Rubrik

sosok > Kuncup di Jakarta, Mekar di AS


Pheren Soepadhi

Kuncup di Jakarta, Mekar di AS

Karya Pheren Soepadhi (33) mencuri hati para juri ajang International Design Award, Los Angeles, Amerika Serikat, Mei lalu. Dia pun kemudian menggondol tiga sertifikat: juara dua dan tiga kategori Haute Couture dan Wedding Accessories. Karya-karya Pheren dipakai banyak musisi internasional, termasuk Derrick Green, vokalis Sepultura, dan Olof Morck, gitaris band metal Amaranthe. Pheren potret anak muda multitalenta yang berani hidup mandiri di negeri orang.

Pheren Soepadi
KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQPheren Soepadi

Internasional Design Award (IDA) merupakan ajang tahunan bergengsi. Ajang ini melibatkan lebih dari 1.000 karya desainer dari 52 negara. Hal yang dinilai antara lain sisi desain, kreativitas, kegunaan, dan inovasi. "Kemenangan ini berarti banget buatku, tapi kemenangan ini bukan artinya aku langsung ngerasa sukses dan berleha-leha. Ini hanya awal dari karierku di fashion design dan aku kerja tujuh hari dalam seminggu," kata Pheren, awal Juni, dalam perbincangan via Whatsapp.

Pheren mulai membuat aksesori atau hiasan bergaya dark atau gloomy sejak 2011 ketika masih di Jakarta. Setelah terlupakan karena kesibukan lain-terutama memotret-baru pada akhir 2016 Pheren fokus ke desain lagi. Itu karena lulusan Fashion Design di Bunka School of Fashion Japan ini kesulitan menemukan aksesori yang dia inginkan setiap hendak menggelar sesi foto.

Lewat brand Pheren Couture, Pheren mendesain dan merajut sendiri hiasan-hiasan itu.

Semula dia lebih dikenal sebagai fotografer. Ia pernah mempunyai studio foto sendiri di Jakarta. "Karier aku di Jakarta dulu bisa dibilang sudah oke, lumayan mapan. Paruh waktu motret untuk Billboard, RCTI, dan B Channel. Hari lainnya pasti aku di studio, motret atau desain gaun," paparnya.

Suatu hari dia mendapat undangan ke Los Angeles (LA) sebagai fotografer yang masuk city semifinal, Hollywood. Jika menang, dia menjadi Photographer of The Year.

Pheren sempat bimbang karena baru dua bulan sebelumnya pulang dari LA dan tidak punya cukup uang. Tepat seminggu sebelum berangkat, Pheren kelimpahan job motret. "Sempat kaget waktu dapat telepon dari LA waktu itu. Dengan dukungan mama, adik-adik, dan pastinya teman-teman, aku nekat berangkat juga dengan cuma bawa satu koper kecil saja dan kamera," katanya.

Selepas acara, Pheren masih bingung harus berbuat apa. Hingga akhirnya dia dipertemukan dengan Steve Wantania, orang Indonesia yang sudah menetap di LA. Dia yang membujuk Pheren untuk tinggal di LA karena, menurut Steve, masa depannya bisa lebih cerah.

Belajar mandiri

Memutuskan tinggal di LA berarti Pheren meninggalkan segala kemewahan yang biasa dia nikmati di Jakarta. Biasanya dia ada sopir dan asisten yang setia menemaninya menjelajahi Jakarta. Di LA, dia mengerjakan semua sendiri. Ke mana-mana naik bus dan kereta. "The struggle was real . Sampai yang nyasar karena enggak familier sama daerahnya," kenangnya.

Meskipun kompeten memotret, bukan berarti pekerjaan langsung datang, sementara kebutuhan hidup harus terpenuhi. Pheren pernah tidur hanya beralaskan karpet selama tiga bulan karena susah mencari klien.

Untuk bertahan hidup, dia rela bekerja paruh waktu sebagai kasir di restoran Jepang di Beverly Hills dan Santa Monica. Hal itu sangat lumrah di LA.

Namun, Pheren sudah memutuskan untuk tinggal di LA, bahkan pernah berpesan kepada orangtuanya tidak akan balik lagi ke Tanah Air. Artinya, hidup dan mati Pheren tergantung perjuangannya di negeri orang. Tetapi, Pheren yakin, kariernya bisa berkembang bagus meskipun harus mulai dari nol, apalagi di lubuk hatinya dia ingin go international.

Dengan tekad itu, Pheren terus berkarya lewat fotografi. Hingga menang sebagai Photographer of The Year di Academy of Television Arts and Science (2013), dan juga Recognition dari member of Congress, 27th District.

Pheren terus melebarkan sayap dengan mencoba beberapa kemungkinan menuju kesuksesan. Dia pernah menjadi art director musik-musik video di LA dan Miami untuk Sony Music. Dia sambi memotret untuk Hollywood Actors, salah satunya aktor dari Power Rangers dan Pirates of the Caribean.

Dari momen-momen itu, dia mengenal dunia glamor Hollywood. "Butuh beberapa bulan untuk beradaptasi dengan keglamoran dunia Hollywood," katanya. Dari situ dia pun bisa mengenal selebritas dan lainnya di dunia hiburan Hollywood.

Pheren juga semakin kerasan lantaran di tahun ke dua hidup di LA mendapat banyak teman sesama orang Indonesia berkat bantuan Endah Redjeki, pengelola sebuah event organizer yang sudah bertahun-tahun menetap di LA. Dia lalu kenal dengan orang-orang Konsulat Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) di LA, seperti Melany Lintuuran dan Friska Kaunang, yang kemudian menjadi teman baik.

Kebetulan mereka mempunyai ketertarikan yang sama di bidang seni dan koordinator acara. Mereka kerap kerja bareng untuk acara seperti konser-konser artis Indonesia di LA, LA Indonesian Film Festival, dan Indonesian Women Alliance USA. Mereka juga terlibat dalam pembentukan Diplomatic Notes, band yang dibentuk Konjen RI di LA.

Obsesi waktu kecil

Pheren kecil ingin menjadi polisi, guru TK, bahkan penyanyi. Pertama kali manggung waktu TK B untuk acara Natal. Saat SD, Pheren selalu tampil di panggung menari tradisional. Dia ingin menjadi guru TK karena memang suka banget pada anak-anak kecil.

Kegemaran Pheren memotret sebenarnya tertular virus dari ayahnya yang hobi jalan-jalan dan memotret. Dia gemar menggambar gaun pesta sejak SMP. "Setelah lulus dari jurusan Multimedia Arts, dan Fashion Design, aku sempat mikir,gimana, ya, caranya untuk menggabungkan itu semua. Jadilah aku fashion photographer. Tapi, karena aku lebih suka couture, jadinya aku lebih suka kalau desain sendiri, dan dijual sendiri," tuturnya.

Dengan modal itu, Pheren yang sempat kuncup di Jakarta kini mekar di AS.

PHEREN SOEPADHIu Lahir: Jakarta, 22 September 1984u Pendidikan: - Bachelor of Multimedia Arts, Raffles Design Institute, Singapura, 2005- Photography Marketing, Neumatt, Jakarta, 2006- Fashion Design, Bunka School of Design, Jakarta, 2007

u Prestasi, antara lain:- 2nd Prize Winner at International Design Awards-Wedding Apparel, Los Angeles, 2017- 3rd Prize Winner at International Design Awards-Haute Couture, Los Angeles, 2017- 3rd Prize Winner at International Design Awards-Wedding Apparel, Los Angeles, 2017- Photographer of The Year 2013- G.O.D Awards, Academy of Television Arts & Science, Hollywood- Top 3 City Semifinalist (Hollywood)-RAWards, Photographer of The Year 2013 nominee

- Gading Beauty Awards Finalist -Junior Make Up Artist, Jakarta, 2010- Be You (Personality Awards) Finalist, Jakarta, 2008

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Kuncup di Jakarta, Mekar di AS".

    Baca Juga

    • Transjabodetabek Layani Bogor-Jakarta

      JAKARTA, KOMPAS Transjabodetabek, angkutan massal berbasis bus yang berjaringan dengan transjakarta, akan melayani Bogor-Jakarta. Layanan ini sebelumnya sudah ada dengan nama angkutan perbatasan teri

    • Kepanasan di Jakarta

      Mantan gelandang Arsenal, Ray Parlour (44), masih sangat mencintai mantan klubnya tersebut. Namun, ia tidak akan pernah mau jika diminta menjadi pelatih bagi klub berjuluk ”Meriam London” itu. Ia puny

    • Sudahi Kegaduhan Sosial karena Pilkada DKI Jakarta

      JAKARTA, KOMPAS Segregasi sosial antarkelompok masyarakat pascapemilihan kepala daerah, khususnya Pilkada DKI Jakarta, dinilai masih terjadi. Kegaduhan yang timbul dinilai tidak produktif bagi negara.

    • Kuliah dan Kuliah Lagi

      Menunggu setahun, pemain biola Maylaffayza (38) mendapatkan ijazah S-2 Jurusan Creative Media Enterprise di International Design Institute, Jakarta. Berbekal ilmu yang dipelajarinya, Maylaf berharap

    • Bemo Dilarang di Jakarta

      Jakarta, Kompas Mulai 6 Juni 2017, Dinas Perhubungan DKI Jakarta melarang bemo beroperasi di Jakarta. Bemo yang masih beroperasi akan dirazia dan dikandangkan. Empat opsi diajukan pemerintah sebagai

    • Kemacetan Parah Diantisipasi

      JAKARTA, KOMPAS Pemerintah dan kepolisian perlu mematangkan rencana untuk mengatasi potensi kemacetan pada arus balik Lebaran. Kembali diizinkannya truk beroperasi mulai Jumat (30/6) dapat memicu kema

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas