Rubrik

sosok > Oase di Kawasan Pabrik

Sosok Halaman 16 Kompas

Oase di Kawasan Pabrik

KOMPAS/BUDI SUWARNA

Wajah Kampung Randakari terus berubah. Kampung yang dulu dipenuhi sawah dan pepohonan teduh tiba-tiba dikepung oleh pabrik. Sejurus kemudian, Randakari menjadi daerah yang gersang, panas, dan berdebu. Berkat kerja keras Heri Suherman (41), satu RW di Randakari bisa dihijaukan kembali.

Kampung Randakari, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, dikepung sejumlah pabrik dan gudang batubara di bagian kanan, kiri, depan, dan belakang. Hampir setiap hari pabrik-pabrik itu menyemburkan asap pekat dari cerobong-cerobong raksasanya. Ketika kami berkunjung, akhir Mei lalu, cuaca sedang terik-teriknya. Panas matahari terasa mencubit-cubit kulit. Udara kotor oleh debu-debu halus yang melayang-layang disapu angin.

Namun, masih ada setitik "zona hijau" yang menyempil di tengah kawasan pabrik itu. Zona hijau tersebut ada di tujuh RT di RW 001 Randakari. Salah satu yang paling hijau ada di RT 003. Sejak di mulut kampung, pohon-pohon mangga berjejer di sisi jalan. Buahnya lebat berjuntai-juntai menunggu ranum. Lebih jauh masuk ke dalam kampung, kita akan menemukan aneka pohon, seperti jeruk, sawo, belimbing, kedondong, mengkudu, dan pepaya, di pekarangan rumah warga.

Ada pula tanaman sayur-mayur ataupun apotek hidup, seperti cabai, terong, sawi, seledri, daun bawang, serai, sawi, tomat, jahe, kunyit, kencur, binahong, dan kumis kucing, yang ditanam di pot-pot atau polybag yang disusun di rak. Rak-rak tersebut ditata di pekarangan rumah, pagar, dan tepi gang.

Di sebuah rumah yang hijau oleh pepohonan, Heri merawat tanaman tomat, terong, dan sawo secara telaten. Ia bersyukur tanaman itu bisa tumbuh subur dan memberi keteduhan di tengah kawasan pabrik yang panas dan berdebu. "Enggak kebayang kampung ini sekarang bisa hijau," kata Heri yang menjadi motor gerakan penghijauan di kampung itu.

Meski zona hijau itu baru mencakup satu RW, area itu diberi nama Kampung Hijau Randakari. Heri ingin RW-nya memberi inspirasi kepada RW-RW dan kampung-kampung lain untuk menjalankan gerakan serupa.

Bermula dari sampah

Heri menceritakan, ketika ia hijrah dari Garut ke Kota Cilegon, Kampung Randakari masih berupa persawahan yang hijau. Namun, awal tahun 2000, satu per satu pabrik berdiri. Dalam waktu singkat, area persawahan di kampung itu ditelan oleh kawasan pabrik. Dan, tiba-tiba saja Randakari ada dalam kepungan pabrik.

Beberapa tahun kemudian, warga mulai merasakan terjadinya perubahan lingkungan. Kampung kian padat oleh pendatang yang bekerja di pabrik-pabrik. Udara makin panas dan suara bising pabrik kian mengganggu. Selain itu, hujan debu dari sisa pembakaran batubara kerap mengguyur kampung. Banjir juga makin sering terjadi akibat sungai yang tersumbat sampah rumah tangga.

Warga mulai bereaksi dan mencoba mencari solusi. Bersama pemerintah desa, warga merancang program kesehatan dan lingkungan. Sejak awal, program lingkungan yang mencakup pengelolaan sampah dan penghijauan dipegang oleh Heri.

Pada 2015, ia mendirikan bank sampah Berkah Lestari. Ia mengajari warga untuk memilah sampah basah dan kering. Sampah basah dijadikan kompos, sedangkan sampah kering yang memiliki nilai ekonomi dijual kepada pengepul. Hasil penjualannya dikonversi sebagai tabungan warga.

Secara konsep kelihatan mudah, tetapi untuk merangkul warga susahnya minta ampun. Sebagai pendatang dari Garut, kata Heri, kadang suaranya tidak didengar. Selain itu, warga menganggap pengelolaan sampah adalah urusan petugas kebersihan. Heri tidak putus asa. Untuk memaksa warga agar tidak membuang sampah sembarangan, ia menjemput sampah ke rumah-rumah kemudian memilahnya.

Setelah sampah rumah tangga dikelola, warga langsung melihat tumpukan sampah di sungai menyusut sehingga banjir besar jarang terjadi. Sejak saat itu, warga berduyun-duyun mendaftar sebagai nasabah bank sampah. Anggota bank sampah yang awalnya 10 keluarga melonjak jadi sekitar 120 keluarga dari tujuh RT. Setiap anggota bank sampah mendapat uang dari sampah bernilai ekonomi yang mereka setor. Uang itu dikonversi sebagai tabungan yang bisa diambil menjelang Lebaran.

"Tahun lalu, saya dapat Rp 300.000. Lumayan untuk bikin kue lebaran. Saya juga bisa beli gelas dan baju," kata Muflihah, warga RT 003.

Setelah tahu sampah rumah tangga bisa disulap menjadi uang, ibu-ibu di Randakari makin rajin mengumpulkan kardus dan plastik bekas. "Kami sering rebutan kalau menemukan botol plastik bekas di jalan, ha-ha-ha," ujar Santimah, warga lainnya.

Merangkul ibu-ibu

Heri melangkah lebih jauh dengan membuat program Rumah Pangan Lestari. Ia mendorong warga memanfaatkan setiap jengkal pekarangannya untuk ditanami pohon buah-buahan, sayur-mayur, dan tanaman obat-obatan. Modalnya adalah kompos yang diproduksi bank sampah dan bibit gratis. Program ini berhasil menghijaukan Kampung Randakari dan membuat ibu-ibu gembira karena mereka tidak perlu repot-repot ke pasar sekadar untuk beli sayur.

"Kalau mau nyambel tinggal petik cabe, mau nyayur tinggal ambil sawi, bayam, kangkung, terong, tomat. Sisanya bisa dijual. Saya baru saja jual tiga kilo seledri ke tukang bakso. Lumayan duitnya," tutur Muflihah.

Heri memang banyak melibatkan ibu rumah tangga untuk menjalankan programnya karena sebagian besar laki-laki di Randakari sibuk bekerja di pabrik. Selain disertakan dalam program bank sampah dan pangan lestari, ibu-ibu Randakari juga ia dorong ikut program rumah pemberdayaan. Ibu-ibu dilatih membuat kerajinan berbasis sampah dan memasak. "Daripada ngerumpi, lebih baik waktunya dipakai untuk kegiatan produktif," ujar Heri.

Kini, Heri sedang merintis koperasi warga. Ia berharap koperasi itu bisa menyerap kompos, hasil kebun sayur, makanan olahan, dan kerajinan yang diproduksi oleh warga, terutama ibu-ibu.

Heri yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan pabrik gula seperti dirigen sebuah orkestra beragam aktivitas masyarakat yang menginginkan Randakari menjadi oase di tengah kawasan pabrik yang gersang.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Juni 2017, di halaman 16 dengan judul "Oase di Kawasan Pabrik".

    Baca Juga

    • Masa Depan PPSU Dikhawatirkan

      JAKARTA, KOMPAS Pembahasan program dan kegiatan Tim Sinkronisasi gubernur dan wakil gubernur terpilih dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memasuki hari kedua. Muncul isu soal masa depan Petugas Pe

    • Menanti Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

      Pengelolaan sampah kota bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga kewajiban setiap warga kota dan swasta. Konsep itu sudah diketahui masyarakat. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan sampah rumah ta

    • Ribuan Warga Denpasar Jadi Nasabah

      DENPASAR, KOMPAS Kesadaran memilah dan menabung sampah rumah tangga semakin meningkat di kalangan warga Kota Denpasar, Bali. Hingga Selasa (26/7), jumlah nasabah mencapai lebih dari 6.000 oran

    • Tak Lelah Mengedukasi Warga tentang Sampah

      Saat menyebut nama Saharuddin kepada sejumlah warga di salah satu lorong padat penduduk di Jalan Pelita IV, Makassar, Sulawesi Selatan, jawaban hampir sama keluar dari mulut mereka. “Oh, Pak Sahar yan

    • Kunci Pengurangan di Keluarga

      JAKARTA, KOMPAS Sekitar 50 persen timbulan sampah bersumber dari rumah tangga, sisanya dari pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik. Apabila sampah di rumah tangga ini bisa dik

    • Makassar Bangun TPA Bintang Lima

      MAKASSAR, KOMPAS Pemerintah Kota Makassar membangun tempat pembuangan akhir bintang lima sebagai solusi mengatasi volume sampah yang kian banyak di TPA Tamangappa, Antang. Di TPA ini potens

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas