Rubrik

sosok > Untuk Leuser Dia Mengabdi

Sosok Halaman 16 Kompas

Untuk Leuser Dia Mengabdi

Ibrahim
IbrahimKOMPAS/ZULKARNAINI

Pendidikan formalnya hanya sampai sekolah dasar. Namun, oleh para peneliti dan aktivis konservasi, dia kerap disapa dengan panggilan profesor. Dialah Ibrahim (53), ahli fenologi dari Desa Ketambe, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Aceh.

Julukan profesor itu disematkan karena ketekunannya mendampingi para peneliti dari banyak negara selama lebih dari seperempat abad. Dan, ia pun menyerap ilmu dari mereka. Ibrahim pun menjadi sangat paham mengenai fenologi, ilmu tentang hubungan timbal balik antara iklim dan fenomena biologis tersebut.

Pengalaman mendampingi itu menjadikan pengetahuan Ibrahim tentang hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sangat luas. Dia mengenali semua jenis pohon yang berada di hutan Leuser mulai dari nama hingga karakteristik pohon itu.

"Di hutan Leuser terdapat sekitar 1.000 jenis pohon. Saya hafal nama lokalnya. Kalau nama Latin hanya sebagian," ujar Ibrahim, awal Mei lalu, di Stasiun Penelitian Soraya, Subulussalam, Aceh.

Tidak hanya sebatas mengenali tanaman, Ibrahim juga memahami karakter pohon-pohon di KEL dengan baik. Dia menjadi semacam kamus karena mengetahui pohon-pohon itu kapan musim berbuah, hewan apa yang memakan daun dan buah pohon itu, serta pola pertumbuhannya.

Ibrahim biasa menyusuri jalan setapak keluar-masuk tiga stasiun penelitian di Leuser, yakni Stasiun Penelitian Orangutan Ketambe, Aceh Tenggara; Stasiun Suak Belimbing, Aceh Selatan; dan Stasiun Soraya, pusat penelitian satwa dan keanekaragaman hayati Leuser.

Menyusuri jalan setapak yang menanjak, dia dengan cermat mencatat pertumbuhan pohon yang diteliti. Jika meneliti perilaku satwa seperti siamang dan orangutan, dia tidak hanya meneliti harian atau mingguan. Akan tetapi, dia mengikuti hewan yang ditelitinya itu hingga waktu enam bulan.

Saat ini, Ibrahim bekerja di lembaga Forum Konservasi Leuser (FKL) sebagai ahli bidang satwa dan tumbuhan. Meski usianya tidak muda lagi, dia masih sanggup menjelajahi belantara Leuser, berjalan kaki berjam-jam, mendaki perbukitan, dan menyusuri sungai dengan perahu.

Ia bertugas menjaga keberadaan KEL, hutan hujan tropis, dan daerah tangkapan air yang berada di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara seluas 2,63 juta hektar. Sebanyak 2,25 juta hektar lahan berada di 13 kabupaten di Aceh dan 384.297 hektar masuk dalam tiga kabupaten di Sumatera Utara. KEL adalah rumah bagi spesies langka di dunia, seperti gajah, orangutan, badak, dan harimau, serta ratusan satwa lainnya.

Di dalam KEL terdapat Taman Nasional Gunung Leuser, kawasan suaka alam, hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, dan hutan produksi yang dapat dikonversi.

Tekun

Ibrahim lahir di Semadam, Aceh Tenggara, tahun 1964. Pada 1982, saat usianya 18 tahun, dia pindah ke Desa Ketambe, masih di kabupaten yang sama. Seperti juga anak desa lainnya, menjadi petani adalah satu-satu pilihan Ibrahim saat itu.

Desa Ketambe berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Saat itu banyak peneliti dan turis asing berkunjung ke Leuser untuk melakukan penelitian satwa dan tumbuhan.

Pada 1986, seorang peneliti dari Universitas California, Amerika Serikat, mengajak Ibrahim untuk menjadi asistennya. Mereka meneliti perilaku orangutan yang berada di Ketambe. Selama enam bulan, dia mengikuti orangutan itu, mencatat setiap gerak-geriknya, tanaman yang dimakan, bentuk sarang, dan sebagainya. Terkadang dia bermalam di bawah pohon tempat orangutan membuat sarang.

Ibrahim juga meneliti pertumbuhan tanaman. Setiap bulan pohon yang diteliti dicatat perkembangannya, mulai dari berapa tunas baru, tinggi, lingkaran, sampai dengan perubahan kulit batang pohon yang diteliti.

Sejak saat itu Ibrahim mulai tertarik dengan konservasi, khususnya ilmu tanaman dan satwa liar. "Saat itu saya baru tahu ternyata Leuser memiliki kekayaan tumbuhan dan spesies. Saya memutuskan mengabdi untuk Leuser," kata Ibrahim.

Dalam kurun waktu 30 tahun, ratusan peneliti telah didampingi. Apabila mendampingi peneliti senior, dia belajar banyak dari mereka. Sebaliknya, saat mendampingi peneliti pemula, Ibrahim dengan senang berbagi pengetahuan.

"Kebanyakan peneliti dari luar negeri, mahasiswa magister, hingga calon profesor menjadikan Leuser sebagai obyek penelitian," ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, perilaku tanaman hingga apa yang dimakan satwa penting untuk diketahui agar upaya perlindungan Leuser bisa berjalan baik. Di hutan Leuser, satwa liar seperti orangutan, siamang, beruang, gajah, dan badak masih bisa hidup karena ketersediaan makanan terjamin.

Kompas/ZulkarnainiInilah Ibrahim, ahli tanaman dan satwa liar di Kawasan Ekosistem Leuser. Dia tinggal di Desa Ketambe, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Sejak tahun 1986, ayah 5 anak itu sudah terlibat dalam kegiatan konservasi di hutan kawasan ekosistem leuser atau KEL.

Kelestarian Leuser tidak terlepas dari keberadaan satwa. Satwa merupakan penebar benih tanaman paling baik. Misalnya orangutan dan gajah. Biji dari buah yang mereka makan dan keluar dari kotoran menjadi benih unggul. Benih itu tumbuh dengan alami. Dengan begitu, tegakan pohon dan tutupan hutan tetap terjaga.

"Hutan yang baik menjadi mitigasi bencana ekologi, penyedia air bagi manusia, menyerap karbon, dan melepaskan udara bersih bagi manusia," kata Ibrahim.

Ibrahim berniat menerbitkan buku kumpulan nama tanaman di hutan Leuser. Saat ini dia tengah mengumpulkan materi untuk dibukukan. Selama ini Ibrahim masih menyimpan materi itu di kepalanya. Bagi peneliti, ia bak kamus berjalan.

Direktur Forum Konservasi Leuser Rudi Putra mengatakan, Ibrahim adalah satu-satunya orang yang memahami semua tanaman di hutan Leuser. "Barangkali di Indonesia hanya Ibrahim yang dapat mengidentifikasi tanaman hingga 1.000 jenis," ujar Rudi.

Keterlibatan Ibrahim dalam dunia konservasi bukan hanya di Leuser. Dia pernah setahun melakukan penelitian tentang ketersediaan pakan badak di hutan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Dia juga terlibat dalam penelitian mikro-hidro di Lampung.

Namun, belakangan hutan Leuser kian terancam aksi perambahan. Alih fungsi lahan, pembalakan liar, dan perburuan satwa di Leuser marak. FKL Mencatat pada 2016 sebesar 24.000 hektar hutan Leuser rusak.

"Saya sedih menyaksikan kerusakan Leuser. Merusak hutan sama dengan menambang bencana untuk anak cucu kita," kata Ibrahim.

Ibrahim

u Lahir: Aceh Tenggara, 20 Agustus 1964u Pendidikan terakhir: Sekolah dasaru Pekerjaan: Petani dan staf Forum Konservasi Leuser (FKL), peneliti fenologi

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Untuk Leuser Dia Mengabdi".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas