Rubrik

sosok > "Tuan Guru" Para Petani


Saufi

"Tuan Guru" Para Petani

Saufi (72) hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SD. Namun, pengetahuannya tentang pertanian tidak kalah dibandingkan dengan para penyuluh pertanian formal. Ia menjadi tumpuan harapan petani di Lombok yang ingin meningkatkan produktivitas sawah dan ladangnya. Tidak heran petani memanggilnya dengan sebutan penuh hormat: "Tuan Guru Petani".

Sebutan "tuan guru" biasanya disematkan kepada tokoh agama di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, lantaran Saufi sering memberikan motivasi serta berbagi pengalaman dan ilmu bercocok tanam, para petani memanggilnya "Tuan Guru Petani".

Saat ditemui beberapa waktu lalu, Saufi sangat fasih bertutur soal cara bertani, pola tanam, cara mengatasi penyakit, dan soal cuaca. Ia tahu betul bagaimana perilaku petani ketika menanam benih padi, kedelai, dan kacang tanah. Biasanya, mereka menanam dengan jarak tanam tidak beraturan. Kadang benih hanya ditabur di hamparan sawah.

"Akibatnya, pertumbuhan tanaman maupun panen padi tidak maksimal. Jika ada satu rumpun tanaman terserang hama penyakit, akan cepat merembet ke rumpun tanaman lain," ujarnya.

Saufi mencoba mengubah kebiasaan yang dari generasi ke generasi dipraktikkan petani. Ia memperkenalkan cara tanam jajar legowo dua berbanding satu, yakni dua galur (baris) tanaman padi diselingi satu ruang kosong.

Ruang kosong itu berfungsi untuk mengatur air, menjadi saluran pengumpul hama keong, serta membuat penggunaan pupuk lebih efisien.

Sistem itu memiliki keunggulan. Semua baris rumpun tanaman di pinggir produktivitasnya lebih tinggi. Petani juga dengan mudah mengendalikan gulma dan hama penyakit.

Saufi juga menekankan perlunya petani memperhatikan cuaca karena ada kaitannya dengan pengendalian hama. Dengan memperhatikan cuaca, petani bisa mengantisipasi lebih awal serangan hama dan penyakit yang mungkin akan datang.

Dokter praktik

Pengetahuannya tentang pertanian dan penguasaan lapangannya tidak kalah dari penyuluh pertanian lapangan meski Saufi hanya putus sekolah di kelas III sekolah rakyat, lulus Paket A tahun 2010.

Berawal sebagai buruh tani yang memberinya banyak pengalaman. Saufi kemudian menyewa lahan milik Pemerintah Provinsi NTB seluas 3 hektar di Lingkungan Renteng, Kecamatan Puyung, Lombok Tengah. Di situlah dia menerapkan pengalamannya. Keberhasilan bertani tidak saja menarik perhatian petani lainnya, tetapi juga mengundang perhatian banyak peneliti dan petani luar daerah untuk melakukan studi banding.

Belakangan, dia mencoba menerapkan cara bercocok tanam padi mengurangi pupuk dan pestisida dengan menggunakan lebih banyak pupuk alami. Tahun lalu, dari 3 hektar sawah, setelah mengurangi pupuk dan pestisida kimia, produksi padinya mencapai 8 ton per hektar atau setara dengan perlakuan memakai pupuk dan pestisida kimia. Namun, dengan perlakuan pupuk alami, daun padi menjadi lebih segar, menghijau, dan batangnya kokoh menopang bulir.

"Saya mau coba lagi tahun ini. Kalau berhasil, saya sosialisasikan kepada petani. Saya merasa puas membantu petani agar mereka berhasil mengelola usaha taninya," ujar Ketua Gapoktan Bismillah, Kelurahan Puyung, Lombok Tengah, itu.

Menurut Saufi, tanaman padi umumnya terserang tungro, blas, dan busung bulir. Blas, misalnya, muncul akibat lahan sawah terlalu banyak kandungan natrium, lama digenangi air yang memengaruhi kelembaban, sekaligus memungkinkan jamur blas beranak pinak. Jamur blas dapat menginfeksi tanaman padi dari proses persemaian sampai menjelang panen. Serangan blas ditandai bercak coklat pada batang tanaman padi.

Kasus-kasus itu menjadi temuannya tiap tahun, seperti di lahan seorang petani di Desa Jurang Sate, Lombok Tengah. Tanaman padinya seluas 60 are terserang jamur blas. Pemiliknya putus asa karena dia tidak tahu cara mengatasinya. Dari pantauan Saufi, lahan sawah itu terlalu banyak digenangi air karena saluran air ke sawah tidak beraturan.

Ia lalu minta saluran air diatur agar tidak terjadi genangan dan setiap dua hari air itu dibuang. Ia minta petani itu membeli obat-obatan untuk memusnahkan blas. Beberapa hari kemudian, ia diminta datang oleh petani itu untuk melihat tanaman padinya yang telah tumbuh subur.

Membimbing petani

Turun membimbing langsung petani, meluangkan waktu "jalan-jalan" memantau kondisi tanaman padi di desa-desa Lombok Tengah bagian selatan menjadi kegiatan Saufi. Jika di satu areal sawah terlihat gejala tanaman padi terserang hama penyakit, ia tidak beranjak sebelum bertemu dan menginformasikan cara mengatasi kondisi tanaman itu kepada petani pemiliknya.

Asalkan petani mengikuti sarannya, dijamin produktivitas padi akan meningkat. Umpamanya, dengan cara lama petani bisa menghasilkan 5 ton gabah. Namun, dengan pendekatan teknologi sederhana, produksi padi bisa mencapai 6 ton. Jika produksi padi hanya 5 ton, padahal petani sudah mengikuti sarannya, ia sanggup menombok selisih yang tidak tercapai itu.

"Alhamdulillah, saran saya selalu diikuti dan saya ndak pernah nombok," ucapnya.

Karena tidak sekadar omong, Saufi berperan sebagai konsultan bagi petani. Malah, ketika awal masa tanam sampai menjelang masa panen, ia ibarat seorang dokter praktik. Banyak petani datang berkonsultasi ke rumahnya. Mereka biasanya membawa tanaman yang terserang hama.

"Saya periksa akar dan daun benih padi yang terserang penyakit, lalu saya kasih tahu jenis obat yang dipakai agar tanamannya bisa selamat sampai dipanen," tuturnya.

Saufi dalam membimbing, menyuluh, dan memotivasi petani berniat ikhlas menularkan pengalamannya.

Ia maklum dengan suasana batin petani yang kurang inovasi dan akses informasi serta petani cenderung mewarisi kebiasaan bercocok tanam para pendahulunya. Untuk mengatasi itu, ia harus bersabar, disertai ketulusan dan komitmen yang kuat.

"Kuncinya di sini, niat tulus dan ikhlas, " ucapnya sembari meletakkan tangan kanan di dadanya.

Dengan pendekatan itu, tidak sedikit kalangan yang semula bekerja sebagai pemborong lalu alih profesi menjadi petani. Seorang tuan guru dan pemimpin pondok pesantren di Lombok berhasil "diprovokasi" agar serius menangani sektor pertanian. Awalnya, tanaman padi yang ditanam di areal 5 hektar tak mencapai target. Bahkan, tuan guru ini mengganti areal sawah untuk budidaya pisang.

Niat tuan guru itu batal setelah Saufi mengajarkan bahkan mengawal cara bercocok tanam padi yang benar, seperti pengolahan, pembenahan saluran air di areal sawah, dan pemberian pupuk berimbang. Cara-cara itu berhasil mencapai produksi padi yang diinginkan.

"Saya selalu dipanggil 'syekh' oleh tuan guru itu," ujarnya terkekeh.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juli 2017, di halaman 16 dengan judul ""Tuan Guru" Para Petani".

    Baca Juga

    • Tanaman Padi Terserang Hama, Produktivitas Turun

      Tegal, Kompas Memasuki musim panen, hama menyerang puluhan hektar tanaman padi di Kecamatan Margadana, Kota Tegal, serta sebagian wilayah Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Serangan h

    • Cuaca Tak Menentu, Hama Serang Tanaman Padi

      Brebes, Kompas Cuaca tidak menentu, yaitu hujan deras yang sesekali diselingi panas, menjadi pemicu maraknya serangan hama pada tanaman padi di wilayah Kabupaten Brebes dan Kota Tegal, Jawa Tengah. Se

    • Wereng Serang 190 Ha Sawah

      PURWOKERTO, KOMPAS Kondisi cuaca yang tidak menentu memicu berkembangnya hama wereng batang coklat. Sedikitnya 190 hektar sawah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diserang hama itu. Petani terpaksa m

    • Masih Ada Panen Raya Padi di Musim Kemarau

      Memasuki Agustus, hujan sama sekali tak lagi turun di wilayah Kalimantan Selatan. Suhu udara pada siang hari hingga mencapai 35 derajat celsius. Titik panas bermunculan di berbagai tempat. Lahan perta

    • 20.000 Hektar Lebih Tanaman Padi Terancam Gagal Panen

      INDRAMAYU, KOMPAS Lebih dari 20.000 hektar tanaman padi di daerah lumbung padi Jawa Barat, yakni Kabupaten Indramayu dan Cirebon, terancam gagal panen pada musim gadu tahun ini. Musim kemarau yang p

    • 42.142 Hektar Tanaman Padi di Jawa Barat Puso

      Bandung, Kompas Akibat kemarau, sejak April hingga pertengahan September ini, luas tanaman padi di Jawa Barat yang gagal panen atau puso tercatat 42.142 hektar. Luas tanaman padi yang puso akibat

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas