Rubrik

sosok > Sang "Sarjana Hutan"


Artim Yahya

Sang "Sarjana Hutan"

Bencana banjir dan tanah longsor akibat pembalakan liar yang melanda Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, membuat Artim Yahya (51) prihatin. Ia lantas mengoordinasi warga untuk menanami kembali kawasan hutan seluas 221 hektar yang gundul lantaran kayunya dijarah. Bencana kini menjauh dari desa itu.

KOMPAS/KHAERUL ANWAR

Artim menceritakan, bencana banjir dan tanah longsor pada tahun 1990-an terjadi setiap tahun di Desa Santong, Kecamatan Kayangan, yang berjarak sekitar 97 kilometer di utara Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat. Bagaimana tidak, hutan yang antara lain berfungsi menangkap curah hujan di desa itu telah gundul. "Hutan lebih mirip lapangan sepak bola (karena pohonnya dijarah)," cerita Artim.

Sebagian pembalak hutan ditangkap dan diproses secara hukum lantas dipenjara. Salah seorang di antaranya masih terhitung saudara Artim yang tinggal di Desa Santong.

Pembalakan kayu di hutan yang kemudian berstatus Hutan Kemasyarakatan (HKm) itu terjadi sebelum 1997. Penyebabnya adalah lahan yang dimiliki warga sangat terbatas. Luas lahan yang tidak seberapa jika diolah hanya menghasilkan uang rata-rata Rp 500.000 per petani. Uang sebesar itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, belum termasuk biaya untuk sekolah anak-anak. Tentu saja tidak cukup. Karena itu, sebagian warga mencoba untuk memperbaiki nasib mereka dengan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Sebagian lagi nekat membalak hutan.

Kondisi yang serba memprihatinkan itu menggugah Artim untuk turun tangan mencarikan solusi. Jalan itu terbuka ketika program HKm masuk ke Desa Santong pada 1997.

HKm adalah hutan negara yang pemanfaatannya diutamakan untuk memberdayakan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan. Kebijakan itu pertama kali dikeluarkan Kementerian Kehutanan pada 1995 dan mengalami beberapa kali revisi. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya hutan secara optimal, adil, dan berkelanjutan, serta menjaga kelestarian fungsi hutan dan lingkungan hidup.

Untuk mengelola HKm, masyarakat mesti mengajukan izin. Artim maju ke depan meyakinkan petugas yang semula meragukan warga. "Kalau hutan (di Desa Santong) tidak hijau lagi, saya jadi jaminannya. Yang penting buat saya, warga diberi hak kelola (hutan) dan hasilnya bisa dinikmati mereka," ujar Artim kepada petugas.

Namun, tantangan juga muncul dari warga sendiri. Sebagian warga ingin mendapatkan hasil instan. Mereka hanya ingin menjadi penggarap lahan orang lain karena langsung mendapat upah dari pemiliknya. "Ada yang bilang, apa kita makan kayu tiap hari," ungkap Artim.

Ada juga yang menolak ikut mengelola hutan. Mereka khawatir kalau nanti pemerintah akan mengambil kembali lahan yang sudah susah-susah mereka hijaukan. Kalau itu terjadi, warga akan gigit jari.

Khotbah Jumat

Menghadapi penolakan sebagian warga, Artim tidak putus asa. Ia terus mengajak dan berdialog dengan warga agar mau menggarap lahan HKm. Bahkan, ia mencoba menyisipkan ajakan untuk mengelola hutan lewat khotbah Jumat. Caranya, ia meminta khatib shalat Jumat agar dalam khotbahnya mengajak warga mengolah lahan HKm.

Strategi ini tidak direspons dan Artim menempuh cara lain. Ia menanami lahan sawahnya seluas 44 are (sekitar 4.400 meter persegi) dengan tanaman keras, seperti cengkeh, durian, kopi, dan coklat. Hasilnya cukup bagus.

Melihat keberhasilan Artim, warga mulai tertarik mengikuti jejaknya. Awal 1997, ada 50 warga yang mulai fokus menggarap lahan HKm. Per kepala keluarga mendapat jatah 1 hektar. Lahan itu ditanami cabai, sirih, vanili, kopi, cengkeh, coklat, sawo, pisang, sengon, mahoni, pala, kemiri, dan durian. Pada Oktober tahun itu juga warga sudah bisa panen cabai hampir setiap hari, belum termasuk panen tanaman lain, seperti umbi-umbian yang ditanam secara tumpangsari.

Munculnya sumber penghasilan baru bisa mendongkrak kesejahteraan warga di desa berhawa sejuk itu. Sebagai gambaran, ketika panen cengkeh pada 2000, ia bisa mengantongi uang Rp 20 juta. Tahun 2016, dari penjualan buah durian, ia mengantongi Rp 5 juta, dan penjualan 3 kuintal kopi Rp 7,5 juta. Sekali panen pisang bisa menghasilkan 300 sisir yang dijual di tempat seharga Rp 4.000 per sisir. "Ini (hasil penjualan pisang) jadi biaya hidup tiap bulan," kata Artim, sarjana hukum yang dipelesetkan warga menjadi "sarjana hutan" karena sangat aktif mengelola hutan. Ia kini mengelola 1,5 hektar lahan hutan.

Penghasilan warga lainnya tidak jauh dari Artim. Dengan penghasilan yang cukup besar, warga bisa menyisihkan penghasilan dari penjualan sejumlah komoditas yang ditanamnya untuk membiayai sekolah anak-anak mereka, membeli sepeda motor, bahkan melaksanakan ibadah haji.

Dari 283 petani yang tergabung dalam Koperasi Maju Bersama-koperasi yang dibentuk para petani Santong-30 petani sudah menunaikan ibadah haji, dan 24 orang menunggu berangkat haji tahun 2017.

Keinginan untuk menjadi TKI dan buruh di lahan orang lain pun perlahan redup. Dulu ada 50-an warga yang menjadi TKI, sekarang tinggal enam-tujuh orang. Mereka ingin mendapat tambahan pendapatan dari luar pengelolaan lahan hutan. Namun, lahan yang mereka tinggalkan tetap digarap oleh istri masing-masing ataupun keluarganya.

Pola pikir

Kesabaran Artim selama bertahun-tahun mengajak warga mengelola hutan kini terasa hasilnya. Selain kesejahteraan warga meningkat, yang lebih penting, pola pikir masyarakat juga berubah. Mereka tidak lagi bergantung hanya pada tanaman padi, tetapi juga menanam buah-buahan dan tanaman lain yang nilai jualnya lebih tinggi.

Kesadaran dan inisiatif warga untuk menjaga lingkungan hutan juga muncul. Mereka membuat aturan bahwa di kawasan HKm hanya dibolehkan menebang pohon untuk pembangunan rumah, bukan untuk dijual. Untuk setiap batang kayu yang ditebang, warga mesti mengganti lima batang pohon dengan jenis yang sama.

Hutan yang kayunya habis dijarah hingga tersisa hanya ilalang kini kembali rimbun dalam beberapa tahun. Sumber mata air yang pernah kering selama puluhan tahun kini berair kembali, sebut saja mata air Lokok Peropa dan Lokok Erat. Yang lebih menenangkan, bencana banjir dan longsor tidak ada lagi.

Apa yang dilakukan Artim dan warga juga menginspirasi banyak orang. Kini, areal HKm di Desa Santong didatangi mahasiswa dan peneliti dari beberapa negara, seperti Filipina, Thailand, dan Amerika Serikat.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Juli 2017, di halaman 16 dengan judul "Sang "Sarjana Hutan"".

    Baca Juga

    • Pembangunan Transmisi Terhambat

      PALEMBANG, KOMPAS Pembangunan transmisi listrik di rute Bayung Lincir, Musi Banyuasin, dan Betung, Banyuasin, Sumatera Selatan, sepanjang 60 kilometer terkendala pembebasan lahan. Dari 125 titik tran

    • Rehabilitasi Kawasan Hulu Rp 257 Miliar

      BANDUNG, KOMPAS Pemerintah pusat menyiapkan dana Rp 257 miliar untuk merehabilitasi rusaknya lahan dan hutan di kawasan hulu daerah aliran Sungai Citarum dan DAS Cimanuk, Jawa Barat. Kedua DAS yang te

    • Hujan: Berkah atau Musibah?

      Kemarin dinanti, hari ini dihindari. Ungkapan ini cukup menggambarkan fenomena yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan hujan. Tiga hingga empat bulan lalu, sebagian besar masyarakat, terutama di P

    • Longsor dan Rapuhnya Hutan Pulau Jawa

      Ketika terjadi bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, 13 Desember 2014, dengan korban jiwa 70 orang, majalah Asian Scientist dalam edisi 29 Januari 2015 mengatakan, “Longsor akan menjadi mim

    • Mengangkat “Harta Karun“ di Pinggir Hutan

      Aktivitas pembalakan liar tidak cukup dihentikan dengan penegakan hukum terhadap pelakunya. Pasangan suami-istri Indriyatno dan Sri Mulyani menawarkan solusi alternatif, yakni memberdayakan pelaku pem

    • Penjaga Hutan Meratus

      Ayal Kosal tak lagi muda. Usianya sudah 75 tahun. Meski begitu, semangatnya untuk menjaga Hutan Meratus tak pernah kendur. Ia bilang, hutan itu harus tetap lestari sampai kapan pun. Ditemui di rumah

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas