Rubrik

sosok > Pendaur Plastik Bekas dari Megabrata

Sosok Halaman 16 Kompas

Pendaur Plastik Bekas dari Megabrata

Kompas/Dedi Muhtadi

Titi Rihana (59) hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tinggal di Megabrata, sebuah kompleks permukiman berisikan 200-an rumah di selatan Kota Bandung. Namun, Bu Titi-sapaan akrabnya- memiliki talenta khusus, yakni membuat aneka kerajinan dari plastik bekas. Ia menyebut dirinya "pengacara" alias pengangguran banyak acara.

Suatu hari, seorang ibu tetangga Rihana tertarik terhadap tas anyaman plastik yang dipajang di tengah rumahnya. Ibu itu mau membelinya seharga Rp 300.000, tetapi Rihana tidak memberikannya. "Saya lebih senang apabila saya bisa mengajari ibu untuk membuat tas plastik seperti itu," ujar Rihana kepada tetangganya itu.

Singkat kata belajarlah ibu itu bersama 10 ibu-ibu lainnya membuat aneka kerajinan berbahan plastik bekas, setiap Kamis sore di rumah Rihana. Selama ini hasil karya Rihana diberikan secara cuma-cuma kepada para kerabatnya.

Rihana belum mau menjual hasil karyanya, tetapi lebih ingin menyebarkan ilmunya itu, terutama kepada ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) di lingkungannya. Dia berharap ibu-ibu bisa mengisi waktu mereka agar lebih produktif, di samping mengurangi pembuangan sampah dari rumah.

Pikirannya sederhana saja. Baik ilmu keterampilan maupun bahan plastik bekas selama ini diperolehnya secara gratis. Untuk itu, ia ingin menyebarkan keterampilannya itu secara cuma-cuma pula. Diharapkan, mereka menyebarkan lagi keterampilan yang diperolehnya kepada lebih banyak orang sehingga pemanfaatan barang-barang bekas, terutama plastik akan meluas.

Pikiran mulia itu muncul 10 tahun lalu saat ia pindah mengikuti mutasi kerja suaminya dari Bengkulu ke Bandung. Karena lahan di Cekungan Bandung dalam kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum ini bekas sawah rawa, keluarga Rihana harus menguruknya agar tidak banjir.

Sebagian lahan yang dibelinya di Kompleks Megabrata, Kelurahan Margasari, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, itu bekas lahan kosong dan sering menjadi tempat pembuangan sampah warga. "Saat itu tanah yang harus gali dalamnya 1,5 meter dan tanah yang diperlukan untuk urukannya banyak sekali plastik bekas," kenangnya.

Otodidak

Melihat kondisi itu, ia merasa sedih. Plastik-plastik itu, walaupun sudah tertanam selama puluhan tahun tidak hancur atau terurai dalam tanah. Sejak itulah ibu beranak dua ini berniat tidak akan membuang plastik-plastik sembarangan, tetapi memanfaatkannya menjadi barang yang berguna.

"Pemerintah kan memiliki program mendaur ulang sampah plastik. Lagi pula sudah banyak orang yang memanfaatkan sampah plastik, jadi saya tinggal mengikutinya," ujarnya, pertengahan Juni lalu.

Ia pun kerap melihat pameran pengelolaan sampah, di televisi, baca buku, majalah atau koran. Dia pun berlatih sendiri memanfaatkan sampah plastik mulai dari menggunting plastik, membersihkan, menganyam hingga merajut. Aneka produknya berupa bunga, tas atau boneka berdasarkan desainnya sendiri secara secara otodidak pula.

Sejak itu selain tidak membuang plastik bekas di rumahnya, Rihana juga mencari beratus-ratus lembar plastik bekas pembungkus itu ke mal-mal yang ada di Kota Bandung. Berdasarkan pengalamannya memilah, jenis-jenis plastik berbeda-beda. Ada yang lentur, lembut, dan keras, seperti plastik bekas sedotan yang dikumpulkan dari hajatan-hajatan keluarga atau tetangga.

"Ada teman yang ikut kursus membuat barang-barang kerajinan dari plastik bekas, tetapi pola yang saya kembangkan, katanya, lebih praktis dibandingkan dengan kursus," ujarnya. Metode pengajaran yang dilakukannya memang alami karena tanpa buku.

Idenya lebih banyak jadi datang dari ibu-ibu PKK yang ditanya saat mau mulai belajar membuat kerajinan. "Terserah ibu-ibu mau bikin kerajinan apa," ujar Rihana. Setelah mereka menunjuk tas atau bunga, misalnya, lalu mereka mempraktikkannya.

Rihana juga menampung sampah plastik dari tetangga. Malah ada seorang temannya yang pergi ke Mekkah, lalu membawa plastik-plastik bekas pembungkus karena jenis plastiknya di sana lebih halus. "Bu Titi Rihana lebih senang dibawakan oleh-oleh plastik bekas yang masih bagus-bagus," ujarnya menirukan seorang temannya yang pulang dari ibadah umrah itu.

Rihana juga terampil menata rumah dan taman dengan berbagai tanaman obat dan pohon pelindung. Rumah asri seluas 200 meter persegi dengan halaman penuh tanaman obat menjadi salah satu contoh rumah sehat di Kota Bandung. Secara sukarela ia menata taman di depan rumahnya untuk menambah kesejukan kompleks. Ia juga dipercaya mengelola usaha kecil mikro (UKM), terutama berbahan limbah di lingkungannya.

Sulit terurai

Dari berbagai buku yang dibacanya, Rihana paham bahwa sampah plastik sangat sulit diurai alam. Menurut Greeneration Indonesia (GI)-lembaga swadaya masyarakat tentang lingkungan-sampah kantong plastik yang dihasilkan per orang dalam setahun mencapai 700 lembar. Jika dibuang sembarangan, akan sangat mencemari lingkungan karena sampah plastik tidak mudah terurai tanah dan air.

Bayangkan, dibutuhkan berapa ratus tahun untuk menguraikan tumpukan sampah (plastik) yang semakin menggunung dari Kota Bandung. Pasalnya, 2,5 juta warga kota ini menghasilkan 1.500-1.600 ton sampah per hari. Namun, hanya 1.100-1.200 ton yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, 45 kilometer dari Kota Bandung.

Sekitar 250 ton sampah diduga menumpuk di tempat pembuangan sampah liar atau di bantaran sungai. Sampah-sampah itu jika dikumpulkan di satu tempat akan menumpuk seluas lapangan sepak bola dengan ketinggian 75-100 sentimeter. Untuk mengolah 1 meter kubik sampah diperlukan biaya cukup mahal.

Merujuk hasil penelitian Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, paling tidak dibutuhkan Rp 164.000 untuk mengangkut dan mengelola 1 meter kubik sampah dari Kota Bandung menuju tempat pembuangan akhir. Apabila 1 meter kubik sama dengan 1 ton, dengan jumlah 1.200 ton yang terangkut di Kota Bandung, dibutuhkan sekitar Rp 70 miliar!

Meski menjadi tanggung jawab pemerintah, warga sebenarnya bisa ikut berperan mengurangi tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani sampah. Salah satunya dengan mengurangi volume sampah sejak dari rumah lewat proses pemilahan sampah organik dan anorganik. Dengan begitu, biaya yang harus dikeluarkan untuk mengelola sampah tentu bisa lebih rendah.

Penghematan itu bisa dimanfaatkan untuk membiayai sektor pembangunan masyarakat lainnya. "Karena itu, harus ada pengurangan sampah dari warga yang dilakukan dengan pemilahan sampah," ujar Direktur Umum Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung Gun Gun Saptari Hidayat tempo hari.

Seandainya sebagian besar ibu-ibu bisa melakukannya seperti Rihana, Ibu Kota Provinsi Jawa Barat ini tak akan lagi dijuluki "Bandung lautan sampah".

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Juli 2017, di halaman 16 dengan judul "Pendaur Plastik Bekas dari Megabrata".

    Baca Juga

    • Sampah RentanBebani Pembangunan

      BANDUNG, KOMPAs Sebanyak 2,5 juta warga Kota Bandung, Jawa Barat, menghasilkan 1.500-1.600 ton sampah per hari. Namun, hanya 1.100-1.200 ton yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti di K

    • Tempat Pembuangan Sampah Berkurang

      Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mengkhawatirkan makin berkurangnya tempat pembuangan sampah untuk menampung sekitar 4.000 meter kubik sampah warga Jakarta setiap hari. Beberapa tempat pembuanga

    • Duit ”Plastik” di Kantin Sampah Milik Sarimin

      Gema azan maghrib tanda buka puasa terdengar sayup di tengah lautan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Jatibarang, Semarang, Rabu (8/6) sore. Menjinjing sebundel besar sampah plastik, Andi (16) bergega

    • Kakasih Pilah Sampah untuk Masa Depan

      Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 saat ruang tamu berukuran 2 meter x 6 meter milik Asep Dimyati (40) disesaki 14 ibu-ibu tetangganya. Mereka tengah menyusun rencana menyebarkan semangat kemandir

    • Devisa dari Sampah Plastik

      Sampah itu tempatnya di tong sampah. Tetapi, Aisyah Odist (40), warga Lingkungan Banjar Selaparang, Mataram, Nusa Tenggara Barat, dengan kreativitasnya menaikkan gengsi sampah plastik menjadi produk k

    • Bakar Semangat di Usia Senja

      Pengabdian Djajadi (73) pada negara sebagai pegawai negeri sipil berakhir pada 2002 silam. Namun, niat mulianya belum usai. Sejak 15 tahun terakhir, ia menyumbangkan tenaga untuk memberdayakan warga l

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas