.

Ia lantas tergerak untuk berkampanye di media sosial (medsos). Foto-foto yang diunggahnya di medsos mendapatkan respons positif dari teman-temannya lewat jaringan online. Lebih dari itu, sejumlah orang menawarkan diri untuk menjadi relawan baru.

Lalu, sejumlah relawan dan teman-teman lamanya dari berbagai komunitas datang dan bersepakat untuk merilis ulang gerakan Malu Dong Buang Sampah Sembarangan pada April 2016. Mereka juga bergabung sebagai komunitas.

Kini, para relawan itu berkumpul setiap hari Minggu untuk bersih-bersih sampah dan edukasi gratis kepada siapa pun yang ditemui di Pantai Mertasari di Sanur, Bali.

Komunitas ini menggelar Festival Malu Dong pada pertengahan April lalu. Mereka mengusung gerakan itu sebagai virus positif yang mesti disebarkan kepada khalayak lebih luas.

Bagi Om Bmo, dukungan para relawan dan teman-temannya merupakan anugerah. Dia berharap, dengan bantuan mereka, gerakan bersih-bersih dan membuang sampah pada tempatnya kian meluas.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Mei 2017, di halaman 16 dengan judul "Malu Buang Sampah Sembarangan".

    Baca Juga

    • Sampah dan ”Nyampah”

      Foto-foto tentang sampah di kereta rel listrik menyebar di dunia maya, akhir Juni lalu. Tidak banyak penumpang di KRL yang kotor dengan sampah yang berserakan di lantai ataupun di tempat duduk penump

    • Mengembalikan Adipura

      Sepanjang tahun 1986-2005, Kota Padang, Sumatera Barat, menjadi kota yang sering mendapatkan penghargaan tertinggi dalam bidang lingkungan hidup. Salah satunya Adipura untuk kota terbersih. Namun,

    • Revolusi Mental: Tertib Membuat SIM

      Saya membuat surat izin mengemudi baru di Satuan Pelaksana Administrasi SIM Ditlantas Polda Metro Jaya, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, karena SIM kedaluwarsa (23/4). Sejak di parkiran suasana begi

    • Tempat Wisata Belum Bebas Sampah

      JAKARTA, KOMPAS Sampah yang berserakan masih terlihat di tempat wisata. Perilaku membuang sampah sembarangan serta keterbatasan pengangkutan sampah menjadi penyebabnya.Di taman Museum Seni dan Keram

    • KATA KOTA
      (Bukan) Bangsa Sampah

      MOBIL itu memperlambat lajunya di Jalan Gandaria, Jakarta Selatan, sekitar pukul 06.00. Dari jendela, sebuah bungkusan plastik keresek diletakkan di median jalan. Mobil kembali melaju meninggalkan b

    • Membersihkan Jakarta yang Penuh Risiko

      Luka sobekan akibat tersayat pecahan kaca, yang terselip dalam tumpukan sampah, masih membekas di punggung tangan kanan Danang (35). Ia teringat, cedera yang dideritanya itu membuatnya tak bisa bek

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas