Rubrik

sosok > Penangkar Burung Pengembang Masyarakat

Sosok Halaman 16 Kompas

Penangkar Burung Pengembang Masyarakat

Agung Trisnawanto
Agung TrisnawantoKOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI

Pengalaman itu guru terbaik. Klise, kata orang. Tidak bagi Agung Trisnawanto. Pendidikan hanya sampai kelas dua SMP bukan berarti tak punya masa depan. Berbekal pengalaman, pada usia 34 tahun, dia sudah punya rumah megah yang sampai sekarang terus dibangun dengan luas tanah hampir 1.000 meter persegi di Karangtalun, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tiga mobil nongkrong di garasi. Cita-citanya mengembangkan masyarakat yang mandiri semakin mewujud.

Agung, anak penjual burung. Sejak remaja selepas keluar sekolah mengikuti jejak orangtua menjadi pedagang berkeliling kota memikul burung di pundaknya. ”Dalam satu angkatan pikulan, saya membawa 24 burung, depan 12, belakang 12. Enggak berat, tapi karena keliling kota, lama-kelamaaan klenger (kehabisan tenaga),” katanya mengungkap masa lalu di rumahnya, Senin (24/7). Kini, dia berprofesi sebagai penangkar burung yang memasok pasar penjual burung legal jenis apa pun.

Guru kehidupan Agung memang seru. Tahun 1998, dia berjualan di Madiun, Jawa Timur, mengikuti teman. Siang keliling kota, malam tidur sedapatnya. Pernah tidur di Joyo, pasar besar di kota itu, malamnya lari terbirit-birit sampai kejeblos sawah karena dikejar banci. Akhirnya, mendapat tempat tidur yang aman di pemakaman. ”Saya tidur di kuburan, bersama juru kunci di samping bandoso (keranda). Kalau malam ada bunyi krengket-krengket,tandanya akan dapat rezeki karena juru kunci paginya dapat order gali kubur,” kenang Agung sambil tertawa. ”Benar-benar enggak masuk akal, tapi itu benar,” katanya.

Wawancara menjadi meriah karena suara burung jalak, lovebird, murai batu tak berhenti menyela. Di rumah yang dinamai IPB (istana penangkaran burung), Agung dengan rapi mengelompokkan burung sesuai jenisnya. Murai batu dalam satu deretan kandang yang terpisah dengan lovebird. Demikian pula puluhan kandang perkutut berada di ruang yang berjauhan.

”Setelah krisis, banyak kerusuhan, saya ke Bali. Tahun 1999, yang krisis, kan, Jawa, surganya di Bali. Dollar AS menguat, wisatawan meledak di Bali. Alhamdulillah, dagangan laris. Jual burung tiga hari langsung ludes. Saya bahkan mampu menyewa tempat untuk toko burung di Gianyar dan Ubud sampai sekarang,” ujar Agung.

Pengalaman pahitnya, kadang sangkar burungnya ditendang dan dikejar-kejar oleh petugas tim penertiban umum di pulau wisata itu sebelum berhasil menyewa lahan.

Setelah menekuni liku-liku penjualan burung, Agung merasakan, menangkap burung dari alam semakin sulit, padahal permintaan tinggi. Dia pernah mencari pasokan sampai di kota-kota lain, tetapi harga jual menjadi lebih mahal karena harus menambah ongkos transportasi. Tahun 2010, dia pindah ke Imogiri menekuni penangkaran burung supaya bisa terus memasok tokonya di Bali yang kini dikelola orangtuanya. Pasokan meluas tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di Bali, tetapi juga permintaan yang datang dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Desa Wukirsari, tempat tinggal Agung, sejak beberapa tahun terakhir ini dikenal sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Bantul. Perajin batik tulis, tatah sungging wayang, dan bambu masih lestari. Ada pula obyek wisata makam raja-raja Mataram dan makam seniman Sapto Hudoyo. Sedikit banyak, pergaulan dengan pelaku wisata dan turis yang datang ke Wukirsari memengaruhi pemikiran Agung untuk mengembangkan masyarakat di desanya agar semakin siap dengan kepariwisataan.

Gagasannya terus mengalir. Berawal dari penjualan burung, lalu ke penangkaran, dan yang terakhir mulai terwujud di desanya, Agung mendirikan taman wisata pendidikan penangkaran burung. Halaman belakang rumah Agung yang masih luas kini sudah disiapkan untuk menjadi tempat pendidikan sekaligus sebagai tontonan baru bagi wisatawan yang datang ke Wukirsari.

”Nanti kalau semua sudah jadi, di rumah ini hanya sebagai tempat wisata pendidikan penangkaran burung. Jika ada pengunjung yang tertarik untuk membeli atau menangkarkan burung, kami akan arahkan ke rumah penduduk sekitar sini yang sudah siap sebagai penangkar,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Sewaktu menuju rumah Agung, puluhan rumah terlihat sudah memasang papan nama sebagai penangkar burung. ”Ya, rumah penangkaran itu baru beberapa bulan lalu. Mereka kerja sama. Mulai dari yang gampang penangkaran perkutut, bibit dari saya lalu memakai sistem gaduh (bagi hasil),” ujarnya.

Menambah keterampilan

Perkutut termasuk burung yang mudah ditangkarkan. Sehari hanya perlu memberi makan satu kali. Setelah itu, perkutut akan berkembang sendiri, bahkan bisa dilakukan oleh ibu-ibu.

”Istilahnya, sebelum mengantar sekolah anak, kasih makan sebentar setelah itu ditinggal, enggak usah dipantau lagi. Gampang. Jika sudah menetas dan anaknya makin besar, biarkan di kandang, nanti akan menetas lagi,” paparnya.

Perkutut berbeda dengan burung ocehan, burung berkicau semacam murai batu, lovebird, jalak, dan cucak rowo yang lebih sulit penangkarannya. Harga burung dengan kicauan memukau rata-rata mahal. Penanganannya pun sulit.

”Cucak rowo yang paling ribet, tingkat stresnya tinggi. Kalau mengeram terganggu, telurnya akan dipecah, sarangnya dibongkar,” katanya.

Untuk cucak rowo, masih berbentuk telur, orang berani inden (menitip uang). Harga sepasang, umur tiga bulan, bisa Rp 10 juta. ”Kalau cucak rowo berhasil ditangkarkan, bagaikan mendapatkan mesin ATM, sama dengan murai medan sekarang ini pasarannya,” ujar Agung.

Ia sama sekali belum pernah membaca buku tentang burung atau penangkaran. Seandainya ada burung yang sakit, dia juga tidak membawanya ke dokter hewan. Semua berdasar pengalaman, coba-coba (trial and error).

”Nanti, akhirnya, akan dapat jalan juga. Dicoba pakai ini enggak bisa, pakai yang lain, akhirnya bisa. Misal ada burung yang sakit, diberi obat cacing, belum sembuh diberi irisan bawang putih, atau diperbaiki lingkungannya agar burung menjadi nyaman,” katanya.

Agung sekarang melangkah lebih jauh lagi. Penangkar dan penduduk sekitar Karangtalun diberi latihan berbagai keterampilan untuk berjaga-jaga saat burung tidak laku lagi. ”Kebetulan ada dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang mau membantu memberi pelatihan. Bila berhasil, produknya bisa dijual kepada wisatawan yang mengunjungi penangkaran. Penduduk akan semakin mendapat keuntungan, semakin mandiri dan sejahtera,” ucapnya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Agustus 2017, di halaman 16 dengan judul "Penangkar Burung Pengembang Masyarakat".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas