Rubrik

sosok > Tangan yang Mencintai Kain

Sosok Halaman 16 Kompas

Tangan yang Mencintai Kain

KOMPAS/FRANS SARTONO

Tangan perempuan itu sangat sabar, tekun, telaten, luwes, cerdas, dan di atas semua itu ada cinta. Dari tangannya, lahir kain-kain indah hasil ikat, jumput, dan celup. Tangan itu milik Caroline Rika Winata yang menggelar pameran seni kain Tangan Mencintai Kain di Bentara Budaya Yogyakarta pada 3-11 Juni 2017.

Memasuki ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta, di Jalan Suroto 2, Yogyakarta, kita seperti berada di halaman tempat kain-kain sedang dijemur. Kain-kain berjuntai-juntai dengan warna-warna kalem, sejuk, dan segar menawan. Kain-kain yang bisa digunakan untuk syal, scarf, selendang, sarung, atau bahan kebaya dan jenis busana lain.

Semua keindahan itu lahir dari tangan Rika dan asisten-asistennya. Perempuan itu menggambarkan karyanya sebagai hasil dari "tangan yang mencintai kain dengan hati yang penuh warna."

Rika memilih tiga kata utama sebagai judul pameran, yaitu tangan, cinta, dan kain. Ketiganya menghasilkan karya. Tangan, cinta, dan kain juga menjadi jalan hidupnya. "Karena di sini semua buatan tangan. Dan aku memang mencintai kain. Harus ada cinta, harus ada tangan telaten dan sabar," kata seniman kain yang sudah 10 tahun ini menekuni usaha seni kain itu.

Dibutuhkan cinta karena Rika tahu benar ia akan menghadapi pekerjaan rumit, teliti, dan perlu waktu relatif lama, alias tidak ada yang namanya serba instan. Dalam proses pembuatan, mulai dari kain putih hingga menjadi sesuatu yang indah itulah, ia justru menemukan kenikmatan. Keindahan justru ia rasakan ketika proses berjalan, bukan semata hasil.

"Orang harus suka dengan pekerjaan rumit-rumit seperti ini. Kalau tidak, mungkin mereka tidak akan senang. Kita harus duduk lama, ngiket-ngiket kain sampai tangan kapalen, lalu kita harus mengulang-ulang pekerjaan yang sama," kata perempuan kelahiran Bandung yang kini bermukim di Yogyakarta ini.

Ikat mengikat dengan teknik tradisional itu menjadi salah bagian dari proses. Setelah itu ada proses mencelup sesuai warna yang dirancang, kemudian dikeringkan lalu diikat lagi pada bagian-bagian yang dikehendaki. Selanjutnya ada proses mengikat, mencelup, mengeringkan, dan seterusnya berulang-ulang. Itulah keberulangan yang tidak monoton karena Rika menghayatinya sebagai bagian dari hidup. Ada sentuhan tangan, hati, dan jiwa.

"Ragam kain, terutama yang buatan tangan, proses pembuatannya membuat saya terpukau. Tangan juga mengenali jenis-jenis kain dengan sentuhannya," katanya.

Ikat celup

Rika dekat dengan dunia kain sejak dini. Ibunya, sebelum menikah, adalah penjahit profesional. Setelah berkeluarga, sang ibu tetap menjahit untuk keperluan keluarga. Sementara itu, Rika mempunyai minat dalam gambar-menggambar. Dunia jahitmenjahit dan menggambar itu menggiringnya pada cita-cita untuk menjadi perancang mode.

"Namun, bapak enggak membolehkan. Saya harus kuliah minimal S-1," kata Rika yang ayahnya adalah sarjana elektronika yang mengajar di Institut Teknologi Bandung dan Universitas Maranatha, Bandung.

Dunia kain dan gambar itu kemudian tersatukan dalam pemilihan jurusan ketika ia hendak kuliah. Tahun 1995, ia memilih Jurusan Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Ketika kuliah itulah, ia mendalami dan tertarik menggeluti batik, ikat, dan celup.

Tahun 2001, Rika mulai bereksperimen dengan pembuatan desain jumputan, ikat, dan celup. "Ternyata bisa timbul efek macem-macem."

Dia terus melakukan percobaan dan selalu mendapat keindahan tak terduga dari ikat dan celup. Dari pengalaman bereksperimen itu, Rika bisa merancang untuk menciptakan rancangan baru. "Kadang saya bikin motif-motif baru. Saya perkirakan hasil akan seperti ini. tetapi kadang hasil tidak seperti yang saya bayangkan."

Lalu muncul pertanyaan dari orangtua, ia bisa menjadi apa dari keterampilan tersebut? "Ayah saya tanya, 'Kamu mau hidup dari apa?' Lalu saya berpikir, harus ada usaha juga untuk hidup," kata Rika mengenang tantangan ayahnya.

Wiru

Tahun 2004, ia mulai merintis usaha yang berfokus pada kain ikat, ikat celup, dan batik. Tahun 2006 ia berani meluncurkan merek usaha Wiru Handmade Tie Dye & Batik. "Bisnis pakai nama wiru karena saya melihat beberapa teknik ikat celup adalah dengan cara mewiru kain, kemudian dilipat, digulung, diberi penghalang, baru dicelup.

Peluncuran itu "menempel" pada acara launching buku kumpulan Perempuan Bukan Penyair oleh empat perempuan yaitu, Oppie Andaresta, Lulu Ratna, Vivian Idris, dan Olin Monteiro. Bersamaan dengan peluncuran buku tersebut, Rika juga memperkenalkan kain rancangannya lewat pakaian yang dikenakan empat perempuan tersebut, termasuk sarung, tas, dan kain latar panggung.

Dari acara tersebut, karya Rika mulai dikenal. Ia mulai mendapat pesanan dari perancang mode sampai pesanan untuk keperluan desain interior. Usaha rumahan ini berjalan pelan-pelan, terutama setelah ia berkeluarga dan mempunyai anak. Ia harus berbagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah tangga. Kala itu pun ia masih menangani sendiri urusan desain, produksi, dan keuangan. Belakangan usahanya telah melibatkan asisten untuk urusan belanja, produksi, administrasi sehingga ia bisa berkonsentrasi pada bidang perancangan.

Rika mengakui, karena pengerjaan seni kainnya serba manual alias sepenuhnya melibatkan tangan, proses pembuatannya menjadi relatif lama. Untuk satu lembar kain, misalnya, memerlukan waktu 1 sampai 2 minggu bergantung pada tingkat kerumitan. Jika dihitung rata-rata, dalam sebulan ia bisa menghasilkan sekitar 100 meter kain dan kadang juga kurang dari jumlah tersebut.

Akan tetapi, itulah "risiko" sekaligus keindahan dari pekerjaan tangan manusia. Dalam bahasa Rika, itu adalah kain yang dibuat oleh tangantangan manusia dengan cinta dan hasrat jiwa. "Kain itu cinta yang memberi rasa tenang," kata Rika

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Tangan yang Mencintai Kain".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas