Rubrik

sosok > "Gundul-gundul" Penyelaras Kehidupan

Sosok Halaman 16 Kompas

"Gundul-gundul" Penyelaras Kehidupan

KOMPAS/FRANS SARTONO

Dengan mridangam atau kendang india, pemusik Poovalur Sriji bergaul dengan orang dari segala bangsa. Ia rekaman dengan maestro biola Yehudi Menuhin sampai bermain di Forum Musik Tembi, Yogyakarta. Bagi Sriji, musik adalah ruang pertemuan manusia yang saling menghormati dalam mencari keselarasan hidup.

Suara mridangam yang bentuknya serupa kendang itu bertalu-talu di tengah malam. Gaungnya menyusup ke pedusunan di sekitar Timbulharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika itu, pada 18-20 April, Tembi Rumah Budaya sedang menghelat Festival Musik Tembi. Mridangam ditabuh tangan Poovalur Sriji, seniman, komposer musik klasik India selatan yang puluhan tahun mengajar di Universitas San Diego dan sekarang di University of North Texas.

Di festival tersebut, Sriji, sebagai bintang tamu, tampil bersama sejumlah musisi muda peserta festival. Maestro ini juga menjadi guru yang memberikan lokakarya kepada peserta. Bermain musik bersama, berbagi pengetahuan, dan keterampilan musik memang dilakukan Sriji selama puluhan tahun. Etnomusikolog Rizaldi Siagian melihat Sriji sebagai pemusik yang sangat terbuka menerima dan mempelajari tradisi di luar musik klasik India selatan.

"Sebagai komposer, saya melihat dialog kultural yang muncul dari proses belajar mengajar yang dilakukannya," kata Rizaldi yang banyak membantu program Forum Musik Tembi.

Bagi Sriji, musik itu proses sepanjang hayat. "Kita akan terus tumbuh, tidak bisa berhenti. Kita terus mendapat pengalaman baru. Saya mengajar, itu sangat membantu saya untuk terus belajar," kata Sriji sebelum tampil di Tembi.

"Gurukula"

Ketika memberikan lokakarya ritme tradisi India selatan di Tembi, Sriji menggunakan metode yang digunakan ratusan tahun lalu dalam budaya bermusik di India. Metode itu adalah menghafal dengan cara melantunkan ritme. Bagi Sriji, musik itu satu kesatuan sistem dengan budaya yang melahirkan musik tersebut. Ketika mengajar musik India di luar ranah kulturalnya, Sriji tetap menggunakan metode yang berlaku di India. "Murid-murid saya memang ada yang lalu membuat notasi, tetapi saya mengajar dengan cara menghafal dan melantunkan ritme," kata Sriji.

Ritme dari yang sederhana sampai yang rumit-rumit diajarkan dengan lisan. Apa yang terhafal di kepala dan terucap di mulut itulah yang kemudian dimainkan dalam mridangam. "Kita belajar dengan teknik mengingat dan menghafal. Melantunkan dan mendengar membantu kita untuk mengingat. Dengan teknik itu, kita bisa belajar di mana dan kapan saja. Tanpa catatan, tanpa notasi," katanya.

Sriji belajar musik dengan tradisi gurukula atau serupa nyantrik dalam tradisi Jawa. Dalam gurukula, orang belajar dengan cara tinggal di rumah guru selama beberapa waktu. Mungkin ini semacam residensi dalam bentuk yang lebih intensif karena murid menyatu dengan kehidupan sang guru. Murid yang jadi bagian dari keluarga guru seharian dapat belajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. "Anda belajar dengan mengobservasi, melihat, mendengar guru bermain, dan mengajar murid lain. Guru tidak memberi analisis atau menjawab pertanyaan Anda. Guru memberi contoh, isyarat, atau petunjuk, dan Anda harus pandai-pandai memahami petunjuk."

Sriji mengatakan, seniman-seniman besar India lahir dari tradisi gurukula. Sayang sekali, kata Sriji, sistem gurukula sudah semakin langka. "Gurukula masih ada sampai sekitar 30 tahun lalu, sekarang ini sudah tidak mungkin karena orang tinggal di apartemen yang kecil, ha-ha-ha...," kata Sriji.

Musik itu kebutuhan

Kapan Sriji mulai belajar dan bermain musik? "Saya tidak pernah tahu kapan saya belajar dan mulai bermain musik. Sejauh saya ingat, tahu-tahu saya sudah bermain musik, ha-ha-ha...."

Jawaban itu menggambarkan bagaimana musik telah menjadi bagian dari budaya dan bagian hidup Sriji. Ia mengatakan sudah terinisiasi dengan musik, sejak ia lahir di lingkungan keluarganya. Ia "beruntung" karena nyantrik pada ayahnya sendiri yang juga seniman musik, Sri Poovalur Aventakatraman, 1924-1989.

"Pada usia 3 tahun, saya tentu tidak bisa memilih apakah saya suka musik atau tidak. Karena lingkungan budaya, saya tidak bisa memilih apakah saya akan mengatakan yes atau no untuk menjadi pemusik. Maka, saya pun belajar segalanya," kata Sriji yang mulai mengajar di Universitas San Diego pada 1996.

Dengan bertumpu kuat dan mendarah daging pada musik India klasik, Sriji justru terbuka pada musik mana pun. Ia bisa mendukung album Tabula Rasa (1996) dari banjo jazz terkenal Bela Fleck. Sriji juga terlibat dalam proyek musik bersama L Subramanyam dan Yehudi Menuhin. Musik baginya bukan kotak sempit, melainkan dunia tanpa sekat, yang luas terbuka. Ketika jalan-jalan ke Bali, Toba, atau Thailand, ia merasa bersaudara dengan orang-orang yang lahir dengan tradisi mereka masingmasing.

Rizaldi Siagian menyebut Sriji sebagai salah seorang pemusik pilihan Robert Brown, etnomusikolog yang mencetuskan istilah world music melalui lembaga The Center for World Music. Istilah world music kemudian diadopsi dunia industri sebagai gimmick dagang.

Lebih dari 40 tahun bermain musik dengan orang dari banyak negara, Sriji menganggap musik sebagai kebutuhan. "Saya hidup dari musik dan saya juga belajar hidup dari musik. Saya selalu ingin mengenal yang baru, mendalami, dan menghormati musik mana pun," kata Sriji.

"Musik membawa saya dari India, Amerika, Bali, sampai ke Tembi ini. Dengan musik, saya bertemu dan bermain dengan banyak orang. Saya pun banyak belajar tentang musik yang berbeda-beda. Saya harus tahu bagaimana saya harus menyelaraskan diri dengan mereka," kata Sriji.

Selaras itu membutuhkan kemauan mendengarkan dan memahami suara lain. Dan terbukti, di Festival Musik Tembi, tanpa kehilangan jejak budaya Indianya, Sriji bersama pemusik Indonesia memainkan "Gundul-gundul Pacul". Di tangan Sriji dan kawan-kawan, lagu dolanan karya RC Hardjosubroto itu menjadi bagian dari musik keluarga besar dunia, world music.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul ""Gundul-gundul" Penyelaras Kehidupan".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas