Rubrik

sosok > Seni Tradisi untuk Difabel

Sosok Halaman 16 Kompas

Seni Tradisi untuk Difabel

Marsius Sitohang
Marsius SitohangKOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Marsius Sitohang (64) adalah seorang maestro dan dosen luar biasa etnimusikologi di Universitas Sumatera Utara. Tak hanya mengajar mahasiswa, ia juga mengajar anak difabel. Hal itu menjadi luar biasa karena dirinya mengajar meski tidak bisa membaca dan menulis.

Bahkan, Marsius sebelumnya hanyalah seorang tukang becak yang mencintai musik dan pemain sulim (seruling khas Batak-Toba).

Almarhum ayahnya, Mangumbang, mengenalkannya pada musik. Ayahnya juga merupakan rekan Tilhang Gultom, tokoh kesenian Batak-Toba yang membentuk grup opera Batak lama sekitar tahun 1928.

"Saya bermain sulim itu, ya, dengar-dengar saja dari grupnya bapak. Tetapi, saya belajar sendiri sambil menggembala sapi dan mencari rumput," kata Marsius saat ditemui di TB Silalahi Center di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, akhir Juli lalu.

Ia pun melanglang ke Medan. Sepanjang tahun 1981-1983, ia menjadi tukang becak. Sambil mengayuh becak, ia tetap mencari tambahan dengan bermain musik dari pesta ke pesta. Ia dan delapan rekan, termasuk adik kandungnya, Edward Sitohang, kerap bermain dari pesta ke pesta.

Sekitar tahun 1985, Rizaldi Siagian, seorang pakar budaya Batak, memanggil Marsius ke kampus Universitas Sumatera Utara (USU). Saat itu ia sedang beristirahat di becaknya di halaman kampus itu.

Rizaldi ingin Marsius mengajarkan musik tradisional di USU karena ia tertarik dengan permainan sulimnya. Apalagi, Marsius tak hanya mahir bermain sulim, tetapi juga hampir semua alat musik tradisional batak bisa ia mainkan. "Saya bilang itu ide gila, mana bisa mengajar mahasiswa, sedangkan bangku SD saja tak selesaikududuki. Nulis dan baca juga tidak bisa," cerita Marsius.

Meskipun demikian, karena niatnya untuk mengenalkan musik tradisional Batak Toba dan opera Batak sangat tinggi, ia menerima permintaan itu. Syaratnya, dia tidak mau mengajarkan teori atau menulis di papan tulis, hanya praktik saja.

Ia mengingat kala itu masih diberi upah mengajar sekitar Rp 60.000 per bulan dan dari honor menjadi penghibur Rp 250.000 seharian untuk grupnya. Dia sangat bahagia melakukan pekerjaan yang menurut dia panggilan hidup.

Guru

Kelas pertamanya diisi 20 mahasiswa. Hampir semua mahasiswa itu ia ingat sampai sekarang, apalagi beberapa sudah memiliki nama besar, seperti Irwansyah Harahap, Thomson Hutasoit, dan beberapa etnimusikolog lainnya. Lalu, pada tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikannya gelar Maestro Seni Tradisi. Gelar itu diterima Marsius karena upayanya mempertahankan musik tradisional dan mengenalkannya ke dunia.

Irwansyah Harahap, dosen etnimusikologi di USU, mengungkapkan, Marsius memiliki cara bermain yang luar biasa. Dia bermain musik seperti mendapatkan ilham karena tak bisa diulang.

"Dia itu maestro dan guru kami dalam bermusik. Permainannya tidak bisa diragukan lagi," kata Irwansyah.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Agustus 2017, di halaman 18 dengan judul "Seni Tradisi untuk Difabel".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas