Rubrik

sosok > Pembawa Aliran Baru

Sosok Halaman 16 Kompas

Pembawa Aliran Baru

AP Photo/David Vincent

Alam seolah memberi tanda. Saat Gustavo Kuerten mengangkat Coupe des Mousquetaires sebagai juara tunggal putra Perancis Terbuka 1997, nun di Riga, Latvia, seorang bocah perempuan lahir. Bayi molek itu bernama Jelena Ostapenko.

Kuerten adalah petenis nyaris tidak dikenal. Petenis berambut gimbal ini hanyalah seorang petenis bukan unggulan yang penampilannya unik dengan kostum mirip jersey sepak bola Brasil. Seperti halnya Kuerten, Ostapenko bukanlah petenis yang masuk daftar unggulan saat Grand Slam Perancis Terbuka 2017 dimulai dua pekan lalu. Gadis dengan pipi memerah ini hanyalah petenis peringkat ke-47 dunia dan favorit di Roland Garros adalah nama-nama top seperti Angelique Kerber, Simona Halep, atau Karolina Pliskova.

Absennya sejumlah petenis tenar, seperti Serena Williams, Maria Sharapova, dan Victoria Azarenka, karena alasan yang berbeda-beda, membuat arena Roland Garros tahun ini begitu terbuka di kelompok putri. Namun, bahkan sampai dengan sebelum babak perempat final saat bertemu Caroline Wozniacki, Ostapenko pun masih berstatus bukan unggulan. Padahal, dia juga menggusur nama besar Sam Stosur (Australia) pada babak keempat.

Baru setelah menyingkirkan mantan petenis nomor satu asal Denmark tersebut dan melaju ke semifinal, nama Ostapenko mulai banyak disebut. Namun, gadis itu tidak pernah diperkirakan akan menjadi juara.

Sejarah akhirnya mencatat, Ostapenko menjadi orang Latvia pertama yang memenangi gelar tunggal Grand Slam. Gadis dengan rambut panjang dikepang ini juga menjadi petenis bukan unggulan pertama yang meraih trofi Perancis Terbuka sejak Margaret Scriven (Inggris) melakukannya pada 1933.

Risiko besar-hasil besar

Gaya permainan Ostapenko yang memukul sangat keras dari semua sisi lapangan, baik dari sisi forehand maupun backhand, membuat dirinya istimewa. Dia selalu berani mengambil risiko besar memukul sekencang- kencangnya dari garis belakang. Gaya bermain high risk-high reward-risiko besar-hasil besar-ini jelas nyata dalam statistik penampilannya. Ostapenko bermain dengan filosofi see ball-hit winner, fokus ke bola dan hasilkan angka dengan cepat. Ostapenko jelas membawa aliran baru dunia tenis putri, yang jauh lebih bertenaga, jauh penuh gairah.

Gaya permainan tanpa rasa takut dan berisiko tinggi ini mengantarkannya ke final dengan 245 winners, atau pukulan penghasil poin dengan 217 kesalahan (unforced errors). Angka statistik winner Ostapenko dua kali lebih banyak daripada Simona Halep, lawan yang dihadapinya pada laga pemuncak. Saat mengalahkan Halep di lapangan Philippe Chatrier, Ostapenko membukukan 54 winners dan tak perlu heran, dia membuat 54 kesalahan juga. Meski begitu, banyak winner Ostapenko didapat pada momen yang besar dan menentukan kemenangan game ataupun set.

"Kita menjadi saksi sesuatu yang sangat istimewa dari perempuan muda ini," ujar Chris Evert, pemegang tujuh gelar di Roland Garros, selepas kemenangan Ostapenko atas Timea Bacsinszky (Swiss) di semifinal. "Saya sampai melompat dari tempat duduk saat dia mengalahkan Wozniacki dan terjadi lagi hari ini," kata Evert.

Menurut Evert, pemain yang mendominasi kelompok putri pada era 1970-an, dirinya menjadi saksi munculnya generasi petenis penuh tenaga dengan power game yang sangat kental pada Steffi Graf (Jerman), Monica Seles (AS), Martina Hingis (Swiss) dan Serena Williams. "Namun, ada sesuatu yang istimewa dari pemain ini (Ostapenko) dan faktanya dia bermain tanpa rasa takut. Dia penuh energi dan seolah tiba-tiba muncul di hadapanmu," kata Evert.

Dibentuk lingkungan

Terlahir dari keluarga olahragawan, Ostapenko kecil mengenal tenis dari sang ibu yang juga bernama Jelena, saat usianya menginjak lima tahun. Gaya permainan bak-buk-bak-buk tanpa takutnya banyak dipengaruhi oleh permainan penuh tenaga, power game ala Serena Williams, petenis Amerika yang diidolakannya.

Gaya permainan Ostapenko yang membutuhkan kelenturan prima dan olah kaki yang lincah tertolong oleh aktivitasnya di dunia dansa. Ostapenko kecil mulai belajar dansa juga pada usia lima tahun dan langsung ikut kejuaraan nasional Latvia untuk dansa ballroom. Pada usia 12 tahun, dia mulai fokus pada tenis dan menjuarai tunggal putri yunior Wimbledon lima tahun kemudian.

Lingkungan keluarga yang selalu diwarnai kegiatan olahraga inilah- ayahnya, Jevgenijs Ostapenko, seorang pesepak bola profesional-yang membentuk kepribadian Jelena kecil. Dia selalu melakukan sesuatu dengan cepat dan tidak pernah diam.

Pelatihnya, Anabel Medina Garrigues-pemegang dua gelar ganda di Roland Garros-menggambarkan kehidupan Ostapenko yang serba cepat. "Hidup dia kira-kira seperti ini, semuanya sangat cepat," kata Medina. "Memukul cepat, berjalan cepat, bicara cepat. Kepribadiannya seperti itu. Dia sangat aktif dan penuh energi," kata Medina yang menangani Ostapenko sejak awal musim 2017.

Secepat jalannya, bicaranya, karier Ostapenko juga melesat kilat. Peringkatnya meroket dari ke-47 Women's Tennis Association (WTA) menjadi ke-12. Secepat perjalanan kariernya, pencinta tenis berharap Ostapenko tidak cepat juga meredup. Gaya permainan superagresifnya dengan filosofi high risk-high reward akan menjadi warna baru di dunia tenis putri.

Ostapenko tidak hanya bermodal gaya dengan kaki-kaki lincah penari dansa. Dia penuh gairah dan punya mental juara. Ostapenko kalah set pertama melawan Halep, kemudian tertinggal 0-3 pada set kedua dan 1-3 di set penentu. Namun, dia bangkit dan membuat sejarah baru dengan kemenangan 4-6, 6-4, 6-3.

"Saya belum bisa memercayai ini semua, menjadi juara di Roland Garros. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan," ujar Jelena Ostapenko dengan pipi memerah dan senyum merekah.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Pembawa Aliran Baru".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas