Rubrik

sosok > Demi Kejayaan Batik Lasem

Sosok Halaman 16 Kompas

Demi Kejayaan Batik Lasem

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi, Priscilla Renny (34) berjuang melestarikan batik tulis lasem. Generasi ke-5 keturunan Ong itu membuat ulang (reproduksi) batik lasem yang hampir punah dengan "isen-isen", isian dalam motif batik, lebih variatif. Pembatik muda juga dibina supaya regenerasi tetap berjalan.

Sudah enam tahun perempuan yang akrab dipanggil Renny itu mewarisi usaha batik tulis Maranatha dari mendiang ibu, Naomi Susilowati Setiono (56). Naomi diwarisi bapaknya, Ong Liang Dju, penerus Ong Oen Hwie, yang sebelumnya diwarisi Ong Jok Thai, yang hidup tahun 1800-an. Usaha batik tulis turun-temurun itu berlokasi di Jalan Karangturi I/1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Sebelum terjun ke usaha batik, Renny, anak ke-2 dari Naomi, mengalami kecelakaan sepeda motor pada November 2005. Musibah itu sempat merenggut total penglihatannya. Beruntung, seiring waktu dan pengobatan rutin, mata kanannya dapat melihat kembali meski agak samar. Ia terpaksa berhenti sekolah di kelas III SMA dan nyaris 10 tahun tak keluar rumah.

Di rumah, Renny mulai mendalami proses pembuatan batik, mulai dari menggambar motif hingga mewarnai kain. Secara kultur, batik sudah mendarah daging dalam dirinya. Sejak kecil, ia paham warna dasar motif batik tiga negeri-warna merah mewakili Lasem, biru mewakili Solo, dan coklat mewakili DI Yogyakarta. Tekad melestarikan batik tulis lasem semakin kuat setelah sang ibu meninggal pada 2010.

Namun, melanjutkan usaha batik yang sudah mapan bukan perkara mudah. Banyak orang yang mencemooh dan meragukan dirinya karena penglihatan yang terbatas. Lebih dari itu, sang ibu tak pernah mengajarkan teknik pembuatan batik. Konon persaingan antar-pengusaha batik sangat sengit sehingga anak atau sanak keluarga pun tak mengetahui teknik pencampuran warna, terutama untuk warna khas batik lasem.

Di buku teknik pencampuran warna milik ibunya, Renny malah mendapati puluhan teknik berbeda untuk membuat warna khas batik lasem, seperti merah darah ayam (getih pitik). Meski begitu, teka-teki teknik pencampuran warna harus segera dipecahkan agar usaha bisa dilanjutkan. Selama dua minggu, ia terus bereksperimen, mulai dari membuat warna coklat, biru, kuning, hingga yang terakhir merah.

Seiring waktu, Renny memutuskan membuat ulang batik lasem atau batik pesisir pantai utara Jawa. Keputusan itu dilatarbelakangi kekhawatiran dirinya akan gempuran batik cap yang diproduksi secara massal, terutama di Lasem. Repro adalah salah satu upaya mempertahankan eksistensi batik tulis lasem. Beberapa batik yang ia repro, antara lain hokokai, kopi tutung, altar cloth, dan tiga negeri.

"Batik-batik lama dibuat ulang dengan pola sama, tetapi isen berbeda. Isen-isen dibuat lebih kecil dan detail sebagai ciri khas Maranatha saat ini," ujar peraih penghargaan Upakarti tahun 2014 Kategori Jasa Pengabdian itu, Minggu (28/5).

Repro batik

Lasem pernah menjadi salah satu kota penting penghasil batik di pesisir utara Jawa. Sejak abad ke-18, industri batik menjadi motor utama perekonomian kota yang berada sekitar 20 kilometer sebelah timur kota Rembang tersebut. Batik dari kota ini terkenal hingga mancanegara.

Lasem menjadi satu dari lima besar kota batik di Jateng dan sekitarnya, yakni Pekalongan, Solo, Banyumas, Yogyakarta.

Namun, kejayaan batik tulis lasem perlahan memudar seiring meledaknya krisis moneter 1998 dan gempuran batik cap yang diproduksi massal. Pengusaha batik tulis di Lasem satu per satu gulung tikar. Mereka tak mampu bersaing dengan batik cap yang harganya jauh lebih murah. Namun, Renny tak menyerah dan terus berusaha di tengah keterbatasan yang ada.

Renny menggambar motif dan menentukan warna semua batik tulis produksi Maranatha. Para pembatik tinggal mengikuti instruksi dan sesekali memberi masukan. Hal itu yang membuat batik Maranatha bertahan dan tetap berharga tinggi hingga kini. Harga kain bervariasi, mulai dari Rp 3,5 juta hingga puluhan juta rupiah bergantung pada kerumitan motif dan warna.

"Ciri khas batik buatan mama (Naomi) dan saya jelas berbeda. Motif batik yang saya buat lebih kecil dan detail. Selain itu, saya lebih fokus ke batik-batik repro," ujar Renny.

Batik tulis Maranatha hanya memproduksi 60-70 kain batik sarung dan 2-3 kain batik klasik setiap bulan. Batik sarung dijual Rp 3,5 juta per kain dan batik klasik Rp 5,5 juta-Rp 6,5 juta per kain. Adapun omzet penjualan usaha batik tulis ini minimal Rp 80 juta per bulan. Batik tulis Maranatha dipasarkan, antara lain, ke Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, Dubai, hingga Amerika Serikat.

Maranatha juga memiliki beberapa batik yang sudah dipatenkan, yakni batik dua naga delapan dewa (2009), lasem sekar jagad es the (2007), batik lasem lokcan watu pecah (2007), lokcan lasem penutup pintu (2007), dan lasem sekar jagad latoh alge (2007). Motif batik lasem atau pesisir identik dengan kehidupan di laut, seperti rumput laut (lato), bunga teratai, ikan, dan udang.

Pembatik muda

Kini hanya segelintir anak muda yang tertarik membuat batik secara serius dan konsisten. Kegelisahan itu membuat Renny bergerilya ke sekolah dan kampung-kampung untuk mengajarkan pembuatan batik tulis. Biasanya ia mengajar di SD sekali seminggu dan di kampung dua kali seminggu. Misi utamanya agar anak-anak tahu batik tulis lasem itu ada dan abadi.

Secara khusus, Renny juga mendidik anak-anak pembatik Maranatha. Salah satunya, Risma (9), yang sudah lebih dari dua tahun belajar membuat batik tulis dengan dirinya. Saat ini anak yang masih duduk di kelas III SD itu sangat paham proses pembuatan batik mulai dari menggambar motif hingga memberi warna.

"Anak-anak itu adalah bibit yang akan mempertahankan batik tulis lasem di masa depan," tutur Renny.

Saat ini Renny memiliki sekitar 30 pembatik, sebagian diantaranya masih berusia 20-30 tahun. Ia sengaja membayar para pembatik dengan harga sedikit lebih tinggi dari rata-rata. Mereka dibayar Rp 35.000-Rp 60.000 per hari atau Rp 500.000-Rp 700.000 untuk satu kali proses pembuatan. Renny menyadari keberhasilan regenerasi bergantung pada upah dan kesejahteraan pembatik itu sendiri.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Demi Kejayaan Batik Lasem".

    Baca Juga

    • Sejarah Panjang Kebangkitan

      Batik Lasem, Demak, dan Kudus merupakan produk budaya yang memiliki sejarah panjang. Tak hanya penting sebagai bentuk akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa, batik tulis tiga daerah tersebut juga mampu m

    • Kreasi Batik Motif Naga

      Natal dan Tahun Baru, sangat berarti bagi pasangan perajin batik tulis Lasem, Nurrohman juga istrinya, Juhartutik, warga Soditan, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Menjelang perayaan hari besar i

    • Pelestari Motif Batik Garutan

      Domba Garut yang tanduknya khas melingkar hingga ke bawah telinga menjadi inspirasi bagi Iman Romdiana (43) untuk membuat satu motif batik tulis asli Garut, Jawa Barat. Pelestari motif batik tulis dar

    • Siasat Bertahan Batik Priangan

      Perjalanan usaha batik di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, terbentang panjang sejak awal abad ke-20. Melewati masa kejayaan di masa kolonial hingga 1960-an dan meredup selama tiga dekade, kini usah

    • Membangun Optimisme dengan Keunikan

      Langit masih gelap. Waktu baru menunjukkan pukul 04.30, tetapi lima dari 30 kios di sepanjang jalan sempit menuju makam Sunan Bonang sudah beroperasi. Mereka memajang baju dan kain batik, selain berju

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas