Rubrik

sosok > Mandiri dengan Keris


Wahyu Aji Sasmito

Mandiri dengan Keris

Sejak lama, tradisi membuat keris menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan Dusun Banyusumurup, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Wahyu Aji Sasmito (48) berusaha memastikan tradisi itu tidak akan putus dengan mendorong anak-anak muda menekuni usaha pembuatan keris.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Orang-orang di Dusun Banyusumurup tidak tahu persis kapan tradisi membuat keris dimulai di dusun itu. Beberapa sesepuh dusun yakin tradisi itu dimulai ketika Kerajaan Majapahit runtuh dan para empu pembuat keris lari ke sejumlah daerah, termasuk Banyusumurup. Dari mereka, tradisi membuat keris diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.

Seperti kebanyakan warga lainnya, Wahyu yang biasa disapa Aladin sejak kecil biasa melihat orangtua atau tetangganya membuat keris. Ketika duduk di bangku kelas IV, ia mulai belajar membuat komponen-komponen keris. Begitulah, anak-anak Banyusumurup sejak belia telah menjadi bagian dari tradisi pembuatan keris.

Namun, aktivitas membuat keris di dusun itu mengalami masa surut pada era 1980-an. Saat itu, banyak warga memilih merantau ke kota lain untuk menjadi buruh pabrik. Ada juga warga yang meninggalkan dusun untuk mengikuti program transmigrasi di luar Jawa.

Pada 1988 ketika berusia 20-an tahun, Aladin tergoda merantau. Ia mengikuti seleksi kerja sebagai buruh kontrak di Kalimantan Selatan. Namun, dia gagal tes wawancara. Ia lalu berpikir untuk menjadi anggota polisi. Sayangnya ketika akan mendaftar ke Semarang, dia mengalami kecelakaan lalu lintas.

Aladin memilih pulang membawa luka-luka akibat kecelakaan dan semangat yang patah. Namun, tidak berselang lama semangatnya kembali bangkit ketika ia melihat sejumlah orang tua di dusunnya masih setia menekuni pembuatan keris. Ia pun mendapat ide untuk merintis usaha pembuatan keris.

Ia berusaha mengembalikan ingatan dan keterampilannya membuat keris. Selama setahun ia bekerja sendirian hingga seorang warga dusun datang kepadanya mencari pekerjaan.

Meski perlahan, usaha pembuatan keris milik Aladin berkembang. Saat itu, belum banyak pedagang perantara sehingga para perajin harus memasarkan sendiri keris buatan mereka ke kota-kota lain. Di tengah kesibukannya membuat keris, Aladin dan perajin lainnya mesti menyambangi Solo, Semarang, dan Madiun dengan bus untuk jualan keris. Untuk kota yang dekat seperti Yogyakarta, mereka datang dengan sepeda. Dengan cara itu, para perajin bisa menghidupkan terus usahanya.

Tidak puas dengan pasar yang hanya di sekitar Jawa Tengah dan DIY, Aladin pun berupaya merambah pasar yang lebih luas. Ia memberanikan diri menghubungi Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul untuk minta dilibatkan dalam pameran produk kerajinan.

Permintaannya diluluskan pada 1999. Untuk pertama kalinya Aladin diikutsertakan sebagai peserta pameran di Bantul. Sejak saat itu, ia semakin rajin mengikuti pameran di sejumlah kota di seluruh Indonesia. Dia juga aktif mengajak perajin lain terlibat dalam pameran yang membuat keris produksi Banyusumurup perlahan tetapi pasti dikenal luas di sejumlah daerah di seluruh Indonesia. Bahkan, keris buatan Banyusumurup diminati orang asing.

Orang-orang asing, cerita Aladin, kerap datang ke Dusun Banyusumurup untuk berwisata, melihat, dan belajar membuat keris. Setelah itu, mereka akan membeli keris dan memborong aneka cendera mata.

Menoleh

Pada 1997-1998 ketika krisis moneter melanda Indonesia yang disusul dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh secara besar-besaran, warga Banyusumurup yang merantau sebagai buruh di sejumlah kota berbondong-bondong pulang dengan status penganggur. Sepuluh di antara mereka mendatangi Aladin untuk belajar membuat komponen keris.

Aladin menyambut mereka dengan tangan terbuka. Ia mengajari dan menurunkan keterampilannya membuat keris. "Mereka saya pekerjakan sebagai karyawan selama setahun. Setelah itu saya biarkan bekerja dan membuka usaha secara mandiri," ujarnya.

Aladin sadar semakin banyak anak muda yang belajar membuat keris, semakin kokoh tradisi pembuatan keris di Banyusumurup. Karena itu, ia tidak hanya menunggu anak-anak muda itu datang kepadanya untuk belajar membuat keris, tetapi juga aktif mencari mereka, terutama mereka yang masih menganggur atau putus sekolah. Setelah mereka menguasai keterampilan membuat keris, Aladin akan mendorong anak-anak muda itu untuk merintis usaha sendiri.

"Dengan menggerakkan aktivitas membuat keris, setiap generasi muda dari Banyusumurup tidak perlu lagi bingung mencari pekerjaan hingga ke luar kota," ujar Aladin, akhir Juni lalu.

Ia mengajak kami menemui sejumlah anak muda yang telah mentas sebagai perajin keris. Salah seorang di antaranya Dika Widayanto (23) yang dilatih membuat keris sejak berusia 18 tahun. Setahun terakhir ini, ia sudah mampu membangun usaha pembuatan keris sendiri. "Padahal, kakek, bapak, ibu saya, semuanya sama sekali tidak ada yang membuat keris dan komponennya," ujar Dika.

Jalan yang sama dilalui Sudarwanto (30). Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh serabutan selama 10 tahun. Setelah belajar membuat bilah keris dari Aladin, ia berhasil memproduksi bilah keris. Usaha pembuatan keris telah ia jalankan empat tahun terakhir.

Aladin sampai sekarang terus membuka pintu rumah produksi miliknya sebagai tempat belajar bagi siapa saja yang ingin terampil membuat keris. Setiap tahun, rombongan siswa sekolah dan kelompok pemuda datang silih berganti untuk belajar membuat keris. Para pemuda yang datang biasanya sedang kebingungan mencari kerja dan tidak sanggup melanjutkan sekolah.

Semua yang datang dilayani dengan baik oleh Aladin. Dia tidak keberatan ketika akhirnya dari 10 pemuda yang datang, hanya satu orang yang benar-benar mandiri sebagai perajin. "Sekalipun hanya sedikit yang berminat menekuni kerajinan keris, saya tetap optimistis. Dari merekalah semangat membuat keris bisa menular kepada orang lain. Dari merekalah semangat membuat keris tidak akan pernah putus," ujar Aladin yang tidak putus memotivasi anak muda untuk menekuni usaha pembuatan keris.

Dia yakin, lewat usaha pembuatan keris, Dusun Banyusumurup bisa mandiri. Anak-anak muda tidak perlu ke luar dusun untuk mencari pekerjaan karena mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan di kampung sendiri. Jika semua orang meyakini hal yang sama, tradisi pembuatan keris di Banyusumurup akan terus terjaga.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Juli 2017, di halaman 16 dengan judul "Mandiri dengan Keris".

    Baca Juga

    • Muda, Gaul, dan Penyuka Keris

      Medium memengaruhi masyarakat tidak hanya melalui isinya, tetapi terutama lantaran karakteristik mediumnya sendiri, sebagaimana dikatakan Marshall McLuhan (1964) bahwa “medium is the message“. Setidak

    • Belajar Membuat Kue

      Duchess of Cambridge bersama suaminya, Pangeran William, menyempatkan diri belajar membuat pretzel, semacam roti khas Eropa yang berasa sedikit asin. Hal itu mereka lakukan di sela-sela kunjungannya

    • Mengangkat Derajat Bambu buat Bangsa

      Dari sudut Kota Cimahi, Jawa Barat, sejumlah anak muda berbesar hati membanggakan negeri lewat kriya bambu penuh kreasi. Mereka mengolah bambu menjadi alat-alat musik yang dijual dan dipentaskan hingg

    • Penyebaran Keris Jadi Simbol Kebaharian

      JAKARTA, KOMPAS Keris dengan corak dan ukuran sangat beragam tersebar di wilayah Nusantara dan negara-negara serumpun di Asia Tenggara. Proses ini mendorong pusaka tersebut menjadi simbol kebaharian.

    • Kue Kering Perekat Silaturahim

      Lebaran terasa kurang sempurna tanpa berkumpul dengan keluarga. Hal itu kerap dirasakan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Hanya kabar, gambar, dan suara ucapan selamat kepada keluarga yang dapat

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas