Rubrik

sosok > Teman Belajar Mahasiswa


Wily Ariwiguna

Teman Belajar Mahasiswa

Banyak mahasiswa yang kehilangan fokus dalam menjalani perkuliahan. Wily Ariwiguna (38) mencoba menemani mereka belajar di ruang belajar bersama. Kini, ada 120 mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur, yang ikut belajar bersama.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Di tengah kesibukannya sebagai konsultan manajemen, Wily masih menyempatkan diri ngantor di Jalan Cempaka Nomor 1 Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, selama enam hari dalam sepekan. Di situlah, berdiri Ruang Belajar Aqil, sebuah tempat belajar dan taman bacaan masyarakat yang dirintis Wily pada 2010, namun baru resmi berdiri 2015. Ruang Belajar Aqil berada di sebuah rumah warga yang disewa untuk jangka waktu dua tahun. Sebelumnya, ruang belajar itu menumpang di perpustakaan salah satu universitas di Malang, lalu pindah ke sebuah rumah toko berlantai dua di Jalan Soekarno-Hatta, Malang.

Total ada sembilan ruang yang digunakan di rumah sewa itu. Satu ruang depan dipakai untuk perpustakaan. Ada 2.100 judul buku yang terklasifikasi di rak lengkap dengan penomoran. Di luar itu, ada 22.000 judul buku elektronik dengan akses terbatas. Wily menyusun buku koleksi Ruang Belajar Aqil mirip perpustakaan modern milik pemerintah atau lembaga pendidikan.

Adapun ruang utama digunakan untuk mahasiswa yang sedang melakukan riset. Saat ini, ada 14 mahasiswa dari beberapa kampus di Malang yang sedang riset skripsi dan tesis. Aktivitas belajar dan riset di Ruang Belajar Aqil diharapkan bisa membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhir mereka.

Mengapa Wily repot-repot membuat ruang belajar untuk mahasiswa dan anak muda? Wily menceritakan, ia sering nongkrong dan ngobrol dengan anak-anak muda, terutama mahasiswa di warung kopi di pinggir jalan di Malang, seperti di kawasan Dinoyo. Dari situ, Wily menemukan beberapa kelemahan banyak mahasiswa saat ini, yakni kurang disiplin, kurang fokus, tidak bisa menetapkan prioritas. Akibatnya, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah selesai kuliah.

Selamat dari DO

Kebanyakan mahasiswa juga kurang percaya diri saat mengerjakan tugas akhir. Agar mereka bisa percaya diri, Wily dan para sukarelawan Ruang Belajar Aqil memberi dukungan moral, semangat, dan pengalaman. Wily mendorong setiap mahasiswa membaca buku sebanyak-banyaknya pada dua pekan pertama sejak mereka bergabung dengan Ruang Belajar Aqil.

"Apa saja yang mereka baca, baik buku, jurnal ilmiah, maupun hasil penelitian. Jadi saya tidak mengarahkan (seperti bimbingan skripsi), tetapi hanya memberi dukungan dan mendampingi mereka belajar. Progresnya tergantung mereka," ujar Willy.

Dukungan diberikan Wily dan sukarelawan (20 sukarelawan tetap, 70 tidak tetap) hingga mahasiswa menyusun skripsi atau tesis. Mahasiswa diwajibkan presentasi di hadapan teman-teman belajar minimal empat kali mulai gagasan penelitian, proposal penelitian, hasil penelitian, dan babak akhir penyusunan laporan penelitian sebelum diujikan di kampus.

Suntikan semangat itu sangat penting membantu mahasiswa untuk fokus. Wily menceritakan, ia pernah menangani dua mahasiswa perguruan tinggi negeri di Malang yang terancam drop out (DO) jika tidak bisa menyelesaikan tugas akhir. Mereka berdua bolak-balik ke dosen pembimbing untuk revisi skripsi. Setelah mendapat dukungan dari Ruang Belajar Aqil, mereka akhirnya bisa menyelesaikan skripsi dengan baik dan lulus kuliah.

Ia juga pernah membantu mahasiswa melakukan riset yang sulit seperti meneliti pekerja seks komersial laki-laki di Malang. Pengambilan data banyak dilakukan pada malam hari. Hasilnya, penelitian itu bisa diselesaikan dengan baik.

Banyak pengalaman

Wily mengaku beruntung memiliki banyak pengalaman. Laki-laki dengan tiga anak yang sering melakukan perjalanan itu pernah mengikuti berbagai kegiatan di Indonesia dan mancanegara. Ia menjadi pengawas pemilu bersama UNDP pada 2004. Dia pernah bekerja di perusahaan multinasional di Jakarta dan perusahaan kontraktor di Pekanbaru. Ia juga pernah mengajar tentang MDGs dan budaya Indonesia di Polandia pada 2005. Selain itu, ia pernah mengisi seminar dengan khalayak anak muda di Penang, Malaysia.

Pengalaman itulah yang dibagikan Wily untuk memotivasi anak muda, terutama mahasiswa agar terus belajar dan menemukan arah. Bagaimanapun, kata Wily, anak muda adalah generasi penerus bangsa. Ia ingin anak muda itu bisa lebih terarah dan maju dalam hal pola pikir.

Selain membantu mahasiswa menyelesaikan kuliah, Ruang Belajar Aqil juga membantu masyarakat yang kesulitan dana untuk membuat buku. Secara berkala, ruang belajar itu menggelar lokakarya pembuatan buku sederhana yang hanya dibendel, tidak dicetak dengan mesin. Dengan cara itu, ongkos pembuatan buku bisa ditekan. Buku yang diproduksi nantinya menjadi koleksi taman bacaan masyarakat.

Wily merangkul banyak taman bacaan masyarakat yang kini sedang menjamur di Malang Raya. Ia kebetulan menjadi anggota Forum Komunikasi Taman Bacaan Masyarakat yang kini beranggotakan lebih dari 110 pengelola taman bacaan masyarakat se-Malang Raya.

Ruang Belajar Aqil juga memiliki program pendampingan kewirausahaan, virtual sharing. "Kami ingin mendatangkan anak muda dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal di Indonesia untuk ikut belajar di Malang. Sistemnya seperti magang. Misal, mereka kami titipkan di sentra pertanian. Harapannya, saat kembali ke daerah asal, mereka bisa memecahkan masalah di daerahnya," kata pria yang bekerja sebagai konsultan manajemen.

Semua kegiatan itu diberikan secara cuma-cuma. Tidak ada biaya yang mesti dibayar oleh mereka yang ikut program Ruang Belajar Aqil. Para sukarelawan juga tidak mendapatkan gaji, termasuk sang pendiri. Peserta, terutama mahasiswa, hanya diminta terlibat dalam satu proyek literasi untuk masyarakat. "Setelah yudisium, mereka harus pamit. Tidak boleh terus ada di sini," kata Wily yang kerap mencari uang pinjaman untuk mendanai ruang belajarnya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juli 2017, di halaman 16 dengan judul "Teman Belajar Mahasiswa".

    Baca Juga

    • Taman Bacaan Masyarakat Kurang Kekinian

      Karawang, Kompas Program dan kegiatan di sebagian besar taman bacaan masyarakat masih sebatas urusan membaca buku, menggambar, atau kegiatan mendasar lain yang kurang kekinian. Hanya sedikit taman b

    • Menghidupkan Taman Bacaan Masyarakat

      Bermodalkan 50-an eksemplar buku, pada 2011 Leila bersama dua rekannya mendirikan taman bacaan di kampung. Kini, koleksi buku taman bacaan ini telah melampaui 400 eksemplar, sebagian dibeli dari uang

    • Energi Perubahan di Pos Ronda

      Gerakan literasi yang tumbuh dari inisiatif masyarakat tak sekadar menumbuhkan kegemaran membaca buku, tetapi bergerak maju untuk memberdayakan masyarakat. Episentrum gerakan bermula di pos-p

    • Mendampingi Anak Muda Menciptakan Kerja

      “Kompas“, Senin, 17 Oktober 2016, memberitakan tentang jutaan anak muda lulusan sekolah menengah kejuruan yang menganggur. Menjadi tantangan besar bagi kita semua mengingat pemerintah sesungguhnya b

    • Membaca dan Menulis demi Masa Depan

      Halaman Kantor Gubernur Sulawesi Tengah telah menjadi tempat penyelenggaraan Festival Literasi Indonesia, yang merupakan puncak peringatan Hari Aksara Internasioal atau HAI. Direncanakan, Kamis (20/1

    • Tumbuhkan Kebiasaan Membaca di Keluarga

      YOGYAKARTA, KOMPAS Budaya membaca masih perlu ditingkatkan bagi masyarakat Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan kebiasaan membaca di keluarga oleh orangtua kepada anak-anaknya. Lang

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas