Rubrik

sosok > Melawan Kanker, Menuju Atap Dunia


Muhamad Gunawan

Melawan Kanker, Menuju Atap Dunia

Divonis dokter mengidap kanker nasofaring pada November 2015, Muhamad Gunawan tidak patah semangat. Dia justru bangkit untuk melawan. Bahkan, lelaki berusia 59 tahun ini berusaha mewujudkan mimpi lamanya: menjejak puncak Everest, titik tertinggi di bumi.

KOMPAS/HARRY SUSILO

Ogun, begitu ia disapa, mengenakan kaus abu-abu merah bertuliskan slogan ”Ogun Roads to Everest” sore itu. Dia baru saja rampung latihan berjalan cepat secara konstan. ”Saya masih belum berani untuk diforsir latihan lari karena khawatir cedera otot,” ujar Ogun saat ditemui di GOR Soemantri Brodjonegoro Kuningan, Jakarta, Rabu (24/5) sore lalu.

Belum lama ini, Ogun baru kembali ke Indonesia setelah berlatih di puncak Yala, kawasan Langtang, Nepal. Pendakian ke Yala merupakan bagian dari program latihan menuju ekspedisi Everest (8.848 meter di atas permukaan laut) yang juga berada di Nepal dan dijadwalkan berlangsung pada April-Mei 2018.

Latihan Ogun dibuat bertahap karena kondisinya masih belum pulih betul setelah perawatan kanker nasofaring. Namun, berkaca pada pendakian ke puncak Yala, ia optimistis dapat mewujudkan rencana ekspedisi ke Everest. ”Saat mendaki Yala kemarin, saya merasa bugar. Saturasi oksigen dan denyut nadi juga kondisinya baik. Memang jalan saya agak pelan, tetapi tidak berhenti,” katanya.

Sempat terguncang

Ogun tak pernah menyangka divonis kanker nasofaring. Awalnya, ia sulit tidur karena ada benjolan di belakang leher, serupa bengkak akibat terbentur benda keras. Beberapa bulan kemudian, benjolan itu makin menjadi dan terasa sakit. Pendengaran Ogun bahkan ikut terganggu dan suara menjadi parau.

Awal November 2015, Ogun memeriksakan diri ke dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan (THT) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Jakarta. Ia diminta menjalani biopsi (pengambilan sampel jaringan sel). Namun, lelaki itu enggan mengikuti saran dokter.

Beberapa hari kemudian, Ogun bertolak ke Balikpapan, Kalimantan Timur, untuk menghadiri satu acara. Ketika baru tiba, penglihatannya terganggu, tiba-tiba menjadi buram. Ia kembali ke Jakarta untuk periksa mata. Dokter menduga, gangguan pandangan itu terkait benjolan dan pendengaran yang berkurang.

Setelah berkonsultasi dengan seorang teman yang juga dokter, Ogun menjalani CT-scan dan rangkaian pemeriksaan lain di RSCM Kencana. Kali ini, ia nurut untuk melakukan biopsi dengan diambil sampel jaringan sel dari tubuhnya.

Hasilnya disampaikan dokter seminggu kemudian, dan Cecilia Yashita atau Vita, istri Ogun, membacakannya perlahan. Ogun divonis menderita kanker nasofaring stadium 4! Ia pun tersentak hebat.

Selama hidupnya, ia tak pernah terguncang sehebat hari itu. Ia menitikkan air mata membayangkan konsekuensinya. Ia khawatir tidak sempat menyaksikan putranya yang masih SMP menjalani wisuda sarjana. Vita meyakinkan suaminya untuk menghadapi kenyataan dan tetap optimistis. Ogun mengangguk meski menyadari hari esok tidak mudah.

Dokter meminta Ogun agar rutin menjalani kemoterapi dan radioterapi. Ia pun mondar-mandir menjalani rawat inap di rumah sakit dan mengalami fase sulit. Jangankan untuk menelan makanan, baunya saja sudah membuat ia mual dan kerap muntah. Namun, ia berusaha tabah dan tegar.

Ogun tak ingin menyerah. Ia berjuang melawan kanker. Itu juga tertuang dalam buku Ogun, Cancer Survivor Menggapai Puncak Dunia yang ditulis Zhibril A.

Mimpi ke Everest

Pada pertengahan 2016, kondisi Ogun berangsur membaik. Tepatnya, 27 Juli 2016 adalah hari terakhir ia menjalani radioterapi. Rupanya ada satu mimpi yang memotivasi lelaki itu sembuh, yaitu menjejakkan kaki di atap bumi.

Ya, di sela-sela perawatan di rumah sakit, mimpi untuk mendaki Everest terus menghinggapi benak Ogun. Ia merindu segala hal di Everest. Mulai dari embusan angin, suhu dingin, salju, batu, tebing, hingga senyum ramah para sherpa di Himalaya.

Pendakian gunung es bukan hal baru bagi Ogun. Ia tercatat sebagai anggota perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung Wanadri sejak 1981.

Ogun sudah bolak-balik mendaki Carstensz Pyramid (4.884 meter di atas permukaan laut) di Papua, puncak tertinggi di Indonesia yang juga salah satu dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Pada 2010, ia turut mendampingi anggota tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri untuk menggapai puncak itu.

Hasrat Ogun menapaki puncak tertinggi di dunia itu tak terlepas dari kenangannya pada Ekspedisi Mount Everest Indonesia pada 1997. Bersama dengan Kopassus dan beberapa pendaki Indonesia lain, ia menjadi anggota tim ekspedisi. Saat itu, upaya Ogun menggapai Everest melalui jalur utara (Tibet) gagal setelah terhenti pada 200 meter menjelang puncak.

Ogun dan tim terpaksa turun terlebih dahulu ke kamp 5 dan Advance Base Camp untuk pemulihan. Namun, sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak, Ogun dan tim diminta untuk menyudahi ekspedisi dan kembali ke Kathmandu, ibu kota Nepal.

Langkah itu diambil karena tim Indonesia lain, yang mendaki lewat jalur selatan, telah berada di Kathmandu seusai salah satu pendakinya berhasil mencapai puncak Everest. Ogun kecewa. Sejak saat itu pula, dia memendam hasrat kembali menziarahi Everest.

Sagarmatha, bahasa lokal untuk Everest, memang menjadi impian bagi banyak pendaki dunia. Hanya segelintir pendaki dari Indonesia yang mencapai pucuk bumi itu. Selain anggota Kopassus, Serka Asmujiono, pada ekspedisi 1997, empat pendaki dari Mahitala Universitas Katolik Parahyangan juga menggapai Everest pada 2011 dan empat pendaki Wanadri pun menjejak puncak itu pada 2012-2013.

Kini, mimpi Ogun seperti menemukan momentumnya. Berselang 20 tahun sejak ekspedisi Everest bersama Kopassus, ia dan para kerabat yang mendukungnya coba mengobarkan semangat dengan menancapkan slogan ”Ogun Roads to Everest” atau disingkat ORTE.

Sebelum itu, Ogun berencana melakukan simulasi dengan mendaki beberapa puncak tertinggi. Setelah Yala, Ogun akan mendaki Baruntse (7.129 mdpl) dan Mera Peak (6.476 mdpl) di Nepal serta Carstensz Pyramid. Rangkaian ekspedisi itu membutuhkan biaya yang tak sedikit. ”Mungkin sekitar Rp 2 miliar,” ucapnya.

Bersama teman dan keluarga, Ogun membentuk tim penggalangan dana dengan mencari sponsor serta menjual cenderamata dan konser amal. Tim membuka komunikasi lewat akun media sosial Instagram @ogun_climb_fightingcancer atau akun Facebook Muhamad Gunawan.

Hidup tak selalu mulus, seperti juga Ogun yang tiba-tiba didera kanker nasofaring. Jika dapat mendaki Everest dengan kondisi tubuh yang masih menyandang kanker, hal itu diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi para pengidap kanker lain. Ia coba menyampaikan pesan: hidup layak diperjuangkan...!

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Melawan Kanker, Menuju Atap Dunia".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas