Rubrik

sosok > Difabel Melawan Stigma

Sosok Halaman 16 Kompas

Difabel Melawan Stigma

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI

Penyandang disabilitas kerap dianggap lemah dan tak berdaya. Namun, sosok Budi Hariyanto jauh dari stigma itu. Pria yang kedua kakinya berkemampuan terbatas itu bahkan mampu memberdayakan sesama penyandang disabilitas dan warga lain.

Tumpukan televisi berbagai merek dan ukuran layar memenuhi hampir seluruh teras rumah Budi Hariyanto (48) di Desa Wedoro Klurak, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Untuk mencapai pintu rumah yang total luasnya "hanya" 60 meter persegi, kita harus berjalan ekstra hati-hati agar tak menyenggol tumpukan televisi itu.

Siang itu, Budi duduk di lantai tanpa alas. Kedua tangannya sibuk mereparasi sebuah televisi rusak. Sesekali, dia memberikan arahan kepada Ikmanul Huda yang duduk memperhatikan di hadapannya.

Huda merupakan siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Sidoarjo jurusan Elektronika yang tengah mengikuti kegiatan pendidikan sistem ganda (PSG) atau praktik kerja lapangan di tempat Budi.

Setiap tahun, SMKN 1 Sidoarjo selalu mengirimkan murid-muridnya untuk mengikuti PSG di rumah Budi. Masa PSG berlangsung empat bulan dari Mei hingga akhir Agustus. Satu periode minimal diikuti lima siswa dan setiap tahun siswanya selalu berganti sesuai dengan penugasan dari pihak sekolah.

Sejak 2002, Budi dipercaya sebagai mitra SMKN 1 Sidoarjo dengan tugas memberikan pendidikan praktik lapangan kepada para siswa. Budi juga harus memberikan penilaian terhadap hasil belajar para siswa yang dibimbingnya. Penilaian itu harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

Budi juga sempat menjadi penguji praktik untuk bidang studi Elektronika di SMKN 1 Sidoarjo selama enam tahun. Namun, karena undang-undang tentang sistem pendidikan nasional 2013 mewajibkan tim penguji berpendidikan minimal sarjana strata satu, Budi tak lagi bisa menjalankan amanah itu.

"Alih-alih kuliah, duduk di bangku sekolah (pendidikan formal) saja tidak pernah. Tidak ada satu ijazah pun yang saya miliki," ujar Budi saat ditemui di rumahnya, akhir Mei lalu.

Lumpuh

Budi kecil lahir dengan organ tubuh sempurna. Namun, saat bocah, dia jatuh sakit sehingga lumpuh total dan sulit bicara. Setelah diterapi, dia bisa bangun, tetapi tak bisa berjalan karena kedua kakinya mengecil. Kondisi itulah yang menyebabkan Budi tak pernah mengenyam bangku sekolah.

Orangtuanya harus bekerja mencari nafkah sehingga tak punya waktu untuk mengantar jemput Budi ke sekolah setiap hari. Hingga usia belasan tahun, Budi hanya berdiam di rumah membantu pekerjaan orangtuanya sebagai perajin perhiasan emas dan perak. Di sela aktivitasnya, dia belajar membaca dan menulis secara otodidak.

Saat remaja, Budi mulai mencari pelatihan untuk penyandang disabilitas. Dia pun mendaftar kursus elektronika di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Tubuh di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, 1984. Namun, Budi tak kunjung mendapat panggilan kursus hingga lebih dari dua tahun karena keterbatasan kuota peserta pelatihan.

Tidak berputus asa, Budi mencari pelatihan di lembaga pendidikan swasta. Dia mengajak serta seorang teman agar dirinya bisa menumpang sepeda motor temannya setiap hari. Salah satu kendala bagi penyandang disabilitas adalah akses yang terbatas dan menghambat mobilitas. Angkutan penumpang umum, hingga jalur pedestrian, tak ramah terhadap mereka.

Singkat cerita, berbekal hasil kursus elektronika, Budi bekerja di sebuah usaha jasa perbaikan barang-barang elektronik di Kabupaten Jember. Penghasilan selama bekerja dia kumpulkan untuk bekal buka usaha jasa perbaikan elektronik di Bangil.

Saat itu sekitar 1987, Budi meninggalkan Jember karena mendapat panggilan sebagai peserta pelatihan dari UPT di Bangil. Namun, saat diuji sebagai syarat mengikuti pelatihan, Budi dinyatakan sudah mahir. Dia akhirnya diminta menjadi instruktur bagi penyandang disabilitas lain. Mereka berasal dari sejumlah kota di Jawa Timur, seperti Surabaya, Mojokerto, Jombang, Madiun, dan Banyuwangi.

Selain mengajar di UPT Bangil, dia juga mengajar anak-anak sekolah sekitar di bengkelnya. Kepada murid-muridnya, dia selalu memberikan dorongan semangat agar tak putus asa dan tak bergantung kepada orang lain. Hasilnya, banyak murid Budi yang menjadi wirausaha jasa perbaikan alat elektronik di daerah asalnya.

Melihat kerja keras, semangat yang pantang menyerah, serta pengabdiannya terhadap masyarakat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menobatkan Budi sebagai Pemuda Pelopor Terbaik I bidang pembangunan kesejahteraan sosial tahun 2000.

Adapun kepiawaiannya di bidang elektronika mengantarkan Budi menyabet juara I Abilimpik Nasional IV 2007 untuk kategori penyambungan sirkuit elektronika.

Jangan didiskriminasi

Selain sibuk menjalankan usaha jasa perbaikan alat elektronik dan membimbing siswa SMKN, Budi juga dipercaya menjadi Ketua Perkumpulan Penyandang Cacat Mandiri Kabupaten Sidoarjo. Bersama sekitar 100 penyandang cacat lainnya, Budi berjuang membangun stigma positif di masyarakat.

"Penyandang cacat jangan dikasihani, tetapi beri kepercayaan dan akses yang luas ke berbagai bidang agar mereka berdaya serta mandiri. Penyandang cacat mampu berkontribusi terhadap pembangunan bangsa, bahkan turut serta menciptakan lapangan pekerjaan, asalkan diberi kesempatan," katanya.

Pernyataan itu bukan isapan jempol. Budi mengatakan, sebagian besar penyandang cacat adalah wirausahawan. Ada yang membuka bengkel elektronik, menjadi perajin logam, membuka rumah produksi pakaian, kue dan makanan olahan, hingga warung kopi.

Mereka mengandalkan modal sendiri karena belum mendapat kepercayaan mengakses pembiayaan yang difasilitasi pemerintah. Budi, misalnya, untuk mengembangkan usaha jasa perbaikan elektroniknya, dirinya harus mengagunkan sertifikat rumahnya ke bank. Alhasil, hanya demi mendapat pinjaman Rp 5 juta, dia harus "menyekolahkan" sertifikat seharga Rp 130 juta.

Budi berharap, penyandang difabilitas diberi akses yang sama. Contohnya, ketersediaan tempat parkir untuk sepeda motor khusus difabel, yakni roda tiga, di tempat pelayanan umum seperti rumah sakit, kantor dinas, dan pusat perbelanjaan. "Masuk lewat jalur mobil diusir, tetapi masuk lewat jalur sepeda motor tidak cukup karena jalurnya kurang lebar," ucap Budi.

Di puncak pertemuan, Budi mengatakan, penyandang disabilitas pun ingin berkarya. Oleh karena itu, jangan diskriminasi terhadap mereka. Berikan fasilitas yang sama agar mereka bisa berbahagia karena makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Difabel Melawan Stigma".

    Baca Juga

    • Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas Terbatas

      SEMARANG — Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan bagi penyandang disabilitas masih amat terbatas, karena banyak pemberi kerja yang menganggap orang cacat sebagai beban. Oleh karena itu, inisiatif mul

    • Kilas Daerah

      Kabel Murah Diduga Picu Tingginya Kebakaran MANADO — Sebanyak 85 kasus kebakaran terjadi di Kota Manado, Sulawesi Utara, selama enam bulan ini dan merenggut nyawa dua warga. Sebagian kasus kebakaran

    • Menagih Janji Presiden Terkait RUU Penyandang Disabilitas

      Jakarta, Kompas Mewakili suara penyandang disabilitas, sejumlah organisasi menagih janji Presiden Joko Widodo semasa kampanye calon presiden. Di acara bertajuk ”Penyandang Disabilitas Menagih Janji P

    • RUU Penyandang Disabilitas

      Sejumlah media menyoroti RUU  Disabilitas yang tengah dibahas DPR karena masuk dalam program legislasi nasional 2015-2019.  Namun, pembahasan RUU  Disabilitas ini masih memprihatinkan. Dalam sida

    • Legalisasi Stigma

      Perjuangan kesetaraan dan penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas telah berlangsung sejak sebelum masa reformasi. Aktivis gerakan disabilitas di Indonesia tak pernah berh

    • 25 Penyandang Tunanetra Ikut Mencoblos di Tangsel

      TANGERANG SELATAN, KOMPAS Sebanyak 25 penyandang cacat netra atau tunanetra terdaftar dalam daftar pemilih tetap pada Pemilihan Kepala Daerah Tangerang Selatan, Banten, untuk memilih wali kota-waki

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas