Rubrik

sosok > Terpikat Ukir Borosilikat

Sosok Halaman 16 Kompas

Terpikat Ukir Borosilikat

Andi Rifiyansah
Andi RifiyansahKOMPAS/AMBROSIUS HARTO

Keterpaksaan tak selalu menciptakan keburukan. Bagi Andi Rifiyansah (39), keterpaksaan justru menjadi pintu masuk untuk menekuni kerajinan borosilikat. Bahan kaca itu dibakar, diukir, dan dibentuk menjadi produk kerajinan yang cantik, unik, dan bernilai ekonomi tinggi.

Kisah Andi berawal sejak 1999 di Surabaya, ibu kota Jawa Timur, yang bersebelahan dengan Sidoarjo, tanah kelahirannya. Saat itu, Andi diterima bekerja di pabrik kerajinan kaca yang didirikan oleh pengusaha Indonesia dan Malaysia. Selama enam bulan, Andi dan empat rekannya dipantau dan diseleksi untuk dikirim belajar dan magang menekuni kerajinan kaca borosilikat di perusahaan induk di Kuala Lumpur, Malaysia.

Di Malaysia, Andi magang selama tiga tahun. Dua tahun pertama, Andi mendalami dasar-dasar membuat kerajinan borosilikat, misalnya bagaimana membuat bentuk bulat, kotak, lonjong, lekuk, dan sambung. Satu bentuk terkadang menghabiskan waktu berminggu-minggu. Setahun kemudian, ia menekuni pembuatan produk berdasarkan imajinasi.

Andi berada di Malaysia sampai akhir 2003. Selanjutnya, pemuda itu diminta kembali ke Indonesia. ”Nah, saat saya kembali ke Tanah Air, ternyata perusahaan sudah bubar akibat konflik internal,” ujarnya saat ditemui di bengkel kerja Netha Art & Craft di Jalan Randu Asri 1, Sidokerto, Buduran, Sidoarjo, beberapa waktu lalu.

Kondisi tak terduga itu mengagetkan Andi. Ancaman menganggur sudah di depan mata. Istrinya, Puji Astutik (37), memang bekerja di perusahaan kontraktor proyek pembangunan. Namun, bagaimana dengan Andi?

Keahlian yang dimiliki belum ada yang meminati. Kembali ke Malaysia bukan pilihan karena justru dia diminta pulang ke Tanah Air. Setelah beberapa waktu berproses dan mendapat dukungan istri, Andi mulai membangun usaha kerajinan kaca borosilikat sendiri.

Dengan jaringan kenalan antarperusahaan, Puji menyanggupi untuk mencari, mendapatkan, dan memasok kebutuhan bahan baku bagi suaminya. Andi meminjam modal Rp 15 juta untuk membeli bahan baku dan satu set peralatan pengukiran, antara lain tabung gas dan las. Peralatan dipakai untuk membakar dan membentuk kaca menjadi karakter yang diinginkan. ”Jadi, pada awalnya mendirikan usaha ini karena terpaksa akibat tidak kerja,” kata Andi.

Di kalangan konsumen produk kerajinan kaca, borosilikat yang terbuat dari silika dan oksida boron mungkin lebih dikenal dari nama merek tertentu, seperti Pyrex, Simax, dan Duran. Kaca ini berdaya tahan tinggi terhadap suhu panas dan kejutan tegangan listrik tinggi. Dalam keseharian, kaca jenis ini untuk peralatan dan perlengkapan laboratorium kimia dan biologi. Namun, oleh Andi, kaca dibuat menjadi miniatur Tugu Surabaya, Tugu Pahlawan, Tugu Bambu Runcing, Jembatan Surabaya-Madura, karapan sapi, reog, karakter binatang, makhluk mitologi, bahkan karakter wayang dan komik.

Terkena luapan lumpur

Merintis usaha memang tidak mudah. Usaha dikembangkan dari rumah warisan orangtua di Perumtas I, Tanggulangin, Sidoarjo. Tidak sekadar membuat, Andi juga mengemas, memasarkan, mengantar, bahkan mempromosikan produk kerajinan yang masih baru itu kepada publik. Istri Andi, yang juga sibuk bekerja, tidak bisa banyak membantu.

Saat usaha mulai berkembang, hantaman datang. Pada 2006, bengkel usaha Andi terkena luapan lumpur Lapindo Brantas. Andi memindahkan bengkel ke Perumtas II yang kemudian juga terkena dampak lumpur. Bengkel pindah lagi ke Magersari pada 2007. Di Magersari, bengkel bertahan hampir satu dasarwarsa. Sejak Januari 2017, bengkel pindah ke Sidokerto karena masa sewa bangunan di Magersari sudah habis.

Pada 2007 datang tawaran dari konsumen asal Finlandia. Andi diminta bekerja memproduksi kerajinan kaca di sana dengan upah amat menggiurkan, yakni Rp 2 juta per jam. Dalam sehari, Andi diminta bekerja cuma empat jam. ”Saya tolak karena saya tidak ingin meninggalkan keluarga,” ujarnya.

Kemudian, pada 2010 ada tawaran untuk menjadi dosen kriya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Tawaran itu juga ditolak secara halus oleh Andi karena merasa belum pantas. Ia masih memendam keinginan belajar lebih lanjut ke Australia dan Jepang yang dianggap sebagai yang terdepan dalam produksi kerajinan kaca borosilikat. ”Ada teknik yang belum saya kuasai sehingga belum pantas kalau mengajar,” katanya.

Bertahan

Waktu terus berjalan dan pada tahun 2011 usahanya kian berkembang. Demi membantu suami, Puji keluar dari pekerjaan. Andi dan Puji lantas bahu-membahu mengembangkan usaha. Andi mengurusi produksi dan pengiriman, sedangkan Puji mencari celah dan peluang pemasaran, termasuk di media sosial.

Pesanan terus datang, bahkan bertambah, sehingga mereka kewalahan. Andi sampai harus mempekerjakan dua pegawai untuk pembuatan produk serta dua pegawai untuk pengepakan dan pemasaran. Andi tetap aktif membuat produk yang membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kerumitan tinggi. ”Kalau karyawan, saya minta membuat yang kecil dan sederhana,” ujarnya.

Selama berproduksi ada beberapa model yang membekas di hati Andi. Ia pernah mengerjakan pesanan 300 poci mini untuk cendera mata Istana Kepresidenan, miniatur Patung Arjuna Wiwaha pesanan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, Piala Gubernur Jawa Timur, miniatur naga dan phoenix atau sepasang lelaki perempuan, serta 1.800 cendera mata dari Pemerintah Kota Surabaya. ”Yang terbesar Patung Arjuna Wiwaha, paling lama dibuat dan termahal,” kata penghobi bersepeda itu.

Pemasaran produk menjangkau skala lokal di Jawa Timur. Produk diantar sendiri ke Surabaya, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, dan Malang. Di luar kabupaten/kota itu, produk akan dikirim. Hasil kerajinan Andi juga menjangkau konsumen dari Aceh sampai Papua. Kerajinannya telah dipamerkan di Malaysia pada 2013 dan Singapura pada 2014. Sementara pembeli mancanegara datang dari Jerman, Singapura, Australia, dan Belanda.

”Saya tidak ekspor, tetapi mereka datang sendiri ke sini. Sekali datang, mereka bisa ambil 100-200 buah untuk dibawa ke luar negeri,” ujarnya.

Andi tidak ingin muluk-muluk menjadikan bengkel seperti pabrik berkapasitas massal. Ia ingin menjaga kualitas dan keotentikan produk. Kerajinan tangan adalah sesuatu yang dihasilkan dari tangan, tetesan keringat, dan seluruh daya hidup dalam tubuh yang tak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.

Di Indonesia tak banyak orang yang memiliki keterampilan seperti Andi. Untuk itu, peluang pasar masih besar. Tak ingin melahap peluang itu sendirian, ia tengah menyiapkan bengkel khusus untuk pelatihan kerajinan kaca borosilikat. Ceruk pasar bisa dinikmati bersama-sama.

”Saya belum perlu pindah ke pekerjaan lain, di kerajinan kaca masih kewalahan dan sudah sangat cukup buat saya dan keluarga,” katanya.

Andi mengakhiri percakapan, lalu bergegas menuju bengkelnya untuk kembali berjibaku mengukir kaca borosilikat. Tak hanya memberi keuntungan ekonomi, usaha itu juga merekam budaya Indonesia dalam bentuk seni miniatur yang indah.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Agustus 2017, di halaman 16 dengan judul "Terpikat Ukir Borosilikat".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas