Rubrik

sosok > Setia pada Baduy

Sosok Halaman 16 Kompas

Setia pada Baduy

KOMPAS/DWI BAYU RADIUS

Asep Kurnia (52) mendedikasikan dirinya untuk warga Baduy. Ia menjembatani komunitas yang teguh memegang adat istiadat itu dengan birokrasi dan modernitas. Kedekatan pria itu dengan mereka diwujudkan tanpa mengharapkan pamrih.

Asep menerima petai dari seorang warga Baduy seraya tertawa. Ada sekitar 30 tangkai petai yang diantar ke rumah Asep di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (27/4). Petai-petai itu diambil dari kebun warga Baduy sendiri.

Beberapa warga Baduy lain sedang asyik berbincang di rumah Asep. Aroma sambal dan ikan asin yang sedang digoreng menguar di udara. Asep dan warga Baduy makan siang.

Malam harinya, rumah Asep juga digunakan sejumlah akademisi dan warga Baduy untuk berdiskusi. Mereka membahas beberapa kosakata yang sehari-hari digunakan warga Baduy sambil bersenda gurau.

Malam kian larut dan para tamu pamit kepada tuan rumah. Asep mempersilakan seorang warga Baduy yang ingin bermalam di rumahnya.

Suasana itu hanya sedikit gambaran dari kedekatan Asep dengan warga Baduy yang juga tinggal di Desa Kanekes. Di desa itu terdapat warga Baduy Dalam yang mematuhi pantanganpantangan, seperti tak menggunakan peralatan elektronik, naik kendaraan bermotor, dan mengenakan alas kaki. Kelompok lain adalah Baduy Luar yang boleh menggunakan berbagai fasilitas itu.

Asep kerap mengulurkan tangannya kepada warga Baduy Dalam dan Baduy Luar. Kesibukan Asep membantu warga Baduy memuncak pada acara Seba Baduy. Sejak tahun 2008, dia tak pernah absen mengikuti dan membantu acara itu.

Tradisi Seba Baduy adalah agenda terbesar warga Baduy yang melibatkan ribuan orang. Mereka mendoakan sekaligus membawa hasil bumi kepada kepala daerah di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, Lebak, dan Pandeglang, serta Provinsi Banten. Setiap tahun tanggal pelaksanaan Seba Baduy berlainan. Mereka memiliki penanggalan adat sendiri.

Begitu ada kepastian mengenai tanggal Seba Baduy, Asep langsung menghubungi pemerintah-pemerintah daerah tersebut. Warga Baduy Dalam tidak bisa menghubungi pemerintah daerah karena mereka dilarang oleh adat untuk menggunakan telepon seluler. Sebaliknya, jika ada pesan atau permintaan dari pemerintah daerah, Asep akan meneruskannya kepada warga Baduy.

Asep juga setia membawa mobilnya dan mengikuti Seba Baduy. Mobil itu selalu siap jika dibutuhkan seperti membawa tokoh adat Baduy, warga yang sakit, ataupun peralatan. Seperti pada Jumat (28/4), Asep sudah terjaga dini hari untuk memberikan dukungan moril dengan melepas rombongan warga Baduy Dalam. Asep berdiri di depan rumahnya dan menyalami warga yang berjalan kaki untuk melakoni Seba Baduy itu.

"Soal hubungan erat saya dengan warga Baduy, Tuhan yang mengaturnya. Awalnya, saya terdampar di Desa Kanekes," ujarnya.

Gara-gara istri

Asep lahir dan besar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dia bekerja sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Cisolok, Sukabumi. Interaksi Asep dengan warga Baduy berawal saat istrinya, Eros Rosita (44), ditugaskan sebagai bidan di Desa Kanekes.

"Kami menikah tahun 1996. Sebulan kemudian, kami pindah ke Kanekes. Waktu itu, Kanekes belum tersambung jaringan listrik. Jalan juga masih rusak," katanya.

Setelah pindah ke Kanekes, Asep bekerja sebagai guru SMP Negeri 4 Leuwidamar. Dia membantu istrinya berkomunikasi dengan warga.

"Saat itu, mereka masih tertutup. Paraji (dukun beranak) lebih dipercaya. Saya bersilaturahim dengan lingkungan adat. Jika istri bekerja, saya selalu mendampinginya," ujarnya. Asep membutuhkan waktu dua tahun untuk pendekatan hingga dia dan istrinya dapat meraih kepercayaan warga Baduy.

Mereka mulai menaruh kepercayaan kepada pasangan suami istri itu setelah ada warga Baduy yang kesulitan melahirkan pada 1998. Keluarga perempuan itu akhirnya memanggil istri Asep. Berkat pertolongan istri Asep, bayi lahir selamat.

"Keluarga sang ibu terkagum-kagum hingga memberi nama Asep Kurnia untuk bayi itu. Peristiwa itu amat membekas dalam benak saya," kenangnya.

Kesempatan emas yang dimanfaatkan dengan baik itu membuat Asep dan istrinya diterima warga Baduy dengan tangan terbuka. Keberhasilan bidan di Desa Kanekes menyebar dari mulut ke mulut. Asep pun merasakan kedekatan dirinya yang semakin erat dengan warga Baduy.

Dia mengikuti Seba Baduy untuk pertama kalinya pada 2003. Hingga empat tahun berikutnya, dia rutin hadir pada acara itu, tetapi hanya menjadi penonton. Keakraban Asep dengan para pemuka warga Baduy membuatnya dipercaya untuk membantu Seba Baduy.

Asep mengantar warga Baduy dan menjembatani mereka dengan Pemerintah Kabupaten Serang, Lebak, dan Pandeglang, serta Provinsi Banten. "Saya berupaya menerjemahkan atau menjelaskan amanat warga Baduy kepada pemerintah daerah dan sebaliknya," kata Asep.

Sehari-hari, Asep menggunakan minibus untuk membantu warga Baduy. Berkat dedikasi Asep dan istrinya, sebuah perusahaan pengantaran barang memberikan mobil itu pada 2008. Asep sungguh bersyukur semakin dimudahkan untuk membantu warga Baduy.

Semua biaya operasional, termasuk pajak, perawatan, penggantian suku cadang, ditanggung perusahaan yang memberikan kendaraan tersebut. "Itu juga meningkatkan kepercayaan warga Baduy. Entah sudah berapa warga Baduy yang saya bawa ke rumah sakit," katanya.

Asep mengantar warga Baduy yang sakit hingga ke Jakarta. Sejumlah warga Baduy menderita sakit berat, seperti jantung, otak, dan kandungan. Mereka dioperasi di rumah sakitrumah sakit besar. Asep tak pernah meminta imbalan saat mengantar warga yang sakit.

Perusahaan yang sama kembali memberikan mobil kabin ganda dengan penggerak empat roda pada Desember 2016. "Saya tidak berorientasi berdasarkan keuntungan. Sudah ada fasilitas yang memudahkan, tinggal bergerak," ujarnya.

Asep juga menggali informasi tentang warga Baduy dari para akademisi. Semua itu lantas dituliskan dalam buku Saatnya Baduy Bicara (diterbitkan Bumi Aksara dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, tahun 2010).

Kini, Asep sedang bersiap meluncurkan buku lain, Masa Depan Suku Baduy ,yang direncanakan terbit pada Agustus 2017. "Kalau saya memberikan satu kebaikan, suatu saat pasti menerima 10 kebaikan," katanya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Setia pada Baduy".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas